Ahmad Sabiq Robbani
Mahasiswa IAI SEBI
Wartanusantara.id - Suhu global masih di atas rata-rata.Data pemantauan iklim Uni Eropa mencatat suhu permukaan global terus berada di atas ambang normal periode 1991–2020, dengan gelombang panas yang datang lebih awal di sejumlah wilayah dan suhu laut yang tetap tinggi. Laporan Copernicus Climate Change Service mencatat rata-rata suhu udara global pada Mei 2026 menempati peringkat kedua terhangat dalam sejarah pencatatan. Eropa Barat bahkan mengalami gelombang panas yang datang lebih awal dari biasanya, dengan suhu yang dirasakan tubuh manusia mencapai 35–40°C di beberapa area.
Fenomena El Niño mulai menguat. Laporan iklim global memproyeksikan penguatan El Niño dan peningkatan suhu di sebagian besar wilayah dunia pada pertengahan 2026, yang berpotensi meningkatkan risiko kekeringan dan gelombang panas. Kombinasi ini dinilai berpotensi mengganggu ketahanan pangan dan sumber daya air di berbagai negara.
Kondisi di Indonesia
Sepanjang paruh pertama 2026, Indonesia menghadapi cukup banyak bencana hidrometeorologi. Dari total 1.132 kejadian bencana di Indonesia pada Januari–Juni 2026, sebanyak 523 di antaranya adalah bencana banjir — menjadikan banjir sebagai jenis bencana paling dominan. Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) juga jadi perhatian: hingga Mei 2026, jumlah kejadian karhutla mencapai 119 kali, sekitar 11,6% dari total bencana nasional.
Di sisi lain, ada kabar yang relatif melegakan. BMKG menyatakan iklim Indonesia pada 2026 relatif lebih stabil dan tidak seekstrem tahun 2024, dengan suhu rata-rata nasional diperkirakan berada pada kisaran 25–29°C, masih dalam rentang klimatologis normal. Kondisi laut di sekitar Indonesia juga diproyeksikan lebih stabil dibanding tahun-tahun sebelumnya.
Aktivitas geologi tetap berlangsung seperti biasa: laporan mingguan lembaga kebencanaan ASEAN rutin mencatat beberapa gempa signifikan (M>5.0) tiap minggu serta aktivitas vulkanik di gunung-gunung seperti Semeru, Ibu, dan Lewotobi Laki-laki.
Gambaran Besar
Yang membuat para ahli iklim khawatir bukan lagi soal proyeksi masa depan, melainkan apa yang sudah terjadi. Tahun 2024 tercatat sebagai tahun terpanas dalam sejarah pencatatan suhu global, dengan suhu rata-rata global telah melampaui ambang batas 1,5°C dibanding masa pra-industri — angka yang seharusnya baru tercapai tahun 2100 menurut target Kesepakatan Paris. Di Indonesia, dampaknya bukan hanya suhu yang lebih panas, tapi juga peningkatan intensitas dan frekuensi bencana seperti banjir, kekeringan, gelombang panas, dan kebakaran hutan.
Singkatnya: bumi memang makin panas, dan jejaknya terasa nyata — dari gelombang panas di Eropa hingga banjir yang mendominasi bencana di Indonesia. Kewaspadaan terhadap El Niño dan bencana hidrometeorologi tetap perlu dijaga ke depannya.
