Saturday, November 5, 2016

Kemandirian dan Pengembangan Diri Rosulullah Saw. (4)

Rosulullah  Saw. Bersabda ,”Tak seorang nabi pun melainkan pasti mengembala kambing.’ Tidak juga engkau, wahai Rosulullah?,’ tanya mereka. ‘Tidak juga aku. Dulu, aku mengembala kambing milik penduduk Mekkah dengan beberapa qirath.” (H.R. al-Hakim). Menurut Syekh Abu Bakar al-Jaza’iri, hikmah para Nabi mengembala kambing adalah persiapan untuk mengatur umat manusia dengan lemah lembut dan kasih sayang. Karena kambing lebih lemah dari unta dan sapi, dan memerlukan kelembutan.

Ketika Rosulullah kecil dalam pengasuhan pamannya, beliau dengan segera untuk berusaha sekuat tenaga meringankan sebagian beban nafkah dari pamannya. Diantaranya dengan menjadi pengembala kambing  hingga usia 12 tahun beliau ikut berdagang dengan pamannya, AbiThalib ke Syam. Syam merupakan wilayah koloni Imperium Byzantine, Romawi Timur. Sekarang wilayah Syam terbagi dalam beberapa negara seperti Suriah, Palestina, Libanon, dan Yordania.

Perjalanan dagang menuju Syam, kafilah dagang Abi Thalib berhenti di Bashra. Mereka singgah di dekat biara sang rahib. Ada seorang pendeta (rahib)  bernama Bahira memperhatikan seorang anak kecil yang terus diikuti oleh awan yang sedang menanguninya, Bahira menemuinya, dan memulai percakapan. Bahira bertanya kepadanya, “Nak ! dengan hak Lata dan Uzza, aku meminta kepadamu, jawablah pertanyaanku.” Rosulullah Saw. Berkata kepadanya, “jangan berkata dengan hak Lata dan Uzza, karena tidak ada sesuatu pun yang ku benci seperti kebencianku kepada kedua berhala tersebut. “ Bahira kembali bertanya, “Aku meminta kepadamu dengan hak Allah, jawablah pertanyaanku.” Beliau berkata, silahkan tanyakan apa yang ingin kau tanyakan.”  Selama percakapan tersebut Bahira yakin bahwa beliau adalah seorang Nabi yang dinantikan. Pertanyaan Bahira kepada Abu Thalib, pamanya, tentang Rosulullah yang ditinggal mati oleh ayah dan ibunya semakin meyakinkan bahwa tanda-tanda kenabiannya sudah jelas. Sebagaimana yang diketahui oleh Bahira dalam kitab Taurat dan Injil. Bahira menyuruh Abi Thalib untuk segera pulang, karena khawatir akan gangguan orang-orang Yahudi terhadap dirinya. Abi Thalib segera menyelesaikan urusan dagangnya dan langsung pulang ke Mekkah.

Pada usia 15 tahun Rosulullah terlibat dalam perang Fijar. Dinamakan perang Fijar, karena terjadi pelanggaran terhadap kesucian tanah haram dan bulan-bulan suci. Perang Fijar ini melibatkan pasukan Quraisy bersama kinanah melawan pihak Qais Ailan. Rosulullah Saw. Ikut bergabung dengan cara mengumpulkan anak-anak panah untuk pamannya. Perang ini dimenangkan oleh Quraisy dan Kinanah.

Pasca perang Fijar, Rosulullah Saw. Menghadiri dalam perjanjian Hilful Fudhul. Peristiwa ini dilatar belakangi oleh seseorang dari kabilah Zubaid yang datang ke Mekkah dengan membawa barang dagangannya. Barang dagangannya dibeli oleh Ash bin Wa’il. Ia tidak membayar, orang dari kabilah Zubaid menggalang persekutuan dengan Abdud Dar, Makhzum, Jumah, Sahm, dan Adi. Mereka enggan untuk menolongnya. Karena Ash bin Wa’il mempunyai kedudukan dan terhormat di Mekkah. Akhirnya ia naik ke atas gunung dan meneriakkan bait-bait syair tentang kedzaliman yang menimpanya. Zubair bin Abdul Muthalib keluar, dan berkata, “kenapa orang itu dibiarkan.” Akhirnya Hasyim, Zuhrah, dan Taim bin Murrah berkumpul di rumah Abdullah bin Jud’an. Mereka membuat perjanjian yang berisi tentang pembelaan terhadap orang yang teraniaya melawan orang zalim sampai si zalim menunaikan hak terhadap orang yang ia zalimi. Mereka menemui Ash bin Wa’il untuk mengambil hak orang Zubaidi darinya.

Peristiwa perjanjian Hilful Fudhul terjadi pada bulan Dzul-Qa’idah pada bulan suci. Rosulullah Saw. Bersabda, “Aku menghadiri sebuah persekutuan di rumah Abdullah bin Jud’an yang lebih aku sukai daripada unta merah. Andai aku diundang (untuk menghadiri persekutuan itu) dalam Islam, tentu aku penuhi.”

HIKMAH

Percakapan Rosulullah Saw. Dengan pendeta Bahira yang tidak mau bersumpah dengan nama Lata dan Uzza menunjukkah bahwasanya beliau dari kecil hingga bi’tsah (pengangkatan nabi dan rosul) bersih dari penyakit kesyirikan yang melanda masyarakat Arab pada umumnya.  Sebagaimana pernikahan Abdullah dengan Aminah menunjukkan bahwasanya nasab Rosulullah terjaga dari dosa perzinahan yang pada umumnya merajalela di kalangan bangsa Arab. Rosulullah Saw. Pernah berniat ingin berbuat maksiat sebanyak dua kali, sebagaimana pemuda pada umumnya, namun Allah Swt. Selalu membuatnya terkantuk dan akhirnya tertidur. Beliau pun tidak mau lagi berniat untuk melakukannya lagi. Hal ini karena semata-mata inayah dari  Allah Swt.

Pekerjaan Rosulullah Saw. Dari mulai mengembalakan kambing hingga berdagang ke Syam merupakan akhlak yang mengungkapkan rasa syukur, kecerdasan watak, dan kebaikan perilaku beliau.  Keterlibatan Rosulullah Saw. Remaja dalam perang Fijar dan perjanjian Hilful Fudhul memiliki dampak yang besar pada nantinya ketika diangkat menjadi Nabi dan Rosul dalam membuat perjanjian dan memimpin peperangan.  Itulah cerita singkat Rosulullah Saw. Dalam kemandirian usaha dan peningkatan kapasitasnya.

Kisah ini bersumber dari;

1.       Sirah Nabawiyah karya Abu Bakar al-Jaza’iri
2.       Sirah Nabawiyah karya Said Ramadhan al-Buthy
3.       Sirah Nabawiyah karya Shafiyurrahman al-Mubarakfury

4.       Khulasoh Nurul Yaqin karya Umar Yahya Abdul Jabar juz 1

sselesai di kaki Gunung Gede Pangrango yang dingin.