Friday, April 6, 2018

Makna ketika Erdogan Berpakaian Loreng Di Perbatasan Turki-Suriah*

Ketika Presiden Erdogan melakukan inspeksi ke salah satu markas pasukan Turki dekat perbatasan Turki-Suriah ditemani Panglima Tentara Turki, Jend. Hulusi Akar, dengan memakai baju loreng, maka hal itu merupakan pesan kuat bagi semua pihak, utamanya AS dan sekutunya NATO, bahwa Turki sudah bertekad untuk berhadapan dengan siapapun demi “mengaborsi” janin Negara Kurdi Raya di sepanjang perbatasn Turki-Suriah sebelum dilahirkan.

Setelah menguasai kota Afrin dan lebih dari 2000 km² wilayah lainnya di sekitar Afrin, kemenangan itu masih belum sempurna kalau belum menguasai kota Membej, dengan itu akan mempermudah jalannya menuju kota-kota lain yang dikuasai SDF seperti Raqqa, Hasakeh, Kamishly dan Ain Arab.

****
Menyerang Membej adalah tantangan besar bagi presiden Erdogan dan pasukan Turki selaku pasukan terbesar kedua di NATO, karena AS selaku pasukan terbesar pertama di NATO masih bersikeras untuk terus mendukung pasukan Kurdi dan tidak ingin Turki menguasai Membej.
Hal itu dibuktikan dengan pengiriman pasukan tambahan sebanyak 300 marinir AS ke Membej bersama dengan tank dan kenderaan perang lainnya. Sementara itu presiden Perancis, Emanuel Macron mengancam akan mengirim pasukan Perancis ke Membej untuk membantu pasukan SDF dan YPG dan Perancis juga menegaskan akan “membidani” lahirnya negara Kurid Raya.
Secara teoritis, Turki akan berhadapan dengan dua negara dengan pasukan terkuat (AS urutan pertama di dunia dan Perancis di urutan kelima di dunia) di Suriah. Setelah Presiden Erdogan menolak dengan tegas usulan Perancis untuk membuka dialog Turki-Kurdi, tidak ada pilihan lain selain perang. Usulan Perancis untuk membuka dialog dianggap Turki sebagai sebuah penghinaan, Turki balik menyerang Perancis karena Perancis menerima kunjunga Delegasi Kurdi, dan Erdogan pun mengungkit-ungkit kembali “kelamnya” sejarah penjajahan Perancis di Aljazair.
KTT Tiga Negara yang akan diadakan di Istanbul Rabu besok yang akan dihadiri oleh The Last Gunslinger, Mulla Rouhani dan The Sultan tampaknya akan membahas secara khusus peta baru perang di Suriah, khususnya perang Membej, dan tidak menutup kemungkinan akan membahas hubungan Damascus-Ankara.
****
Suriah dan sekutunya Rusia dan Iran selama ini menutup mata atas invasi militer Turki ke Afrin, setidaknya karena tiga sebab:
Pertama: Suriah dan sekutunya ingin fokus ke perang Ghuta, guna mengamankan ibukota dari hujan mortar-mortar kelompok oposisi, dan sampai saat ini rencana tersebut sudah berhasil 80 persen.
Kedua: Tindakan Turki mengaborsi janin Negara Kurdi Raya yang “dihamili” oleh AS dan mungkin juga Israel akan merupakan kepentingan Iran dan Suriah, karena Kurdi juga mengancam Suriah dan Iran seperti halnya mengancam Turki. Biarlah aborsi itu diwakili oleh Turki, setidaknya begitu yang tersirat dari sikap Iran dan Suriah selama ini.
Ketiga: Kalau sampai Turki bentrok dengan AS dan Perancis di Membej atau kota Kurdi lainnya, maka itu berarti Turki akan mengangkat tangan dan mengatakan “Adiós por ahora, amigo” kepada NATO dan kubu Barat, dan otomatis Rusia dan Iran akan mengatakan kepada Turki “¡Usted es bienvenido a unirse a nuestros esfuerzos!”, karena hanya itu pilihan terbaikyang available.
Namun demikian, untuk saat ini masih sulit untuk memprediksikan bagaimana selanjutnya, yang pasti saat ini mood Sang Sultan adalah “perang”, dia juga sadar bahwa Operasi Ranting Zaitun tidak mungkin berhenti disini, di Afrin, tetapi harus dilanjutkan ke Membej, Raqqa dan kota-kota lainnya.
****
Pertanyaan besar saat ini yang muncul, kalau memang Turki harus benar-benar bentrok dengan sekutunya di NATO, AS dan Perancis di Membej, apakah sekutu barunya Iran dan Rusia akan memberikan dukungan politis dan militer kepada Turki? Kalau iya, maka apa yang akan didapat oleh Rusia dan Iran sebagai imbalan? Apakah Turki akan menyerahkan Idlib, dan kota-kota lainnya seperti Al Bab dan Jarablus ke pangkuan Suriah sebagai imbalan? Ingat, bahwa Rusia dan Iran tidak akan mendapatkan imbalan atas jerih payahya selama ini kalau Suriah tidak aman. Rusia dan Iran tidak akan dapat mengeksplorasi ladang migas Suriah kalau tidak aman, karena jasa Rusia dan Iran selama ini hanya akan dibayar oleh Suriah dengan sumber daya alamnya yang kaya dan masih perawan!

Mungkin pertanyaan-pertanyaan yang terbesit di benak kita sekarang ini akan dijawab besok setelah KTT Istanbul. Kalau tidak, maka biarlah waktu yang menjawab. Tahrir Rakyul Youm.





*Keterangan : Judul hanya terjadi tambahan dari admin. konten tulisan dan gambar diambil dari akun fb penulis. selamat menikmati

Artikel Terkait