Monday, June 29, 2020

Seberapa Efektif Penerapan New Normal di Indonesia?

Seberapa Efektif Penerapan New Normal di Indonesia?

Oleh Ayu Safira




Beberapa wilayah di Indonesia sudah mulai menerapkan New Normal sejak awal Juni kemarin. Setelah memberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar dari awal April, Pemerintah Indonesia mempertimbangkan pemberlakuan New Normal. Sektor perekonomian menjadi salah satu alasan kuat mengapa New Normal ini diterapkan, karena sektor ekonomi termasuk yang paling tertekan akibat dampak dari pandemi. Banyak perusahaan yang terpaksa memberhentikan karyawannya, juga banyak UMKM yang berhenti sehingga roda perekonomian tidak jalan. Himbauan untuk di rumah saja pun menyebabkan banyak kepala keluarga yang tidak dapat penghasilan sehingga konsumsi rumah tangga ikut menurun.


Terhitung ada 102 kabupaten dan kota yang termasuk dalam kategori zona hijau dan tidak memiliki kasus COVID-19 sehingga memenuhi kriteria wilayah yang diperbolehkan menerapkan New Normal. Sebagai langkah percepatan penanganan COVID-19 dalam bidang kesehatan, sosial, dan ekonomi, diharapkan masyarakat dapat menjalani New Normal dan berkegiatan di luar rumah dengan tetap mematuhi protokol kesehatan. Sejak New Normal diterapkan, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartanto menyatakan bahwa ekonomi mulai naik. Beberapa sektor memang mengalami penurunan dari akhir maret sampai April tersebab pandemi.


Banyak yang menilai Indonesia tidak cukup siap untuk menerapkan New Normal, karena dilihat dari jumlah kasus COVID-19 yang terus naik setiap harinya. Media Australia pun menyebutkan Indonesia menjadi hotspot baru COVID-19 karena tertinggalnya Indonesia dengan negara Asia lain dalam penanganan virus ini. Tetapi Presiden Jokowi menyatakan bahwa kebijakan Pemerintah dalam menerapkan New Normal ini berbasis data sains. Dijelaskan oleh Ketua Tim Pakar Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19, Wiku Adisasmito, bahwa Pemerintah menerapkan kebijakan New Normal berdasarkan peta zonasi, kapasitas sarana dan prasarana, serta fasilitas kesehatan.


Selama new Normal, banyak sektor yang kurvanya naik seiring dengan naiknya kasus positif COVID-19. Lantas efektifkah penerapan New Normal? Kebijakan pemerintah ini berusaha membiasakan masyarakat untuk menjalani tatanan hidup baru dengan memperhatikan protokol kesehatan. Pemerintah juga tidak bisa menghimbau masyarakat untuk terus berdiam diri di rumah, dengan banyak alasan yang menjadikan masyarakat tidak produktif, turunnya pendapatan, dan lain-lain. Dengan menyikapi kebijakan pemerintah, masyarakat benar-benar harus menjaga imun untuk mencegah penyebaran virus lebih luas lagi.


Dengan keadaan seperti ini, Pemerintah dan masyarakat harus bersinergi dalam melawan virus. Pemerintah dapat mengatur kebijakan dengan memisahkan antara wilayah yang terdampak dengan zona hijau, melakukan pengecekan yang setara dengan jumlah penduduk, dan lain-lain. Masyarakat pun juga harus disiplin dengan protokol kesehatan yang sudah ditetapkan pemerintah. Pakai masker, rutin mencuci tangan atau pakai handsanitizer, tetap menjaga jarak social, dan lain-lain. Dengan begitu, kita masing-masing dapat mengupayakan berjalannya New Normal secara efektif.


Ditulis oleh : Ayu Safira

Mahasiswi STEI SEBI, Penerima Beasiswa Sarjana Muamalat 


Artikel Terkait