Sutan Aditya Nugraha
Teknologi memberikan banyak kemudahan. Namun, kemudahan tersebut juga menghadirkan tantangan baru. Penggunaan media sosial yang berlebihan dapat membuat seseorang sulit mengendalikan waktu, mengurangi aktivitas fisik, mengganggu pola tidur, dan meningkatkan paparan terhadap tekanan sosial di dunia digital.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat bahwa kesehatan mental remaja dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk tekanan dari lingkungan sosial dan pengaruh media. WHO juga menekankan pentingnya pola tidur yang sehat, aktivitas fisik, kemampuan mengelola emosi, serta lingkungan sosial yang mendukung.
Karena itu, tantangan Generasi Z bukan sekadar bagaimana mengikuti perkembangan teknologi, tetapi bagaimana menggunakan teknologi tanpa kehilangan kendali atas kesehatan, waktu, dan kehidupan nyata.
Generasi Z dan Tantangan Gaya Hidup Digital
Generasi Z tumbuh dalam lingkungan yang sangat dekat dengan internet, media sosial, dan perangkat digital. Kondisi tersebut memberikan keuntungan besar karena informasi dan pengetahuan dapat diperoleh dengan cepat.
Teknologi juga dapat membantu Generasi Z belajar, bekerja, membangun relasi, mengembangkan kreativitas, hingga mencari informasi mengenai kesehatan.
Namun, teknologi juga memiliki sisi lain. Penggunaan media sosial yang tidak terkendali dapat membuat seseorang menghabiskan terlalu banyak waktu di depan layar. Aktivitas fisik dapat berkurang, waktu tidur terganggu, dan perhatian mudah teralihkan.
WHO pada 2024 melaporkan adanya peningkatan penggunaan media sosial yang bermasalah di kalangan remaja. Dalam survei terhadap hampir 280.000 anak muda usia 11, 13, dan 15 tahun di 44 negara dan wilayah Eropa, Asia Tengah, dan Kanada, proporsi yang menunjukkan tanda-tanda penggunaan media sosial bermasalah meningkat dari 7 persen pada 2018 menjadi 11 persen pada 2022. WHO juga menekankan bahwa media sosial memiliki sisi positif maupun negatif sehingga yang dibutuhkan bukan sekadar menjauhi teknologi, tetapi membangun kebiasaan digital yang sehat.
Artinya, teknologi tidak harus dianggap sebagai musuh. Persoalannya adalah bagaimana seseorang mengendalikan penggunaannya.
Hidup Sehat dalam Perspektif Islam
Islam memandang kesehatan sebagai bagian penting dalam kehidupan manusia. Menjaga tubuh, pikiran, waktu, dan kehidupan secara seimbang merupakan bagian dari tanggung jawab seorang Muslim.
Islam juga mengajarkan agar manusia tidak berlebihan. Salah satu prinsip tersebut terdapat dalam QS. Al-A'raf ayat 31 yang memerintahkan manusia untuk makan dan minum, tetapi tidak berlebih-lebihan.
Prinsip ini relevan dengan kehidupan modern. Gaya hidup sehat bukan hanya tentang memilih makanan yang baik, tetapi juga menjaga keseimbangan antara aktivitas, istirahat, olahraga, pekerjaan, belajar, dan ibadah.
Kesehatan mental dan spiritual juga tidak dapat diabaikan. Ibadah seperti salat, zikir, dan doa dapat menjadi bagian dari kehidupan spiritual seorang Muslim. Namun, ketika seseorang mengalami masalah kesehatan mental yang serius, pendekatan spiritual tidak berarti menggantikan bantuan profesional. Kesehatan mental membutuhkan dukungan yang sesuai, termasuk bantuan tenaga kesehatan ketika diperlukan.
Dengan demikian, menjaga kesehatan dapat dipandang sebagai bagian dari ikhtiar untuk menjalankan kehidupan dengan lebih baik.
Produktif Bukan Berarti Harus Selalu Sibuk
Dalam kehidupan Generasi Z, produktivitas sering kali dikaitkan dengan banyaknya aktivitas yang dapat diselesaikan. Padahal, produktif tidak selalu berarti sibuk sepanjang hari.
Dalam perspektif Islam, waktu merupakan amanah. Karena itu, produktivitas dapat dipahami sebagai kemampuan menggunakan waktu, tenaga, dan kesempatan untuk melakukan sesuatu yang bermanfaat.
Belajar dengan sungguh-sungguh, bekerja secara profesional, membantu keluarga, berolahraga, berkarya, beristirahat, dan beribadah semuanya dapat menjadi aktivitas yang bernilai ketika dilakukan dengan niat dan cara yang baik.
Dengan perspektif tersebut, produktivitas tidak harus membuat seseorang mengabaikan kesehatan. Justru kesehatan yang terjaga dapat menjadi salah satu modal untuk menjalankan berbagai tanggung jawab.
Lima Kebiasaan Sederhana untuk Generasi Z
Membangun gaya hidup sehat dan produktif tidak selalu membutuhkan perubahan besar. Beberapa kebiasaan sederhana dapat dimulai dari kehidupan sehari-hari.
Pertama, menjadikan ibadah sebagai bagian dari pengaturan aktivitas. Salat dapat menjadi salah satu cara membangun keteraturan dalam menjalani hari sekaligus menjaga hubungan spiritual.
Kedua, menjaga pola makan dan aktivitas fisik. Makanan yang seimbang dan olahraga secara rutin merupakan bagian penting dari gaya hidup sehat. WHO juga memasukkan aktivitas fisik dan pola tidur sehat sebagai bagian penting dalam menjaga kesehatan remaja.
Ketiga, memberikan waktu yang cukup untuk beristirahat. Begadang demi bermain media sosial, menonton video, atau bermain gim sebaiknya tidak menjadi kebiasaan. Tubuh dan pikiran membutuhkan waktu untuk memulihkan diri.
Keempat, mengatur penggunaan gadget. Tidak semua notifikasi harus segera dibuka dan tidak semua konten harus dikonsumsi. Mengurangi penggunaan media sosial yang tidak memberikan manfaat dapat membantu mengembalikan fokus.
Kelima, menentukan prioritas. Membuat daftar kegiatan, menentukan tujuan harian, dan menyelesaikan pekerjaan berdasarkan prioritas dapat membantu penggunaan waktu menjadi lebih terarah.
Menjadikan Teknologi sebagai Alat, Bukan Pengendali
Era digital tidak akan berhenti berkembang. Karena itu, Generasi Z tidak perlu menjauhi teknologi, tetapi perlu memiliki kemampuan untuk menggunakannya secara bijak.
Teknologi dapat digunakan untuk belajar, bekerja, berwirausaha, berkarya, membangun jaringan, dan menyebarkan informasi yang bermanfaat. Pada saat yang sama, kehidupan offline tetap membutuhkan perhatian.
WHO juga menekankan bahwa lingkungan digital memiliki peluang sekaligus risiko bagi kesehatan mental anak muda. Karena itu, literasi digital dan kebiasaan menggunakan teknologi secara sehat menjadi bagian penting dalam menghadapi perubahan tersebut.
Pada akhirnya, gaya hidup sehat dan produktif dalam perspektif Islam bukan tentang mengejar kesempurnaan. Yang lebih penting adalah membangun keseimbangan.
Menjaga tubuh, mengelola pikiran, menggunakan waktu dengan baik, mengendalikan penggunaan teknologi, beristirahat cukup, beraktivitas secara produktif, dan tetap menjaga hubungan dengan Allah SWT merupakan bagian dari upaya menjalani kehidupan secara seimbang.
Teknologi seharusnya menjadi alat yang membantu manusia menjalani kehidupan dengan lebih baik, bukan sesuatu yang mengambil alih kehidupan manusia.
Bagi Generasi Z, menjadi produktif bukan berarti harus selalu online dan selalu sibuk. Menjadi produktif berarti mampu menggunakan waktu, teknologi, kesehatan, dan potensi diri untuk sesuatu yang bermanfaat—bagi diri sendiri, keluarga, masyarakat, dan sebagai bagian dari pengabdian kepada Allah SWT.
Referensi
World Health Organization. (2025). Mental Health of Adolescents.
WHO — Mental Health of Adolescents
World Health Organization Regional Office for Europe. (2024). Teens, screens and mental health.
WHO — Teens, Screens and Mental Health
World Health Organization. (2024). Digital environments and mental health.
WHO — Digital Environments and Mental Health
Kementerian Agama Republik Indonesia. Qur'an Kemenag — QS. Al-A'raf Ayat 31.
Qur'an Kemenag
