Sunday, February 26, 2017

Rahasia Kesuksesan Abdullah bin Abbas, Ulamanya Umat Ini

Abdullah bin Abbas merupakan anak dari paman Nabi Muhammad Saw. yang bernama Abbas bin Abdul Muthalib. Seorang penulis ternama, Khalid Moh. Khalid, mendaulatnya sebagai Kiayinya umat ini (Islam). Ya memang begitu faktanya, banyak orang yang datang dari berbagai penjuru dunia untuk mengikuti pendidikan dan mendalami ilmu pengetahuan kepadanya.

Lalu apa rahasianya?

Ketika Abdullah bin Abbas ra. masih kecil, Rosulullah sering menariknya ke dekatnya, menepuk bahunya serta mendoakan;

“Ya Allah, berilah ia ilmu Agama yang mendalam dan ajarkanlah kepadanya ta’wil.”

Rosulullah Saw. sering mengulang-ulang doa tersebut untuk Abdullah bin Abbas. Suatu saat beliau pernah membonceng Ibnu Abbas ra. di atas kendaraannya, disertai dengan pengajaran yang sangat berharga baginya. Pada waktu itu ia berusia sekitar 10 tahun[1]. Ah memang luar biasa cara mengajar beliau kepadanya walau secara usia masih kecil, terus mendoakan dan mengajar pada waktu yang tepat secara kejiwaan. Ibnu Abbas ra. sudah mengetahui jalan hidupnya, pencari ilmu dan mengajarkannya. Ia bersungguh-sungguh selalu menghadiri majelis Rosulullah Saw. dan menghapal apa yang beliau ucapkan.

Ketika Rosulullah Saw. wafat sebelum Abdullah bin Abbas berusia 13 tahun, ia pun bertekad mencari hadist kepada sahabat-sahabat senior Rosulullah Saw.. Ia pernah bertanya kepada 30 sahabat Rosul mengenai satu masalah. Bahkan pernah ia mendapatkan satu hadist dari seorang sahabat Rosul dengan cara mendatangi rumahnya, kebetulan pemilik rumah sedang tidur. Ia duduk menunggunya di depan pintu rumahnya, sehingga pemilik rumah bangun dan kaget melihat ia yang sedang duduk menunggu di depan rumahnya. Pemilik rumah berkata, “Hai saudara sepupu Rosolullah, apa maksud kedatanganmu? Kenapa kamu tidak suruh orang saja kepadaku agar aku datang kepadamu?” “Tidak, “ ujar Ibnu Abbas ra. “Bahkan aku yang harus datang kepada anda,” lanjutnya. Kemudian Ibnu Abbas menanyakan sebuah hadist dan belajar kepadanya.

Ketika Ibnu Abbas dewasa, ia selalu diajak bermusyawarah oleh amirul mukminin Umar bin Khatab mengenai setiap perkara yang sangat penting. Tiada lain, karena ia memiliki hapalan yang sangat kuat dan keluasan ilmu yang melampau usianya. Maka tidak heran, Khalifah Umar bin Khatab memberi gelar kepadanya ‘Pemuda Tua’

Dialog Ibnu Abbas dengan Kaum Khawarij

Ketika Muawiyah tidak mau tunduk atas kekhilafahan Ali bin Abu Thalib ra., Ibnu Abbas berada di pihak Ali. Setelah peristiwa tahkim, terjadi sebagian pendukung Ali keluar dari barisannya. Mereka disebut kaum khawarij. Ia dikirim oleh Khalifah Ali bin Abu Thalib untuk menemui kaum khawarij. Terjadilah dialog yang sangat mengesankan.

“Hal-hal apa saja yang menyebabkan kalian menaruh dendam terhadap Khalifah Ali?” tanya Ibnu Abbas kepada mereka.

Mereka menjawab, “Ada tiga hal yang menyebabkan kebencian kami kepadanya. Pertama, ia bertahkim pada manusia, padahal Allah berfirman; ‘Tak ada hukum kecuali bagi Allah.’ Kedua, ia berperang tetapi tidak menawan pihak musuh dan tidak pula mengambil harta rampasan perang. Seandainya pihak lawan itu orang-orang kafir, berarti harta mereka itu halal. Sebaliknya jika mereka orang-orang beriman maka haram darahnya. Ketiga, waktu bertahkim, ia rela melepaskan gelar Amirul Mukminin dari dirinya demi mengabulakn tuntutan lawannya. Maka ia sudah bukan amirul mukminin lagi, berarti ia pemimpin orang-orang kafir.”

Ibnu Abbas menjawab, “Mengenai perkataan kalian bahwa ia bertahkim kepada manusia dalam agama Allah, apa salahnya?

Hai orang-orang yang beriman jangalah kamu membunuh binatang buruan, ketika kamu sedang ihram. Barang siapa di antara kamu membunuhnya dengan sengaja, maka dendanya ialah mengganti dengan hewan ternak yang sepadan dengan buruan yang dibunuhnya, menurut putusan dua orang yang adil di antara kamu...’ ( al-Maidah [5] : 95)

Nah, atas nama Allah cobalah jawab, manakah yang lebih penting, bertahkim kepada manusia demi menjaga darah kaum muslimin, ataukah bertahkim kepada mereka mengenai seekor kelinci yang harganya seperempat dirham?”

Mereka kaum Khawarij tertegun, lalu Ibnu Abbas ra. melanjutkan, “Tentang mengenai pernyataan kalian tidak melakukan penawanan dan merebut harta rampasan, apakah kalian menghendaki agar Ali mengambil Aisyah istri Rosulullah itu sebagai tawanan dan pakaian berkabungnya sebagai harta rampasan?”

Wajah-wajah kaum Khawarij malu mendengar logika yang tajam ini, lalu Ibnu Abbas melanjutkan, “Adapun mengenai perkataan kalian bahwa ia rela meninggalkan gelar amirul mukminin dari dirinya sampai proses tahkim selesai, dengarkanlah apa yang dilakukan oleh Rosulullah di hari perdamaian Hudaibiyah, yaitu ketika beliau menyetujui isi perdamaian Hudaibiyah yang telah tercapai dengan kaum Quraisy. Kata beliau kepada penulis, ‘Tulislah, inilah yang telah disetujui oleh Muhammad Rosulullah..’. Tiba-tiba utusan Quraisy memprotesnya, ‘Demi Allah jika kami mengakui sebagai Rosulullah, tentulah kami tidak menghalangimu ke Baitullah dan tidak akan memerangimu. Maka tulislah, inilah yang telah disetujui oleh Muhammad bin Abdullah’. Rosulullah berkata kepada mereka, ‘Demi Allah, sesungguhnya saya ini Rosulullah walaupun kalian tidak mengakuinya.’ Beliau menyuruh kepada juru tulis, ‘Tulislah apa yang mereka kehendaki. Tulis, inilah yang telah disetujui oleh Muhammad bin Abdullah..’”

Dengan jawaban Ibnu Abbas yang sangat tajam dan memukau, sekitar dua puluh ribu orang kembali ke pangkuan barisan Khalifah Ali bin Abu Thalib ra. Ia pernah memberikan nasehat kepada Husein bin Ali ra. dan memegang tangannya agar tidak berangkat ke Kufah untuk memerangi Ziad dan Yazid bin Muawiyah. Husein tetap berangkat ke Kufah. Ketika mendengar kabar Husein bin Ali ra. syahid di Karbala, ia sangat bersedih hati.

Itulah kisah Abdullah bin Abbas ra., sepupu Rosulullah yang luas ilmunya.


Selesai di kaki gunung Gede Pangrango
Sumber utama; buku 60 karakteristik sahabat Rosul karya Khalid Moh. Khalid.




[1] Lihat al-Wafi karya Mustafa Dieb al-Bugha&Muhyidin Mistu hlm. 133

Artikel Terkait