Wartanusantara.id - Dunia Barat bangga dengan Wonder Woman atau Captain Marvel yang hanya tokoh fiksi. Namun, Indonesia memiliki sosok nyata yang jauh lebih garang: Keumalahayati (Malahayati).
Banyak sejarawan maritim dunia mengakui beliau sebagai Laksamana Laut Wanita Pertama di Dunia Modern. Namanya disegani oleh Kerajaan Inggris hingga Belanda.
Salah satu momen paling epik dalam sejarah kolonialisme adalah ketika seorang pemimpin ekspedisi Belanda yang sombong, Cornelis de Houtman, tewas di ujung rencong seorang wanita Aceh.
Bagaimana kisah perjuangan "Singa Betina" dari Tanah Rencong ini?
1. Dendam yang Melahirkan "Inong Balee"
Karir militer Malahayati tidak dimulai dengan kemewahan, melainkan dengan air mata. Suaminya, Laksamana Zainal Abidin, gugur dalam pertempuran laut melawan Portugis di Selat Malaka.
Malahayati tidak larut dalam kesedihan. Ia bersumpah akan menuntut balas. Ia meminta izin kepada Sultan Aceh, Sultan Alaudin Riayat Syah al-Mukammil, untuk membentuk armada perang khusus.
Pasukan itu dinamakan Inong Balee (Armada Janda). Anggotanya adalah sekitar 2.000 wanita yang suaminya juga syahid di medan perang. Jangan remehkan status "janda" mereka. Di bawah didikan Malahayati (lulusan Ma'had Baitul Maqdis, akademi militer Aceh yang bekerjasama dengan Turki Utsmani), pasukan ini menjelma menjadi mimpi buruk bagi kapal-kapal asing.
2. Duel Maut di Atas Geladak (11 September 1599)
Sejarah mencatat hari itu dengan tinta merah. Dua kapal Belanda, De Leeuw dan De Leeuwin, yang dipimpin dua bersaudara Cornelis de Houtman dan Frederick de Houtman, membuat onar di pelabuhan Aceh. Mereka berkhianat dan merusak hubungan dagang.
Malahayati yang menjaga perairan Aceh tidak tinggal diam. Ia memimpin pasukannya menyerbu kapal-kapal Belanda tersebut.
Terjadilah pertempuran jarak dekat (Close Quarter Battle) yang sengit di atas geladak kapal. Dalam kekacauan itu, Malahayati berhadapan langsung (Face to Face) dengan Cornelis de Houtman.
Dalam duel satu lawan satu, ketangkasan wanita Aceh mengalahkan kekuatan fisik pria Eropa. Rencong Malahayati berhasil menghabisi nyawa Cornelis de Houtman. Pemimpin Belanda yang sombong itu tewas di tangan seorang wanita.
3. Diplomasi dengan Ratu Elizabeth I
Kehebatan Malahayati terdengar sampai ke Inggris. Ratu Elizabeth I bahkan mengirim utusan khusus, James Lancaster, untuk membawa surat perdamaian kepada Sultan Aceh.
Siapa yang menyambut Lancaster? Malahayati. Negosiasi berjalan alot. Inggris dipaksa mengakui kedaulatan Aceh jika ingin berdagang. Ini membuktikan Malahayati bukan hanya jago pedang, tapi juga diplomat ulung yang cerdas.
4. Benteng Inong Balee
Hingga kini, sisa-sisa perjuangannya masih bisa dilihat di Teluk Krueng Raya, Aceh Besar. Di sana berdiri Benteng Inong Balee, markas pertahanan yang dulu dibangun dan dijaga oleh para prajurit wanita tangguh tersebut.
Kesimpulan
Laksamana Malahayati mengajarkan kita bahwa kehormatan bangsa tidak memandang gender. Ketika kedaulatan diinjak-injak, wanita pun bisa mengangkat senjata dan menjadi mimpi buruk bagi penjajah.
Beliau adalah bukti nyata bahwa DNA pejuang mengalir deras dalam darah Warga Nusantara.
Baca Juga Kisah Heroik Lainnya: 👉 [Pangeran Diponegoro: Perang Gerilya yang Bikin Belanda Bangkrut] 👉 [Khalid bin Walid: Sang Panglima Tak Terkalahkan]
Daftar Pustaka (Referensi Buku Indonesia)
Berikut adalah referensi kredibel berbahasa Indonesia untuk validasi artikel ini:
- Moerdopo, Endang. (2008). Perempuan Keumala: Laksamana Malahayati. Jakarta: Gramedia Widiasarana Indonesia (Grasindo). (Novel biografi yang risetnya mendalam).
- Lombard, Denys. (2006). Kerajaan Aceh: Zaman Sultan Iskandar Muda (1607-1636). Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia (KPG). (Buku babon sejarah Aceh).
- Said, Mohammad. (1981). Aceh Sepanjang Abad. Medan: Waspada. (Referensi klasik sejarah Aceh).
- Tim Penulis Sejarah. (2017). Malahayati: Srikandi dari Aceh. Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.
