Saturday, April 7, 2018

Sulaiman al-Qanuni (Solomon The Magnificent)


Sulaiman al-Qanuni merupakan Sultan Turki Utsmani terbesar, disebut juga Sulaiman I. Ia adalah putra sultan Salim I. Melalui ayahnya, ia memperoleh pelajaran dan ilmu tentang seni berperang dan seni berdamai. Delapan hari sebelum ayahnya meninggal, yakni tanggal 30 Spetember 1520, ia diangkat sebagai raja Turki (Sultan Turki) untuk menggantikan ayahnya. Sebelumnya, ia menjabat sebagai gubernur di Maghnisa. 

(Masjid Agung Sulaiman di Turki/Republika)
Masa pemerintahannya adalah yang terpanjang dibanding dengan sultan-sultan lainnya., yakni tahun 1520 sampai 1566. Dalam masa pemerintahannya, dia banyak meraih kemenangan dalam berbagai perang. Tahun 1521, dia berhasil menguasai Beograd (sekarang ibu kota Serbia, Yugoslavia) dari sini terbuka jalan menuju Hongaria. Pada bulan Agustus 1524 pasukan Hongaria berhasil dilumpuhkan hingga sebulan kemudian ibu kota Hongaria, Budapest, direbut. Dua tahun sebelumnya, tepatnya tahun 1522, dia berhasil merebut sebuah pulau strategis, Rhodos. Pada saat itu, Rhodos dikuasai oleh Knight of Saint John (Ksatria Santo Yohanes). Karena strategis, di pulau itu dibangun markas besar para pembajak untuk menghalang-halangi hubungan Turki dengan negara-negara Islam lainnya. Kota Nice, pangkalan angkatan laut di bagian tenggara Perancis, berhasil direbut dari Francois I. Pada tahun 1531, dia meraih kemenangan dalam perang dengan Austria setelah dua tahun sebelumnya dia mencapai gerbang kota Wina dan mengepungnya. Pada tahun 1532 dia memimpin perang melawan Karel V, raja Spanyol. Pasukan Spanyol waktu itu berada di bawah komando Laksamana Genova Andrea Dorya.


Pada tahun 1533, Sulaiman mengumumkan kesediaanya untuk menerima tawaran berdamai dengan Perancis. Namun, perdamaian baru terlaksana pada tahun 1535 dan diputuskan di Baghdad. Perdamaian yang dianggap sebagai perjanjian konsesi ini menyangkut bidang militer dan ekonomi. Berdasarkan perjanjian ini, Perancis diberi hak untuk menjalankan perdagangan perlayaran di daerah-daerah kekuasaan Turki Utsmani dengan membayar 5% dari pajak. Selain itu, perjanjian juga menyatakan bahwa persaingan-persaingan di Perancis harus diselesaikan sesuai dengan undang-undang negara mereka sendiri dan mereka diizinkan untuk menjalankan ritus-ritus keagamaan mereka . mereka juga diberi hak untuk melindungi relikwi agama Kristen di Yerusalem. Perjanjian juga mengizinkan seluruh umat Kristen di negara Turki Utsmani untuk mendapatkan perlindungan Perancis. Namun, perjanjian ini diakhiri dengan Perjanjian Cateau Cambresis setelah Charles V turun takhta pada tahun 1559.

Pada tahun 1534 Sulaiman membangun Armada laut yang pertama untuk menghadapi perlawanan pasukan Kaisar Karel V. Armada lautnya diperkuat oleh Admiral  laut yang cakap, Khairuddin Barbarossa, yang sangat disegani oleh armada Spanyol., Genoa, dan Valentina. Pada tahun yang sama, Sulaiman juga melakukan penyerangan terhadap kekuatan Persia, di bawah kekuasaan Tahmasp bin Isma’il as-Safawi. Perang berlanjut selama dua tahun dan Sultan Sulaiman berhasil merebut Tabriz. Sengketa Turki Utsmani dengan Persia sebenarnya telah berlangsung sejak lama. Sebelumnya, perang besar pecah pada tanggal 6 September 1514 di Chaldiran, dekat Tabriz. Berkat keunggulan yang dimiliki Turki Utsmani, Sultan Sulaiman terus melakukan penyerangan pada tahun 1538, dan pada tahun 1554 dia menyerbu Azerbaijan. Perang diakhiri dengan perjanjian perdamaian Persia-Turki pada tahun 1555.

Pada tahun1537, Sultan Sulaiman memerintahkan Admiral Kahiruddin Barbarossa untuk menguasai laut Aijah (Aegea), yang terletak di antara Turki dan Yunani, dalam tempo tiga tahun. Pada tahun 1543 Barbarossa mengepung pantai Italia untuk kemudian menguasai pelabuhan Nicea. Pada tahun yang sama, Sultan Sulaiman berhasil memasuki kota Budapest dan berhasil menguasai gereja besar yang kemudian diubah menjadi masjid besar. Di masjid inilah dibuatkan kantor administrasi kekuasaan Turki Utsmani di kota itu. Pada tahun 1548 dia berupaya menguasai Gharan, tetapi akhirnya Ferdinand menyelesaikannya melalui perundingan dengan Sultan Sulaiman untuk beberapa tahun.

Memasuki tahun1550, Sultan Sulaiman mendirikan Universitas as-Sulaimaniyyah. Arsitek pembangunannya diserahkan kepada arsitektur kenamaan, Sinan. Demikian pula arsitek pembangunan istana, hotel, rumah sakit, lembaga pendidikan al-Qur’an dan Masjid.
Bagi masyarakat Turki Utsmani, Sulaiman dikenal dengan sebutan al-Qanuni (Si Pembuat Undang-Undang). Di kalangan Eropa, ia dikenal dengan nama ‘Solomon the Magnificent” atau “Solomon the Great” (Sulaiman yang Agung) karena luasnya negara Turki Utsmani dan perkembangan kekuatan negara selama pemerintahannya. Sultan Sulaiman juga dikenal sebagai penyair, walaupun dia belum pernah mencapai derajat ayahnya dalam bidang ini. Karyanya, antara lain, beberapa gazal dan diwan (kumpulan syair). Dia menulis salinan al-Qur’an dengan tangannya sendiri, dan kini disimpan dengan baik di Masjid Agung Sulaiman (dibangun tahun 1550-1560). Di Baghdad dia memperbaiki makam seorang Mujtahid (ahli ijtihad) terkemuka, Abu Hanifah (Imam Hanafi), pendiri mazhab Hanafi, dan di Konia memperbaiki makam Maulana Jalaluddin ar-Rumi.

Sultan Sulaiman wafat pada tahun 1566 di dekat kota Szigetvar, Hongaria, sewaktu ia memimpin pertempuran merebut kota itu. Jenazahnya dimakamkan di Masjid Agung Sulaiman, di Constantinopel (Istanbul).

Keterangan : artikel ini diambil dari Ensiklopedi Islam jilid 4 (Departemen Pendidikan Nasional tahun 2002)

Artikel Terkait