Friday, October 20, 2017

Tujuan Rosulullah Hijrah ke Thaif untuk Mencari Perlindungan Dakwah

Setelah wafatnya Abu Thalib dan Khadijah, kaum Kafir Quraisy semakin gencar mengganggu dan menyakiti Rosulullah Saw. Beliau bersama Zaid bin Haritsah berhijrah ke Thaif guna mencari perlindungan dan dukungannya dari Bani Tsaqif.

Setibanya di Thaif, Rosulullah Saw. Pergi menemui pimpinan bani Tsaqif. Beliau berdakwah kepada mereka, dan mengajaknya untuk mengimani  Allah. Namun mereka menolak mentah-mentah dan berkata kasar kepada beliau. Rosulullah meminta mereka untuk menyembunyikan berita kedatangannya, mereka pun tetap menolak. Lalu mereka mengerahkan para penjahat dan budak untuk mencerca dan melemparinya dengan batu.

Zaid bin Haritsah sekuat tenaga melindungi Rosulullah yang sudah terluka, namun kewalahan, diri sendirinya pun terluka. Mereka berhenti mengejar, setelah beliau dan Zaid bin Haritsah tiba di kebun milik Uqbah bin Rabi’ah.


Setelah terasa tenang bernaung di bawah pohon anggur, Rosulullah Saw. Berdoa;

Ya Allah, kepada-Mu aku mengadukan kelemahanku, kurangnya kesanggupanku, dan ketidakberdayaan diriku berhadapan dengan manusia. Wahai Zat yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, Engkaulah pelindung bagi si lemah dan Engkau jualah pelindungku! Kepada siapakah diriku hendak Engkau serahkan? Jika Engkau tidak murka kepadaku, semua itu tak kuhiraukan karena sungguh besar nikmat yang telah Engkau limpahkan kepadaku. Aku berlindung pada sinar cahaya wajah-Mu yang menerangi kegelapan dan mendatangkan kebajikan di dunia dan di akhirat, dari murka-Mu yang hendak Engkau turunkan kepadaku, hanya Engkaulah yang berhak menegur dan mempersalahkan diriku hingga Engkau berkenan, Sungguh tiada daya dan kekuatan apa pun selain atas perkenan-Mu

Berkat doa Rosulullah Saw., kedua anak Rabiah merasa iba. Mereka berdua memerintah budaknya bernama Addas beragama Nasrani untuk memberikan setandan buah anggur kepada beliau. Setelah setandan anggur itu diletakkan di depan beliau, beliau pun mengambil seraya mengucapkan ‘bismillah’.

Addas takjub lalu bilang, “Tidak ada seorang pun di antara penduduk ini yang mengucapkan kata-kata seperti itu.” Rosulullah Saw. Bertanya padanya, “Kamu dari mana, apa agamamu?” Budak itu menjawab, “Aku seorang Nasrani asli Nainawa.” Rosulullah Saw kemudian berkata, “Berarti kamu dari negeri seorang shalih bernama Anis bin Matta. Dia kaget, lalu bertanya, “Bagaimana kau bisa mengenal Yunus bin Matta?” Rosulullah Saw menjawab, “Dia saudaraku, ia seorang Nabi, aku juga Nabi. “ Addas menunduk, mencium kepala , kedua tangan dan kaki beliau.

Rosulullah Saw. Meninggalkan Thaif dengan perasaan putus asa mengharapkan kebaikan orang-orang Thaif. Walaupun beliau ditawarin oleh malaikat penjaga gunung untuk meratakan dengan diangkatnya terhadap kaum yang telah menentang dakwahnya, beliau menolak dan berharap diantara keturunannya ada yang masuk Islam suatu waktu.

Ketika tiba di perbatasan kota Mekkah, Zaid bin Haritsah bertanya kepada Rosulullah Saw. Bagaimana cara masuk ke kota Mekkah. Sementara kaumnya telah mengusirnya. Beliau menjawab, “Wahai Zaid, sesungguhnya Allah pasti akan menciptakan kelonggaran dan jalan keluar dari masalah yang engkau lihat. Sesungguhnya Allah akan menolong agama-Nya dan memenangkan Nabi-Nya.”
Rosulullah Saw. Mengutus seorang laki-laki dari bani Khuza’ah kepada Al-Akhnas bin Syariq dan Suhail bin Amr untuk meminta jaminan keselamatan beliau. Namun keduanya menolak. Lalu utusan tersebut menemui Muth’im bin Adi meminta jaminan. Dia bersedia sebagai penjamin keselamatan beliau di kota Mekkah.

Muth’im bin Adi mengumumkan kepada kaumnya untuk segera mengambil pedang untuk melindungi Nabi. Dan mengumumkan kepada khalayak Quraisy, bahwasanya dia telah menjamin perlindungan beliau. Beliau bersama Zaid bin Haritsah aman memasuki kota Mekkah, dan beliau memasuki Masjidil Haram melaksanakan shalat 2 rakaat.

Abu Jahal mempermasalahkan ini seraya bertanya kepada Muth’im bin Adi, “Apakah engkau sekedar memberi jaminan perlindungan ataukah pengikutnya?”

“Aku hanya memberi jaminan perlindungan,” jawab Muht’im bin Adi.

“Kalau begitu, kami akan melindungi siapa pun yang engkau lindungi, “ kata Abu Jahal.

Rosulullah Saw. menyusun kembali rencana strategi dakwah. Setelah ini, beliau merencanakan berdakwah kepada kabilah-kabilah luar Mekkah yang tiap tahun beribadah haji.

Selesai di Kaki gunung Gede Pangrango

Referensi :
Sirah Nabawiyah karya Muhammad Said Ramadhan al-Buthy
Sirah Nabawiyah karya Abu Bakar Jabir Al-Jazairi

Sirah Nabawiyah karya Shafiyyurrahaman al-Mubarakfuri

Artikel Terkait