Ingin Mengalahkan Rasa Takut, Mengapa Tidak Bisa?

Oleh: Hamidah Nur Azizah

Rasa takut merupakan bayangan yang menakutkan, yang mendekam dalam jiwa seseorang, lalu seseorang tersebut tidak diberi kesempatan untuk menikmati lezatnya keamanan dan ketenangan, dan selalu menghalangi gerak-geriknya, serta menghalangi berkembangnya potensi dan bakat-bakatnya. Maka seseorang yang hidup di bawah naungan bayangan rasa takut, kehidupannya akan berubah menjadi keseraman dan kesengsaraan terus-menerus dan selalu berharap bisa melepaskan diri dan bebas dari lingkungannya.


            Lalu, bagaimana cara mengalahkan ketakutan itu?


1. Meluruskan niat, membulatkan tekad dan semangat

            Organisasi struktural yang paling dekat dengan hidup kita adalah organ tubuh. Hati adalah rajanya, sedangkan yang lainnya hanyalah menjadi para menteri dan para perajurit. Kemudian letaknya niat ada di hati. Oleh karena itu, ketika seseorang menjalani kehidupan diniatkan semuanya karena untuk beribadah kepada Allah, maka gerak-gerik kehidupannya akan selalu mengarah ke hal-hal yang positif.

             Setelah itu, hati pasti akan terus membulatkan tekad bahwa aku berani karena kehidupan ini sangatlah singkat. Jika aku takut gagal, sama saja merencanakan kegagalan, karena Allah menurut prasangka hamba-hamba_Nya.

            Kemudian juga ketika sudah berani tetapi gagal dan akhirnya putus asa, ini juga merupakan ketakutan yang wajib kita lawan. Harus bangkit lagi dan perkuat ikhtiarnya. Lagi-lagi hanya kepada Allah kita menyandarkan segala urusan.
" وَ عَلَى اللهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُوْنَ. المجادلة : 10. "
Artinya:
“ Dan kepada Allah hendaknya orang-orang yang beriman bertawakkal.” (QS. Al-Mujadalah: 10)

2. Sering membaca kisah para pejuang

            Beberapa orang ketika dia takut untuk melangkah, dia selalu membayangkan ketakutannya itu berupa perkara ini itu yang akan membuatnya kecewa. Oleh karena itu butuh untuk memperbanyak kisah-kisah para pejuang seperti kisah Rasulullah Saw. dan para sahabat-sahabat beliau dalam mendakwahkan agama Allah, kemudian para tabi’ut tabi’in, masyayikh, umaro’, habaib, asaatidz, serta para pahlawan yang telah memperjuangkan kemerdekaan tanah air.

            Dengan membaca, otak akan merekam apa yang dibaca oleh mata, diolah agar merubah mindset menjadi pemberani dan akan tersimpan oleh hati. Kemudian hati akan menggerakkan organ tubuh agar berani melangkah.

            Seperti kisahnya Nabi Musa As. beliau telah dipersiapkan untuk dijadikan salah seorang Rasul_Nya untuk menghadapi Firaun di zaman yang penuh angkara murka. Allah membekali beliau dengan berbagai mukjizat. Namun ketika Nabi Musa As. Melihat kehebatan juru sihir Firaun yang dapat merubah tali tambang menjadi ular-ular yang menakutkan, yang seolah-olah akan menerkam orang-orang yang datang menyaksikannya, maka timbullah rasa takut alami dan fitrinya beliau, padahal beliau adalah seorang Rasul Allah yang besar.

            Namun kemudian beliau menyadari kedudukan dan tugasnya, beliau mendapatkan pertolongan, pengarahan dan perlindungan langit hingga dapat menguasai rasa takutnya dari permainan juru sihir itu, dan berdiri dengan kuat dan tabah. Allah Swt. Berfirman:
Artinya :
“Sesudah mereka berkumpul, mereka berkata: “Hai Musa, apakah kamu akan melemparkan dahulu ataukah kami yang mula-mula melemparkan? Berkata Musa: “Silahkan kamu sekalian memulainya!” Maka tiba-tiba talidan tongkat-tongkat mereka terbayang kepada Musa seakan-akan merayap cepat lantaran sihir mereka. Maka Musa merasa takut alam hatinya. Kami berkata: “Janganlah kamu takut, sesungguhnya kamulah yang paling unggul (menang). Dan lemarkanlah apa yang ada di tangan kananmu, niscaya ia akan menelan apa yang meeka ciptakan. Sesungguhnya apa yang mereka perbuat itu adalah tipu daya tukang sihir (belaka). Dan tidak akan menang tukang sihir itu, dari mana saja ia datang.” (QS. Thaha: 65-69).

3. Selalu ingat pada ketakutan yang hakiki

            Alangkah aneh beberapa orang yang takut pada kehidupan di dunia, karena hakikatnya kehidupan adalah kehidupan setelah kematian. Itulah ketakutan yang hakiki, dimana Allah Swt menghisab seluruh amal di dunia. Waktu di dunia, digunakan untuk yang baik atau yang buruk? Yang bisa menjawab tentu diri kita masing-masing.

4. Bersenjata dengan ilmu-ilmu Allah SWT

            Imam syafi’i Rah. Pernah berkata:
“Barangsiapa yang menginginkan dunia, maka harus dengan ilmu. Barangsiapa yang menginginkan akhirat, maka harus dengan ilmu. Dan Barangsiapa yang ingin keduanya, maka harus dengan ilmu juga.”

            Maka langkah kakinya orang yang berilmu itu akan penuh keberanian, karena dia berkeyakinan bahwa tidak ada seorangpun yang sukses di dunia dan akhirat tanpa ilmu.
           
5. Mengeratkan hubungan dengan Allah SWT

            Mengeratkan hubungan baik dengan Allah Swt. diantaranya dengan memperbaiki shalat (tidak khusyu’ menjadi khusyu’, khusyu’ menjadi lebih khusyu’).
Hadits Rasulullah Saw. :
“Dari Abu Hurairah Ra. Berkata, Rasulullah Saw. Bersabda: “Sesungguhnya amal yang pertama kali dihisab adalah sholatnya. Maka jika shalatnya baik, sungguh ia telah beruntung dan berhasil. Dan jika shaatnya rusak, sungguh ia telah gagal dan rugi. Jika berkurang sedikit dari shalat wajibnya maka Allah ta’ala berfirman: “Lihatlah apakah hamba_Ku memiliki shalat sunnah.” Maka disempurnakanlah apa yang kurang dari shalat wajibnya. Lemudian begitu pula dengan seluruh amalnya. (HR. Tirmidzi No. 413)

6. Bergaul dengan orang-orang shalih

            Karakter seseorang bisa dilihat dari bagaimana karakter sahabatnya. Oleh karena itu bergaullah dengan orang-orang sholih sebagaimana firman Allah yang memerintahkan kita untuk berkumpul bersama orang-orang yang baik.

“Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar(jujur).” QS. At-Taubah: 199

            Kemudian juga terdapat hadits Rasulullah Saw:
“Dari Abu Musa Ra. Rasulullah Saw. Telah bersabda: “Permisalan orang yang duduk (berteman) dengan orang yang shalih dan orang yang jelek adalah bagaikan berteman dengan pemilik minyak wangi dan pandai besi. Jika engkau tidak dihadiahkan minyak wangi olehnya, engkau bisa membeli darinya atau minimal mendapat wanginya. Adapun berteman dengan pandai besi, jikam engkau tidak mendapatkan badan atau pakaianmu hangus, minimal egkau akan mendapat baunya yang tidak enak.” (HR. Bukhari No. 2101).

            Ketakutan yang hakiki adalah takut akan murkanya Allah Swt, takut bahwa dosa-dosa kita di yaumul hisab lebih banyak dari pahala-pahala kita, takut ketika Allah terus-terusan membiarkan kita terhanyut dalam kelalaian terhadap_Nya. Jadi, segala urusan kita di dunia hendaknya dihadapi dengan penuh keberanian, keikhlasan, semangat yang membara dan ketawakkalan yang kuat kepada Allah.

Comments