Penaklukan Yerusalem Tanpa Darah: Kisah Epik Umar bin Khattab Menerima Kunci Kota Suci dengan Baju Tambalan


Wartanusantara.id - 
Sepanjang sejarah manusia, penaklukan sebuah kota suci selalu diwarnai dengan pembantaian, arogansi, dan pamer kekuatan militer. Namun, pada tahun 637 Masehi (15 Hijriah), sejarah dunia mencatat sebuah anomali yang luar biasa.

Kota suci Yerusalem (Iliya/Baitul Maqdis) jatuh ke tangan umat Islam. Bukan lewat hujan panah atau gempuran meriam, melainkan lewat pesona keadilan dan kerendahan hati seorang pemimpin: Khalifah Umar bin Khattab.

Kisah penyerahan kunci kota Yerusalem ini menjadi bukti nyata bagaimana toleransi beragama dipraktikkan di era Khulafaur Rasyidin. Berikut adalah kronologi peristiwa epik yang menggetarkan hati musuh maupun kawan.

1. Syarat Mutlak dari Sang Patriark

Setelah kemenangan gemilang Muslim di Perang Yarmuk, pasukan yang dipimpin Abu Ubaidah bin Al-Jarrah mengepung Yerusalem selama berbulan-bulan. Penduduk kota yang kelelahan akhirnya menyerah.

Namun, Patriark Yerusalem saat itu, Sophronius, mengajukan satu syarat mutlak: "Kami tidak akan menyerahkan kunci kota ini kepada panglima mana pun, kecuali kepada pemimpin tertinggi kalian (Khalifah) secara langsung."

Abu Ubaidah pun mengirim surat ke Madinah, meminta Umar bin Khattab untuk datang.

2. Perjalanan Sang "Penakluk Dunia" yang Bikin Menangis

Mendengar permintaan itu, Umar berangkat dari Madinah. Sebagai penguasa imperium yang membentang dari Jazirah Arab hingga Syam, orang mungkin membayangkan Umar datang dengan kereta kuda berlapis emas dan ribuan pengawal.

Faktanya? Umar hanya berangkat ditemani satu orang pembantu, membawa perbekalan sederhana, dan hanya menggunakan SATU ekor unta yang ditunggangi secara bergantian. Pakaian yang dikenakan Umar saat itu memiliki 14 tambalan. Tidak ada mahkota, tidak ada jubah kebesaran.

3. Kejutan di Gerbang Yerusalem

Momen paling dramatis terjadi saat mereka mendekati gerbang Yerusalem. Sesuai jadwal giliran, saat itu adalah jatah sang pembantu untuk naik ke atas unta, sementara Umar yang menuntun unta tersebut dari bawah.

Ketika Patriark Sophronius dan para pendeta melihat pemandangan ini dari atas tembok kota, mereka takjub dan menangis. Mereka melihat ciri-ciri pemimpin adil yang tertulis dalam kitab suci mereka terwujud nyata. Seorang penguasa dunia berjalan kaki menuntun unta, sementara rakyat bawahannya duduk di atas pelana.

Sophronius pun menyerahkan kunci kota suci itu dengan damai tanpa ada pertumpahan darah setetes pun.

4. "Perjanjian Umar" (Al-'Uhda Al-'Umariyyah)

Setelah masuk ke kota, Umar tidak melakukan penjarahan. Sebaliknya, ia mengeluarkan dokumen jaminan keamanan yang sangat revolusioner di zamannya, dikenal sebagai Perjanjian Umar.

Isinya menjamin kebebasan beragama bagi penduduk Kristen Yerusalem:

  • Gereja-gereja mereka tidak akan dihancurkan atau dirampas.
  • Salib-salib mereka tidak akan diusik.
  • Harta benda mereka aman.
  • Mereka bebas beribadah tanpa paksaan.

5. Visi Jauh ke Depan: Menolak Shalat di Dalam Gereja

Saat waktu shalat tiba, Sophronius mempersilakan Umar untuk shalat di dalam Gereja Makam Suci (Church of the Holy Sepulchre). Namun, Umar dengan sopan menolaknya. Ia memilih shalat di luar, di tanah lapang.

Alasannya sangat visioner: "Jika aku shalat di dalam, aku khawatir generasi Muslim di masa depan akan merampas gereja ini dan mengubahnya menjadi masjid dengan alasan 'Umar pernah shalat di sini'." 

Kesimpulan 

Penaklukan Yerusalem oleh Umar bin Khattab adalah masterclass tentang bagaimana kekuatan militer harus tunduk pada keadilan dan adab. Beliau membuktikan bahwa untuk menguasai dunia, kita tidak MEMERLUKAN arogansi, melainkan kerendahan hati dan kepatuhan pada hukum Allah. Inilah warisan sejarah yang harus terus kita gaungkan.

Baca Juga Sejarah Epik Lainnya: 

👉 [Perang Yarmuk: 36 Ribu Melawan 240 Ribu Pasukan Romawi] 

👉 [Piagam Madinah: Taktik Jenius Nabi Menyatukan Kota Berdarah] 

👉 [Shalahuddin Al-Ayyubi: Menguasai Kembali Yerusalem Lewat Taktik Haus]

Daftar Pustaka 

  1. Ash-Shallabi, Dr. Ali Muhammad. (2012). Biografi Umar bin Khattab: Khalifah Kedua dan Pemisah Antara yang Haq dan yang Bathil. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar. (Buku paling detail membahas masa pemerintahan Umar).
  2. As-Suyuthi, Imam Jalaluddin. (2015). Tarikh Khulafa: Sejarah Para Penguasa Islam. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar.
  3. Al-Aqqad, Abbas Mahmud. (2011). Kejeniusan Umar bin Khattab (Abqariyah Umar). Jakarta: Pustaka Azzam.
  4. Hitti, Philip K. (2002). History of The Arabs. Jakarta: Serambi. (Membahas sudut pandang sejarah makro).

0/Post a Comment/Comments