Thursday, July 16, 2020

Bagaimana Kerja Keras dalam Pandangan Islam?

Bagaimana Kerja Keras dalam Pandangan Islam?
Oleh Hanesta Maulana Ikhsan Adipradana


Dalam memenuhi kebutuhan hidup sehari- hari manusia harus bekerja. Karena di zaman sekarang uang adalah faktor terpenting dalam memenuhi kebutuhan hidup. Dengan bekerja manusia baru akan mendapatkan hasil, yaitu uang dari upah bekerja. Dalam dunia kerja di seluruh dunia semuanya harus bersaing demi mendapatkan uang untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia. Apabila kalah dalam persaingan tersebut, maka bersiaplah untuk kehilangan pekerjaan tersebut. Terkhusus di Indonesia banyak pekerja asing yang bekerja hampir di seluruh perusahaan dan pabrik. Maka dari itu, apabila masyarakat Indonesia lengah, bermalas-malasan, tidak bekerja keras, akan tidak mungkin seluruh perusahaan dan pabrik di Indonesia dikuasai oleh pekerja asing. Oleh karena itu, masyarakat Indonesia harus bekerja keras dalam bersaing di dunia kerja. Agar tidak tertindas oleh pekerja asing yang mulai sedikit demi sedikit mengambil posisi yang sebenarnya bisa di lakukan oleh pekerja dalam negeri.


Definisi Kerja Keras adalah suatu pekerjaan yang dikerjakan secara sungguh-sungguh. Pekerjaan tersebut dilakukan tanpa mengenal lelah, atau berhenti sebelum mencapai target yang diinginkan. Bekerja keras juga selalu mengutamakan kepuasan hati pada setiap aktivitas yang dilakukan. Itulah makna yang dapat menggambarkan arti bekerja keras. Secara istilah, kerja keras memiliki makna semangat yang berkobar, memiliki kemampuan dan kemauan besar. Semua akan dilakukan secara sungguh-sungguh untuk mencapai hasil maksimal. Kemudian, manfaat dari bekerja keras itu sendiri adalah kita bisa membantu mengembangkan potensi diri, kita dapat membentuk pribadi yang senantiasa selalu bertanggung jawab, akan dapat meningkatkan taraf hidup dan juga kesejahteraan, mampu mencukupi kebutuhan hidup dan mampu mengangkat harga serta martabat hidup. [1]


Kerja keras menurut perspektif Islam adalah salah satu hal yang diajarkan oleh ajaran Islam. Bahkan, umat Islam diwajibkan untuk selalu bekerja keras. Kewajiban untuk selalu bekerja keras ini telah dijelaskan dalam Al- Qur’ an surat al Qashash ayat 77, “Dan carilah (pahala) negeri akhirat dengan apa yang telah Dianugerahkan Allah kepadamu, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah Berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sungguh, Allah tidak Menyukai orang yang berbuat kerusakan”.  Ayat di atas menjelaskan bahwa kita harus mencari pahala di dunia untuk bekal akhirat dan berbuat baiklah kepada orang lain. Kemudian, janganlah kalian sekali- kali merusak yang ada di alam semesta ini. Karena Allah selaku pencipta kita tidak menyukai perbuatan tersebut. [2]


Etika Kerja Keras Menurut Perspektif Islam Adapun etika dalam bekerja menurut perspektif Islam, sebagaimana sabda Rasulullah: “Tidaklah sekali-kali seseorang makan-makanan yang lebih baik daripada makan dari hasil kerja tangannya sendiri, dan sesungguhnya Nabi Daud juga makan dari hasil kerja tangannya sendiri” (HR. Bukhari). Karena itu betapa pentingnya bekerja dalam Islam, maka ada etika atau adab-adab tersendiri dalam bekerja, di antaranya, yaitu bekerja dengan ikhlas karena Allah SWT. Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya amal kerja itu tergantung pada niatnya, dan sesungguhnya orang itu tergantung dari apa yang diniatkannya itu” (HR. Bukhari dan Muslim). Hadist tersebut menjelaskan tentang semua pekerjaan itu akan dinilai dengan niatnya. Apabila berniat karena Allah, maka insyaAllah akan dimudahkan segala urusannya. Dan apabila diniatkan bukan untuk dipandang oleh orang lain, maka akan mendapatkan apahal dari Allah SWT. Kemudian, bekerjalah sesuai dengan aturan, dengan tidak melanggar prinsip- prinsip syari’ah. Allah SWT. berfirman : “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul dan janganlah kamu merusakkan (pahala) amal-amalmu” (QS. 47:33). Hadist ini menjelaskan untuk kita tidak menyimpang dari perintah Allah SWT. dan ajaran para Rasul. Karena dengan mengikuti perintah- Nya dan menaati ajaran- Nya insyaAllah akan dipermudah segalag urusan dan setiap urusan akan mendapat pahala dari Allah SWT. Kemudian, bekerja dengan sebaik- baiknya (Ihsanul Amal) sabda Rasulullah: “Sesungguhnya Allah mewajibkan ihsan dalam segala hal. Jika kalian membunuh (hewan) maka bunuhlah dengan baik. Jika menyembelih, sembelihlah dengan cara yang baik. Hendaklah seseorang diantara kamu menajamkan pisaunya dan menenangkan sembelihannya” (HR. Muslim). Hadist ini mengingatkan kita agar bekerjalah dengan baik dan sesuai aturan. Karena apabila kita mengikuti segala aturan insyaAllah segala urusan kita akan dipermudah. Kemudian bekerja dengan penyelesaian yang baik dan profesional (Itqanul Amal), Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya Allah mencintai jika seseorang melakukan suatu pekerjaan maka dilakukannya secara Itqan (profesional)” (HR. Thabrani). Kemudian, jujur dan amanah dengan dalil “Pebisnis yang jujur lagi terpercaya (amanah) akan bersama pada nabi, shiddiqin, dan syuhada” (HR. Tirmidzi). Selanjutnya adalah menjaga etika, memperlihatkan adab dan etika sebagai seorang muslim. Seperti berbicara, menegur, berpakaian, bergaul dan lain-lain. Kemudian, menghindari syubhat, Rasulullah bersabda: “Yang halal itu jelas dan haram itu jelas. Di antara keduanya ada perkara syubhat, barang siapa memelihara diri dari para syubhat, maka ia telah menjaga kehormatan dirinya. Namun, barang siapa terjerumus kepada perkara syubhat, maka ia terjerumus pada perbuatan haram…” (HR. Bukhari). Hadist ini sangat jelas menjelaskan tentang yang sudah diharamkan oleh Allah SWT. dan hahal yang telah dianjurkan oleh Allah SWT. Apabila ada unsur keharaman dalam pekerjaan kita, maka tinggalkanlah. Dan lakukanlah yang halal sesuai ketentuan yang diperintahkan oleh Allah SWT. [3]


Kesimpulan dari penjelasan di atas bahwasanya bekerja dengan keras diperbolehkan akan tetapi jangan menyimpang dari perintah Allah SWT. Dengan menaati perintah Allah SWT. insyaAllah segala pekerjaan kita akan dimudahkan dan dijauhkan dari bala musibah. Kemudian, dalam bekerja juga kita harus menanamkan nilai jujur, nila tanggung jawab dan nilai kegigihan. Karena dengan melakukan nilai- nilai tersebut pekerjaan kita akan mudah diselesaikan. Bekerja akan bernilai ibadah apabila kita niatkan karena Allah SWT. dan ikhlas dalam menjalankannya. Karena apabila kita ikhlas dalam melakukan sesuatu maka pekerjaan itu akan lebih mudah diselesaikan. Bekerja dengan giat, bekerja dengan keras, bekerja dengan cerdas, harus memiliki tujuan satu, yaitu karena Allah SWT. 

Artikel Terkait