Monday, October 8, 2018

“Kisah Sosis Dan Garam Di Jaman Kapitalis”

Oleh : Dudi Supriadi

Sedikit janggal ketika membaca tema di atas, kenapa temanya “Sosis Dan Garam”?? kenapa tidak “Keju Dan Singkong” yang membicarakan kisah si kaya dan si miskin dalam menghadapi jaman kapitalsm, sebenarnya “Kisah Sosis Dan Garam” ini tidak jauh berbeda dengan “Singkong Dan Keju” yang membedakan adalah kisah ini real adanya dan saya alami sendiri, mari kita mulai kisahnya, inilah kisah “Sosis Dan Garam Di Jaman Kapitalis”.

(ilustrasi/tribunnews)

Awal kisahnya terjadi di akhir bulan dan apa yang dirasakan oleh anak anak kostan ketika akhir bulan menghampiri.? Ya imbasnya anak kostan harus lebih mengirit uang yang ada di sakunya guna menghadapi krisis moneter akhir bulannya anak kostan, di samping harus bisa mengirit uangnya di era jaman sekarang yang kebetulan akhir bulan kali ini rupiah melemah terhadap dollar amerika yang berdampak pada barang barang impor, dan anak kostan kini terkena dampaknya makanan sederhana yang berbahan dasar kedelai yang menjadi makanan sehari hari (Tempe) juga terkena dampak dari melemahnya rupiah.


Sepulangnya dari kampus dan mengajar kira kira jam 19:20 dalam keadaan perut kosong dan saku sedang sekarat adalah perasaan yang lumayan menyedihkan, di samping itu juga saya sangat bersyukur karena masih ada nasi yang bisa dimakan walaupun gak ada lauk yang harus menemaninya, secara spontan saya mengambil garam yang ada di pojok dekat kardus di dalam kantong plastik hitam saya sangat ingat itu, dengan membaca basmallah dan do’a sebelum makan saya mulai makan di luar, samping kosan di atas sekat anatara kosan satu dengan kosan yang lain sambil merenungkan nasib negeri ini di temani dengan sorotan lampu salah satu apartemen dari kejauhan, saya merenungkan nasib negeri yang sangat subur akan sumber dayanya atau saya ibaratkan ( sosis sosis yang halal dan siap makan)  tapi kenapa malah banyak impor dari negara lain sampai sampai garam yang saya makan waktu itu hasil impor, karena saya berpikir indonesia itu kaya akan lautnya, kenapa negeri yang kaya ini masih mengimpor garam, apakah se miskin ini?? Ini mungkin salah satu faktor kenapa rupiah bisa melemah sampai sampai mencapai Rp. 15.000 per 1 U$ Dollar,  fikir saya kala itu sambil memakan nasi di temani garam impor.

Lampu apartemen dari kejauhan yang melengkapi penderitaan saya waktu itu juga membawa saya berkhayal tentang beberapa pembangunan infrastruktur yang dilakukan negeri ini, perusahaan perusahaan besar yang ada di negeri ini apakah sudah sepenuhnya milik sendiri atau milik orang lain.? dan nyatanya kebanyakan perusahaan besar kini milik orang orang luar dalam artian ini juga  salah satau penyebab indonesia sulit berkembang jadi negara maju, kini indonesia sudah menjadi tamu di rumah sendiri dan harus ada strategi yang bisa mengubah itu semua menuju negara maju.

     Sumber daya alam di indonesia atau saya ibaratkan sebagai sosis Sosis yang halal dan  siap makan , di indonesia banyak sekali karunia yang allah berikan, ini lebih dari cukup untuk membuat rakyat indonesia bisa makmur dan bisa menjadi negara maju di kemudian hari, di samping itu sumber daya manusia (SDM)  yang ada di negeri ini juga cukup handal yang saya yakin sudah bisa menjadikan negera ini maju dan keluar dari cengkraman kaum kapitalisme yang kini sudah sangat menjadi jadi.
Saya yakin indonesia bisa dan sangat besar kemungkinannya menjadi negara maju yang memaksimalkan “Sosis sosis halal siap makan” dan memaksimalkan ekspor dariapada impor, memaksimalkan garam garam yang ada menjadi salah satu faktor guna menjadikan indonesia maju, “ Kisah sosis dan garam di jaman kapitalisme” semaga anda termotivasi.

Keterangan : Sebagai Mahasiswa STEI SEBI, Penerima Beasiswa 100% SDM EKSPAD (Sumber Daya Manusia Ekonomi Syariah Pelopor Pembangunan Daerah)

Artikel Terkait