Tuesday, February 28, 2017

Sikap KAMMI Terhadap Kunjungan Raja Salman

Akhir-Akhir ini Indonesia sedang ramai membahas kedatangan raja Salman ke Indonesia. Masing-masing pihak punya sikap, ada yang pro dan kontra. Kali ini mari kita perhatikan sikap PP KAMMI tentang kedatangan raja Salman di bawah ini.
JAKARTA -- Raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz Al Saud akan melakukan kunjungan kenegaraan ke Indonesia dalam waktu dekat. Pengurus Pusat Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (PP KAMMI) menganggap kedatangan Raja Salman ke Tanah Air merupakan kunjungan yang sangat strategis. Kunjungan ini juga menjadi sejarah Indonesia setelah 47 tahun silam Indonesia di kunjungi Raja Arab Saudi.
Kartika Nur Rakhman, Ketum PP KAMMI

"KAMMI menyambut baik kedatangan raja Salman ke Indonesia. Indonesia sebagai negara dengan penduduk umat Islam terbesar di dunia memang selayaknya memiliki hubungan yang dekat dengan Arab Saudi. Semoga kedatangan ini menjadi sesuatu yang baik untuk Indonesia khususnya bagi umat Islam," ujar Ketua umum PP KAMMI Kartika Nur Rakhman, Selasa (28/2).

Di samping itu kedatangan Raja Salman juga akan lebih fokus membahas masalah kerjasama ekonomi kedua negara. Sejumlah kerjasama akan disepakati dalam kunjungan bersejarah ini. Apalagi kedatangan Raja Salman membawa nilai investasi yang cukup besar.

Ketua departemen advokasi kebijakan publik PP KAMMI Bayu Anggara mengatakan, nilai investasi yang cukup besar yang akan ditawarkan Arab Saudi kepada Indonesia bisa menjadi kekuatan Indonesia untuk tidak bergantung kepada negara tertentu saja, seperti Tiongkok ataupun AS.

Sementara itu, umat Islam Indonesia berharap besar dengan kedatangan Raja Salman. Popularitas Raja Salman cukup baik di kalangan masyarakat Indonesia. Raja Salman dianggap responsif terhadap isu-isu dunia Islam.

Sumber: Bayu Anggara,  Ketua Departemen Advokasi Kebijakan Publik PP KAMMI

Pengumuman Penerimaan Mahasiswa Baru Ikatan Dinas

Gimana kabarnya para pembaca Warta Nusantara? semoga baik-biak saja, dan selalu diberikan nikmat sehat. Bagi para pembaca yang mempunyai anak atau saudara atau tetangga, ada Pengumuman dari Kemen PAN&RB mengenai penerimaan mahasiswa baru ikatan dinas. Ini pengumumannya:


Tahun Anggaran 2017 dibuka penerimaan Mahasiswa/I, Taruna/i pada Kementerian/Lembaga yang mempunyai Lembaga Pendidikan Ikatan Dinas, sebagai berikut :

1. PKN STAN (Kemenkeu) menerima sebanyak 6961 mahasiswa, dibuka tgl 9 - 16 Maret 2017
2. STPDN (Kemedagri) menerima sebanyak 1689 mahasiswa, dibuka tgl 9 -31 Maret 2017
3. STTD (Kemenhub) menerima sebanyak 165 mahasiswa, dibuka tgl 9 - 31 Maret 2017
4. POLTEKIP dan POLTEKIM (Kemenkumham) menerima sebanyak 500 mahasiswa, dibuka tgl 9 - 31 Maret 2017
5. STIN (BIN) menerima sebanyak 124 mahasiswa, dibuka tgl 9 - 31 Maret 2017
6. STIS (BPS) menerima sebanyak 500 mahasiswa, dibuka tgl 6 - 31 Maret 2017
7. STMKG (BMKG) menerima sebanyak 250 mahasiswa, dibuka tgl 9 - 31 Maret 2017
8. STSN (LSN) menerima sebanyak 100 mahasiswa, dibuka tgl 9 - 21 Maret 2017

Bagi putra-putri Bpk/Ibu yang berminat, silakan mendaftar secara online melalui portal www.panselnas.id sesuai dengan jadwal diatas

Semoga bermanfaat.
*Sumber info dari Group Wa Ka KAMMI Jabar
Baca juga Perjalanan Hidup Penemu Angka Nol
Baca Juga Rahasia Kesusksesan Abdullah bin Abbas, Ulamanya Umat Ini

Monday, February 27, 2017

Perjalanan Hidup Penemu Angka Nol

Para pembaca mungkin sudah bisa menebaknya siapa dia. Ya, dia dikenal sebagai al-Khawarizmi. Nama lengkap al-Khawarizmi adalah Muhammad bin Musa al-Khawarizmi. Ia dilahirkan pada tahun 708 M di Khawarizm, sekarang bernama kota Khiva di Uzbekistan. Ia hidup di mana Khalifah al-Ma’mun dari khilafah bani Abbasiyah sangat perhatian terhadap perkembangan ilmu pengetahuan. Khalifah al-Ma’mun mengembangkan Baitul Hikmah (pusat Universitas didirikan oleh Khalifah Harun ar-Rasyid) di kota Bagdad.

Ayah al-Khawarizmi merupakan seorang birokrat pada Khilafah bani Abbasiyah. Ia mendaftarkan anaknya untuk menjadi pegawai Khalifah al-Ma’mun. Karena kecerdasan al-Khawarizmi remaja, Khalifah al-Ma’mun terpikat hatinya dan menawarkan kepadanya untuk mempelajari bahasa Sanskerta dengan biaya Khalifah. Bahasa Sanskerta merupakan bahasa pengantar dari buku-buku ilmu pengetahuan India. Ia menguasainya dengan sangat baik, dan menerjemahkan ke dalam bahasa Arab secara baik sekali . Tidak hanya itu, ia pun mampu menerjemahkan buku geografi karya Ptolomeus (ilmuwan Yunani) secara baik.

Al-Khawarizmi mulai menulis setelah sukses jadi penerjemah. Buku pertama yang ditulisnya adalah Suratul Ardhi (peta dunia). Karya ini dijadikan model oleh ahli-ahli geografi Barat untuk menggambar peta dunia. Bersama ilmuwan lain, Ia pun membuat tabel perhitungan astronomi yang dapat digunakan untuk mengukur jarak dan kedalaman bumi. Karyanya diterjemahkan ke bahasa latin, dan menjadi dasar penelitian astronomi.

Baca juga Mengintip Masa Kecil Hasan Al-Banna

Al-Khawarizmi menulis buku matematika berjudul Hisab AlJabar wal Muqabbala, yang berisi tentang persamaan linear dan kuadrat. Saat ini terkenal dengan rumus matematika Aljabar.

Ia pun orang pertama yang menjelaskan kegunaan angka-angka, termasuk angka nol.  Ia menulis buku yang membahas beberapa soal hitungan, asal-usul angka, serta sejarah angka-angka yang digunakan. Dengan angka nol yang diperkenalkan oleh al-Khawarizmi, orang-orang Eropa menggunakan angka nol untuk memudahkan perhitungan puluhan, ratusan, ribuan, dan seterusnya.

Ilmuwan Eropa menyebutnya Al frismus, dari namanya ini diambil istilah Al Gorism atau Algoritma. Melalui karya-karyanya, al-Khawarizmi dikenal sebagai bapak Matematika. Ia wafat dalam usia 67 tahun, tepatnya  pada tahun 850 M.

*Tulisan di atas bersumber dari buku berjudul Siapa Penemu Angka Nol? Karya J. Zahrani. K. Saya hanya mengoreksi sebagian tempat, tanggal lahir, dan wafatnya (buku SKI ). Saya pun menyesuaikan dan mendaur ulang bahasanya dengan sesuai gaya bahasa saya,



Mengintip Kebiasaan Masa Kecil Hasan al-Banna

Hasan al-Banna pendiri gerakan Ikhwanul Muslimin, salah satu gerakan Islam moderen dunia yang hingga saat ini masih ada dan mempunyai cabang di beberapa Negara. Ikhwanul Muslimin didirikan pada tahun 1928 M, 5 tahun setelah Kekhilafahan Utsmani secara resmi bubar pada tahun 1923 M.

Tamim Ansary (sejarawan muslim) menyebut Hasan al-Banna sebagai keturunan intelektualnya Jamaluddin al-Afghani. Anis Matta (eks waka DPR-RI)  menyebutnya salah seorang putra terbaik umat Islam di abad 20.[1] Mari kita simak kebiasaan masa kecilnya.

Baca juga Perjalanan Dakwah Jamaluddin al-Afghani

Hasan al-Banna dilahirkan di kota Mahmudiyah pada tahun 1906 M. Ia tumbuh besar di lingkungan keluarga yang bersih dan religius. Ayahnya merupakan seorang ahli hadist alumni al-Azhar Kairo, disamping bekerja sebagai profesi tukang jam yang digelari as-Sa’ati. Ayahnya lah yang memberikan pendidikan agama bagi anak-anaknya.

Ketika Hasan al-Banna berumur 9 tahun mampu menghafal dua pertiga al-Qur’an. Sepulang sekolah, ayahnya mengajarkan kitab Sirah Nabawiyah (sejarah kehidupan Rosulullah), ilmu Fiqh, dan Nahwu kepada Hasan al-Banna dan adiknya.  Ia belajar fiqh Imam Abu Hanifah dan kitab al-fiyah.

Hasan al-Banna kecil mempunyai jadwal harian yang harus ditepati dan dilaksanakan. Ia bangun waktu sahur dan shalat, dan membangunkan adiknya (Abdurrahman al-Banna) untuk melaksanakan shalat subuh.  Pukul enam pagi waktunya untuk mengaji al-Qur’an. Pukul tujuh pagi mempelajari tafsir al-Qur’an, dan pukul delapan pagi mempelajari Ushul Fiqh dan Fiqh. Selanjutnya ia bersama adiknya berangkat ke sekolah. Itulah rutinitas setiap paginya.

Karena ayahnya mempunyai perpustakaan yang cukup besar, Hasan al-Banna kecil gemar sekali membaca kitab-kitab punya ayahnya. Karena memang dorongan sang ayah yang sangat kuat kepada anak-anaknya untuk membaca kitab-kitab yang ada di perpustakaan pribadinya. Ayahnya sering kali mengadakan majelis-majelis diskusi ilmiah, ia bersama adiknya kerap mengikutinya dengan teliti kajian ilmiah antara ayahnya dengan ulama lain yang ternama.[2]

Baca juga Benarkah Yazid bin Muawiyah Pembunuh Husein bin Ali? 

Peran ayahnya yang sangat perhatian memberikan pengaruh kepada Hasan al-Banna kecil yang kelak menjadi tokoh pergerakan ikhwanul Muslimin yang fenomenal hingga saat ini.

Selesai di Kaki Gunung Gede Pangrango.




[1] Lihat dalam kata pengantar pada  perangkat-perangkat Tarbiyah Ikhwanul Muslimin karya Ali Abdul Halim Mahmud.
[2] Sebagaimana dikisahkan oleh adiknya dalam buku berjudul Cinta di Rumah Hasan al-banna karya M. Lili Nur Aulia, hlm. 8-10.

Sunday, February 26, 2017

Rahasia Kesuksesan Abdullah bin Abbas, Ulamanya Umat Ini

Abdullah bin Abbas merupakan anak dari paman Nabi Muhammad Saw. yang bernama Abbas bin Abdul Muthalib. Seorang penulis ternama, Khalid Moh. Khalid, mendaulatnya sebagai Kiayinya umat ini (Islam). Ya memang begitu faktanya, banyak orang yang datang dari berbagai penjuru dunia untuk mengikuti pendidikan dan mendalami ilmu pengetahuan kepadanya.

Lalu apa rahasianya?

Ketika Abdullah bin Abbas ra. masih kecil, Rosulullah sering menariknya ke dekatnya, menepuk bahunya serta mendoakan;

“Ya Allah, berilah ia ilmu Agama yang mendalam dan ajarkanlah kepadanya ta’wil.”

Rosulullah Saw. sering mengulang-ulang doa tersebut untuk Abdullah bin Abbas. Suatu saat beliau pernah membonceng Ibnu Abbas ra. di atas kendaraannya, disertai dengan pengajaran yang sangat berharga baginya. Pada waktu itu ia berusia sekitar 10 tahun[1]. Ah memang luar biasa cara mengajar beliau kepadanya walau secara usia masih kecil, terus mendoakan dan mengajar pada waktu yang tepat secara kejiwaan. Ibnu Abbas ra. sudah mengetahui jalan hidupnya, pencari ilmu dan mengajarkannya. Ia bersungguh-sungguh selalu menghadiri majelis Rosulullah Saw. dan menghapal apa yang beliau ucapkan.

Ketika Rosulullah Saw. wafat sebelum Abdullah bin Abbas berusia 13 tahun, ia pun bertekad mencari hadist kepada sahabat-sahabat senior Rosulullah Saw.. Ia pernah bertanya kepada 30 sahabat Rosul mengenai satu masalah. Bahkan pernah ia mendapatkan satu hadist dari seorang sahabat Rosul dengan cara mendatangi rumahnya, kebetulan pemilik rumah sedang tidur. Ia duduk menunggunya di depan pintu rumahnya, sehingga pemilik rumah bangun dan kaget melihat ia yang sedang duduk menunggu di depan rumahnya. Pemilik rumah berkata, “Hai saudara sepupu Rosolullah, apa maksud kedatanganmu? Kenapa kamu tidak suruh orang saja kepadaku agar aku datang kepadamu?” “Tidak, “ ujar Ibnu Abbas ra. “Bahkan aku yang harus datang kepada anda,” lanjutnya. Kemudian Ibnu Abbas menanyakan sebuah hadist dan belajar kepadanya.

Ketika Ibnu Abbas dewasa, ia selalu diajak bermusyawarah oleh amirul mukminin Umar bin Khatab mengenai setiap perkara yang sangat penting. Tiada lain, karena ia memiliki hapalan yang sangat kuat dan keluasan ilmu yang melampau usianya. Maka tidak heran, Khalifah Umar bin Khatab memberi gelar kepadanya ‘Pemuda Tua’

Dialog Ibnu Abbas dengan Kaum Khawarij

Ketika Muawiyah tidak mau tunduk atas kekhilafahan Ali bin Abu Thalib ra., Ibnu Abbas berada di pihak Ali. Setelah peristiwa tahkim, terjadi sebagian pendukung Ali keluar dari barisannya. Mereka disebut kaum khawarij. Ia dikirim oleh Khalifah Ali bin Abu Thalib untuk menemui kaum khawarij. Terjadilah dialog yang sangat mengesankan.

“Hal-hal apa saja yang menyebabkan kalian menaruh dendam terhadap Khalifah Ali?” tanya Ibnu Abbas kepada mereka.

Mereka menjawab, “Ada tiga hal yang menyebabkan kebencian kami kepadanya. Pertama, ia bertahkim pada manusia, padahal Allah berfirman; ‘Tak ada hukum kecuali bagi Allah.’ Kedua, ia berperang tetapi tidak menawan pihak musuh dan tidak pula mengambil harta rampasan perang. Seandainya pihak lawan itu orang-orang kafir, berarti harta mereka itu halal. Sebaliknya jika mereka orang-orang beriman maka haram darahnya. Ketiga, waktu bertahkim, ia rela melepaskan gelar Amirul Mukminin dari dirinya demi mengabulakn tuntutan lawannya. Maka ia sudah bukan amirul mukminin lagi, berarti ia pemimpin orang-orang kafir.”

Ibnu Abbas menjawab, “Mengenai perkataan kalian bahwa ia bertahkim kepada manusia dalam agama Allah, apa salahnya?

Hai orang-orang yang beriman jangalah kamu membunuh binatang buruan, ketika kamu sedang ihram. Barang siapa di antara kamu membunuhnya dengan sengaja, maka dendanya ialah mengganti dengan hewan ternak yang sepadan dengan buruan yang dibunuhnya, menurut putusan dua orang yang adil di antara kamu...’ ( al-Maidah [5] : 95)

Nah, atas nama Allah cobalah jawab, manakah yang lebih penting, bertahkim kepada manusia demi menjaga darah kaum muslimin, ataukah bertahkim kepada mereka mengenai seekor kelinci yang harganya seperempat dirham?”

Mereka kaum Khawarij tertegun, lalu Ibnu Abbas ra. melanjutkan, “Tentang mengenai pernyataan kalian tidak melakukan penawanan dan merebut harta rampasan, apakah kalian menghendaki agar Ali mengambil Aisyah istri Rosulullah itu sebagai tawanan dan pakaian berkabungnya sebagai harta rampasan?”

Wajah-wajah kaum Khawarij malu mendengar logika yang tajam ini, lalu Ibnu Abbas melanjutkan, “Adapun mengenai perkataan kalian bahwa ia rela meninggalkan gelar amirul mukminin dari dirinya sampai proses tahkim selesai, dengarkanlah apa yang dilakukan oleh Rosulullah di hari perdamaian Hudaibiyah, yaitu ketika beliau menyetujui isi perdamaian Hudaibiyah yang telah tercapai dengan kaum Quraisy. Kata beliau kepada penulis, ‘Tulislah, inilah yang telah disetujui oleh Muhammad Rosulullah..’. Tiba-tiba utusan Quraisy memprotesnya, ‘Demi Allah jika kami mengakui sebagai Rosulullah, tentulah kami tidak menghalangimu ke Baitullah dan tidak akan memerangimu. Maka tulislah, inilah yang telah disetujui oleh Muhammad bin Abdullah’. Rosulullah berkata kepada mereka, ‘Demi Allah, sesungguhnya saya ini Rosulullah walaupun kalian tidak mengakuinya.’ Beliau menyuruh kepada juru tulis, ‘Tulislah apa yang mereka kehendaki. Tulis, inilah yang telah disetujui oleh Muhammad bin Abdullah..’”

Dengan jawaban Ibnu Abbas yang sangat tajam dan memukau, sekitar dua puluh ribu orang kembali ke pangkuan barisan Khalifah Ali bin Abu Thalib ra. Ia pernah memberikan nasehat kepada Husein bin Ali ra. dan memegang tangannya agar tidak berangkat ke Kufah untuk memerangi Ziad dan Yazid bin Muawiyah. Husein tetap berangkat ke Kufah. Ketika mendengar kabar Husein bin Ali ra. syahid di Karbala, ia sangat bersedih hati.

Itulah kisah Abdullah bin Abbas ra., sepupu Rosulullah yang luas ilmunya.


Selesai di kaki gunung Gede Pangrango
Sumber utama; buku 60 karakteristik sahabat Rosul karya Khalid Moh. Khalid.




[1] Lihat al-Wafi karya Mustafa Dieb al-Bugha&Muhyidin Mistu hlm. 133

Thursday, February 23, 2017

Zuhud Identik Dengan Miskin ?


Mungkin di antara kita selalu memahami jika hidup dengan zuhud itu harus hidup miskin, apa adanya dan serba kekurangan. Benarkah zuhud definisinya seperti itu? Mari kita simak hadistnya, dan pendapat para salafus shalih.

Abul Abbas Sahl bin Sa’d As-Sa’idi ra. Berkata, “Seorang lelaki datang kepada Nabi Saw. dan berkata, ‘Wahai Rosulullah, tunjukkan suatu amalan yang apabila kulakukan, aku akan dicintai Allah dan dicintai manusia.’ Rosulullah Saw. bersabda, ‘Zuhudlah terhadap dunia, pasti Allah akan mencintaimu, dan zuhudlah terhadap apa yang ada ditangan manusia, pasti manusia pun mencintaimu.” (h.r. Ibnu Majah/ hadist arbain ke 31)

Abu Idris al-Khaulani ra. Berkata, “Zuhud terhadap dunia bukanlah mengharamkan yang halal dan membuang harta. Akan tetapi, zuhud terhadap dunia adalah lebih meyakini keberadaan apa yang ada di sisi Allah daripada apa yang ada di tangan kita. Jika ditimpa musibah, maka kita lebih berharap untuk mendapatkan pahala.”

Ibnu Mas’ud ra. Pernah berkata kepada teman-temannya, “Shalat, puasa, dan jihad kalian, lebih banyak yang dilakukan daripada sahabat ra.. akan tetapi kebaikan mereka lebih banyak daripada kalian.” Mereka bertanya, “Bagaimana bisa terjadi?” Ia menjawab, “Mereka lebih zuhud daripada kalian. Mereka mendapatkan banyak harta dunia, akan tetapi harta itu mereka belanjakan untuk perjuangan Islam.”

Abu Sulaiman pernah berkata, “Utsman ra. Dan Abdurrahman bin Auf ra. Adalah gudang harta. Keduanya membelanjakan harta itu dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah. Semua tingkah lakunya dilakukan sepenuh hati dan didasari pengetahuan yang luas.”

Pendapat para ulama salafus shalih

Hasan al-Basri berkata, “Seorang yang zuhud ialah jika ia melihat orang lain, ia berkata, ‘ia lebih baik dariku’.”

Wahb bin al-Ward berkata, “Zuhud adalah hendaknya kamu tidak sedih ketika kehilangan dunia dan tidak bangga ketika mendapatkannya.”

Az-Zuhri berkata, “Tidak tergoda oleh yang haram, dan tidak tertipu oleh yang halal.”

Sufyan bin Uyainah, “Seorang yang zuhud ialah jika ia mendapat nikmat, ia bersyukur, dan jika ditimpa musibah, ia sabar.”

Rabi’ah berkata, “Zuhud yang paling utama ialah mengumpulkan sesuatu dengan benar, dan meletakkannya dengan benar.”

Sufyan at-Tsauri berkata, “Zuhud adalah pendek angan-angan. Bukan dengan memakan makanan yang tidak enak dan mengenakan pakaian yang jelek.”

Imam Ahmad berkata, “Zuhud adalah pendek angan-angan dan tidak serakah terhadap harta yang dimiliki orang lain.”

Hasan al-Basri berkata, “Seseorang akan tetap disenangi sesama manusia, selama ia tidak tamak terhadap apa-apa yang mereka miliki. Karena jika ia tamak, maka mereka akan membencinya.”

Seorang Badui bertanya kepada penduduk Bashrah, “Siapakah pemimpin kalian?” Mereka menjawab, “Hasan al-Bashri.” Ia bertanya, “Dengan cara apa ia menjadi pemimpin kalian?” Mereka menjawab, “Orang-orang membutuhkan ilmunya, sedangkan ia tidak memerlukan dunia yang mereka miliki.” Ia berkata, “Alangkah baiknya orang ini.”

*tulisan di atas disimpulkan dari buku berjudul Al-Wafi Syarah kitab Arbain karya DR. Musthafa Dieb al-Bugha Muhyidin Mistu

Wednesday, February 22, 2017

Bantahan Terhadap Teori Gujarat dan Persia

Kebanyakan orang telah mengetahui bahwasanya Islam datang ke Nusantara (Indonesia) pada abad ke-13 M. Tentunya pengetahuan ini berdasarkan teori Gujarat dan Teori Persia. Apa itu teori Gujarat-Persia, dan bagaimana bisa Islam datang ke Indonesia pada abad ke-13 M langsung mendirikan kerajaan Islam Samudra Pasai yang didirikan pada tahun 1275 M/ abad ke-13 M?

Kami akan memaparkan dulu apa itu teori Gujarat, dan apa itu teori Persia?

a.       Teori Gujarat
Teori ini menyatakan bahwa agama Islam masuk ke Indonesia pada abad ke-13 M. Pendukung teori ini adalah Snouck Hurgronye, W.F. Stutterheim, dan Bernard H.M Vlekke. Islam tidak mungkin masuk ke Indonesia dari Arab tanpa melalui tasawuf yang berkembang di India. Gujarat itu merupakan India.

Bantahan; Pendapat ini lemah, karena tidak menjelaskan masa masuknya dan masa perkembangannya. Apa mungkin Islam datang ke Samudra Pasai (Indonesia) langsung mendirikan kekuasaan politik/kerajaan pada abad ke-13 M? Dan tidak menjelaskan di Gujarat menganut mazhab apa dan di Samudra Pasai menganut mazhab apa?[1]

b.      Teori Persia
Teori ini berpendapat bahwa agama Islam masuk pada abad ke–13 M dan pembawanya berasal dari Persia (Iran). Pendukung pendapat ini adalah Prof. Dr. Abu Bakar Atjeh yang mengikuti pandangan Dr. Hoesein Djajaningrat. Islam datang dari Persia, dan menganut mazhab Syiah. Ini didasarkan pengejaan baca al-Qur’an menurut bacaan persia. Misal Ft-hah dalam Persia adalah jabar, kasroh-je er, dhommah – py es.

Bantahan; pendapat ini pun lemah, karena tidak semua pengguna pengejaan bacaan al-Qur’an seperti ejaan Persia menganut Syiah. Bukankahnya dulu Bagdad (bagian dari Persia) sebagai pusat ibu kotanya Khialafah Islam bani Abbasiyah menganut mazhab Syafe’i?[2] Apakah mayoritas muslim Indonesia bermazhab Syi’ah saat ini?

Lantas kalau begitu, sebenarnya kapan Islam masuk ke Indonesia?

Teori Mekkah ini didukung oleh Hamka, Van Luer, N.A. Baloch dan T.W. Arnold.[3] Bahwa Islam datang ke Indonesia pada abad 7 M. Fakta ini diangkat dari Berita Cina Dinasti Tang yang menuturkan telah ditemuinya daerah hunian pedagang Arab Islam di pantai barat Sumatra. Hal ini dapat disimpulkan pedagang ini berasal dari Arab.  M.C. Ricklefs memastikan Islam datang ke Indonesia pada zaman Khalifah Utsman bin Affan. Karena zaman Khalifah Utsman telah ada hubungan dagang dengan Cina, sehingga pada abad IX sudah ada ribuan pedagang Muslim di Kanton.  Kontak dunia Islam dengan Cina terpelihara melalui jalur laut, terutama melalui perairan Indonesia.[4] N. A. Baloch menjelaskan telah terjadi pengembangan Islam hingga pedalaman pada abad ke-6 H/ 13 M. Islamisasi di Indonesia selama 5 abad dari 7 M hingga 13 M sangat langka bukti tertulisnya, sehingga sampai saat ini masih terjadi perdebatan apakah yang mempunyai peran Islamisasi itu kalangan Sufi atau pedagang.

Selesai di kaki Gunung Gede Pangrango






[1] Api Sejarah Jilid I, Ahmad Mansur Suryanegara, hlm. 99
[2] Ibid. Hlm. 100
[3] Ibid. Hlm. 99-102.
[4] Sejarah Indonesia Modern, M.C. Ricklefs, hlm. 3-4

Monday, February 20, 2017

Hijrah Yang Pertama (16)

Semenjak Rosulullah Saw. berdakwah secara terang-terangan, gangguan yang diarahkan kepada kaum muslimin yang lemah terus terjadi. Mengingat Rosulullah tidak mampu untuk melindungi mereka,  beliau berkata kepada mereka, “Pergilah ke tanah Habsyah, karena di sana ada seorang raja yang tak seorang pun didzolimi di sana, sampai Allah memberi kalian jalan keluar dari kesulitan yang kalian hadapi.”[1]

Kaum muslimin yang ikut hijrah ke Habsyah berjumlah sekitar 10 sampai 16 orang[2], di antaranya terdapat puteri Rosulullah bernama Ruqayyah bersama suaminya, Utsman bin Affan. Peristiwa ini terjadi pada bulan Rajab tahun lima kenabian. Peristiwa ini dikenal hijrah yang pertama dalam sejarah Islam. Mereka tinggal di Habsyah selama 2 bulan, pada bulan Syawal tahun yang sama mereka kembali ke Mekkah karena mendengar bahwasanya kaum Quraisy telah masuk Islam. Begitu mereka tiba di perbatasan, ternyata kabar tersebut adalah berita bohong. Sebagian ada yang kembali ke Habsyah, masuk Mekkah secara sembunyi-sembunyi, dan masuk Mekkah dengan jaminan keamanan dari salah seorang Quraisy.

Penyebab kabar bohongnya bahwa kaum Quraisy masuk Islam ialah ketika Nabi Saw. membaca surat An-Najm di depan Ka’bah sampai ayat, ‘Maka apakah patut kamu (orang-orang musyrik) menganggap (berhala) al-Lata, al-Uzza, dan al-Manat, yang ketiga kemudian (sebagai anak perempuan Allah).(An-Najm [53] : 19-20). Setan membisikkan kepada mereka, “Itulah Gharaniq yang agung dan syafaat benar-benar yang diharapkan.” Mereka mengira bahwasanya Nabi mengucapkannya, mereka (kaum musyrikin) ikut sujud bersama beliau. Rosulullah mendengar bisikan setan kepada mereka, beliau sedih. Sebenarnya Nabi tidak memuji tuhan-tuhan berhala mereka. Turunlah surat al-Hajj ayat 52 yang menghibur dan mengurangi kesedihan beliau, beliau pun bergembira. Ini merupakan ketentuan-Nya yang berlaku terhadap para Nabi dan Rosul karena hikmah yang diketahuinya.[3]

Lalu siapa yang membiayai perjalanan hijrah kaum muslimin yang lemah ke Habsyah? Dialah Utsman bin Affan yang kaya, menantunya Rosulullah Saw. Di Habsyah, Utsman membina koneksi bisnis yang membuatnya lebih kaya lagi. Bahkan ketika Hijrah ke Yastrib (kemudian hari berganti Madinah), Utsman tidak pernah memutus hubungan bisnis dengan kota asalnya, Mekkah.[4] Utsman bin Affan benar-benar kaya, selalu mengeluarkan harta kekayaannya yang sangat banyak untuk perjuangan Islam.
Selesai di kaki gunung Gede Pangrango






[1] Abu Bakar Jabir al-Jazai’ri dalam Sirah Nabawiyahnya hlm. 136.
[2] Menurut hitungan Abu Bakar Jabir dan Umar Abdul Jabar ada 10 orang, sementara Shafiyurrahman al-Mubarakfury ada 12 laki-laki dan empat perempuan.
[3] Ibid, hlm. 137.
[4] Dari Puncak Bagdad, Tamim Ansary, hlm. 108.

Kaderisasi Award 2016, KAMMI Daerah Bandung

Piagam Penghargaan


Dept. Kaderisasi KAMMI Daerah Bandung mengadakan agenda Kaderisasi Award pada tanggal 19 Februari 2017. Penghargaan sebagai salah satu kader terbaik KAMMI Daerah Bandung diberikan pada saudara Fuad Farhat, Fakultas Tarbiyah Unisba angkatan 2014.

Tujuan Kaderisasi Award untuk menularkan kebaikan dan memotivasi kader-kader KAMMI untuk berprestasi baik secara akademik maupun non akademik. Reward yang diberikan berupa pemberian sertifikat dan buku. Semoga saudara Fuad bisa berkarya untuk agama dan Bangsa.

Salam Muslim Negarawan


Sunday, February 19, 2017

Gus Dur, Presiden Gila

“Gitu saja kok repot”  ini perkataan Gus Dur (Abdurrahman Wahid) yang sangat populer di masyarakat Indonesia. Menurut puterinya, Yenny Wahid, kalimat sederhana tersebut dari Fiqih, yakni kosa kata arab Yasir Wa La Tuasir artinya permudah jangan dipersulit. Saat Gus Dur menjabat presiden RI dikenal pandai berdiplomasi dengan humor.

Mungkin pembaca bertanya-tanya, di mana letak kegilaannya Gus Dur? Ambil nafas dulu ya, mari simak kisah kegilaannya di bawah ini..

Gus Dur merupakan cucu KH. Hasyim Asy’ari, pendiri NU dan pesantren Tebuireng Jatim, yang memiliki perpustakaan pribadi yang besar. Kiayi Hasyim merupakan sosok yang gemar membeli buku, membaca, dan menulisnya kembali. Kebiasaan membaca menurun kepada anaknya, Wahid Hasyim (ayah Gus Dur). Ayah Gus Dur sangat mempengaruhinya dalam kegilaan membaca, Gus Dur sendiri pecandu buku. Ia jarang keluar keluar tanpa membawa sebuah buku. Jika tidak ada sesuatu yang ditemukannya, ia diizinkan untuk mencarinya di toko-toko jualan buku bekas di Jakarta. Ayah Gus Dur meninggal dunia pada bulan April 1953. Ibunya lah yang berjuang sendirian untuk membesarkan anak-anaknya.

Gus Dur pernah tidak naik kelas pada tahun 1954, ia harus mengulang kelas satu SMEP karena gagal dalam ujian. Kegagalan ini disebabkan seringnya ia menonton pertandingan sepak bola hingga tidak punya waktu untuk mengerjakan pekerjaan rumahnya. Ia pandai, walaupun pada saat yang sama bermalas-malasan. Pelajaran-pelajaran di kelasnya ia rasakan tidak cukup menantang. Walaupun sedih ditinggalkan ayahnya, ia tidak pernah menunjukkan kesedihannya. Ia habiskan sebagian besar waktunya untuk menonton sepak bola dan membaca buku.

Gusdur dikirim ke Yogyakarta untuk melanjutkan SMPnya, dan tinggal di rumah teman ayahnya bernama Kiayi Junaidi seorang anggota Majelis Tarjih Muhammadiyah. Tiga kali dalam seminggu pergi belajar ke pesantren al-Munawwir di Krapyak. Tahun 1957 lulus dari SMEP di Yogyakarta, ia mulai mengikuti pelajaran secara penuh di pesantren. Ia bergabung dengan pesantren Tegalrejo di Magelang, di bawah asuhan Kiayi Khudori. Pada saat yang sama belajar juga paro waktu di pesantren Denanyar, Jombang, di bawah asuhan kakeknya dari pihak ibu, Kiayi Bisri Syansuri. Ia juga belajar di pesantren Tambak beras di bawah bimbingan Kiayi Wahab Hasbullah. Ia dapat membuktikan sebagai siswa yang cemerlang dan mempunyai ingatan yang kuat.

Ketika kuliah di al-Azhar Kairo, selain menghabiskan waktunya menonton film-film Eropa, ia sering berada di perpustakaan Kairo, Universitas Amerika, dan Prancis. Pada saat kuliah di Bagdad, ia tidak terlepas dari perpustakaan. Selain belajar tentang ilmu keislaman, ia juga mempunyai minat yang besar pada teori sosial Barat liberal.

Hal yang unik darinya, ketika masih kuliah di Mesir, secara pemikiran ia berseberangan dengan Sayyid Quthb (pemikir Ikhwanul Muslimin), ia sangat muak dengan kebrutalan rezim Nasser yang menindas para aktivis Ikhwanul Muslimin terutama Sayyid Quthb. Ia memutuskan untuk bergabung dengan ratusan mahasiswa untuk berdoa di depan penjara Sayyid Quthb pada hari digantung matinya oleh rezim Nasser.

Memang Gus Dur itu presiden gila, ya gila karena banyak membaca buku. Karena saking gilanya membaca buku, ia menjadi salah satu tokoh besar umat Islam yang pernah menjabat ketum PBNU dan Presiden RI yang ke empat.

(tulisan di atas diringkas dari buku berjudul MEREKA BESAR KARENA MEMBACA karya Suherman)

Apabila banyak kesalahan data, mohon saran masukannya. Terima kasih banyak

Selesai di kaki gunung Gede Pangrango.

Potret Pendidikan Islam di Pedesaan, Kp. Surupan Sukaresmi Cianjur

Kali ini kami akan membicarakan potret pendidikan Islam di pedesaan yang ada di kabupaten Cianjur. Terutama di kampung Surupan Desa Sukaresmi Kecamatan Sukaresmi Kabupaten Cianjur. Mayoritas penduduk di sini bekerja sebagai petani dan buruh tani. Sebelum adanya kelas jauh, anak-anak lulusan SD  kampung ini hanya sedikit yang melanjutkan ke jenjang Smp. selain faktor biaya, akses jalan pun jauh ke tempat sekolah negeri lain.

Pada tahun pelajaran 2014/2015, YPI Bani Ibrahim al-Islamiyyah mengadakan kelas jauh untuk jenjang Smp di Kp. Surupan, Smp Bina Utama namanya. Selain ada pelajaran umum, ada pelajaran tambahan agama seperti Bahasa Arab, Tarikh Islam, al-Qur'an, dan Tauhid. Masyarakat di sana meyambutnya gembira, selain jarak sangat dekat, biaya sekolah pun GRATIS.

Saat ini proses kegiatan belajar masih menumpoang di SDN Surupan. Semangat belajar mereka tinggi, Semoga Mereka adalah tunas harapan bangsa Indonesia.


Keindahan Pantai di Cianjur Selatan, Wisata Alternatif

Siang ini kami mendapatkan kiriman foto-foto keindahan pantai Jayanti Cidaun Cianjur selatan. Saat membukanya, 'Betapa indahnya pantai ini!'

Hal ini bisa alternatif wisata bagi anda sekeluarga.. Ini foto-fotony


Indah bukan? Silahkan direncanakan untuk wisata sekeluarga..
Kiriman dari seorang teman yang mengabdi untuk mengajar di daerah pedalaman, Cidaun Cianjur Selatan.

Friday, February 17, 2017

Taubatnya Pembunuh Hamzah bin Abdul Muthalib


Wahsyi merupakan seorang budak dari Habsyah yang dimiliki oleh Jubair bin Muth’am, paman Jubair tewas dalam perang Badar. Ia ingin membalas dendamkan atas kematian pamannya, lalu berkata kepada Wahsyi, “Berangkatlah bersama orang-orang itu! Dan Jika kamu berhasil membunuh Hamzah, maka kamu bebas...!” Mereka membawanya kepada Hindun bin Utbah. Hindun menawarkan harta kekayaan kepada Wahsyi jika ia  berhasil membunuh Hamzah. Tawaran kemerdekaan dirinya dan harta kekayaan membuatnya sulit untuk menolak. Keahlian Wahsyi ialah melontarkan tombaknya tepat sasaran.
Ketika pertempuran kedua pasukan terjadi dalam perang Uhud, Wahsyi mulai mencari-cari Hamzah dan mengintainya. Hamzah berhasil menyusup ke tengah pasukan musyrikin Mekkah, menerjang kesana kemari.Wahsyi bersiap-siap membunuh Hamzah, dan bersembunyi di balik pohon agar lontaran tombaknya tepat sasaran.

Wahsyi mulai menggerakan tombak mengambil ancang-ancang, setelah tepat sasaran, ia melontarkan  tombaknya hingga mengenai tepat  perut bawah Hamzah hingga tembus ke selangkangannya. Hamzah berupaya bangkit dan mencoba membunuhnya hingga akhirnya rubuh. Wahsyi mendekatinya dan mencabut tombaknya, lalu kembali ke kemah. Karena tugasnya telah selesai.

Setelah bebas dari perbudakan, Wahsyi menetap di Mekkah hingga terjadinya penaklukkan kota Mekkah pada tahun 8 H, ia kabur ke Thaif. Ketika Rosulullah menerima utusan dari Thaif untuk menyatakan keislamannya, Wahsyi hendak kabur entah ke Syam, Yamamah, atau lainnya. Di tengah bingungnya, datang seseorang seraya berkata kepadanya, “Hai tolol! Rosulullah tak hendak membunuh seseorang yang masuk Islam..!”

Wahsyi datang menemui Rosulullah di Madinah, berada di depannya ia mengucapkan dua kalimat syahadat. Ketika melihatnya, beliau bertanya;

“Apakah kamu ini Washy...?”

“Benar ya Rasulullah, “ jawab Washy.

Beliau meminta Washy untuk menceritakannya tentang pembunuhan Hamzah. Ia menceritakan semuanya pada Rosulullah. Sampai akhirnya beliau bersabda, “Sangat menyesal..! Sebaiknya engkau menghindarkan perjumpaan denganku..!”

Wahsyi selalu menghindarkan diri dari hadapan dan jalan yang akan ditempuh oleh Rosulullah agar tidak kelihatan olehnya sampai beliau diwafatkan oleh Allah. Ketika Abu Bakar memegang Kekhilafahan Islam pasca Rosul, ia ikut serta dalam memadamkan pemberontakan.
Wahsyi ikut bergabung dengan pasukan Islam untuk memadamkan pemberontakan yang dilakukan oleh Musailamah al-Kadzab (sang Nabi Palsu). Ia membawa tombak yang pernah digunakan untuk membunuh Hamzah bin Abdul Muthalib. Ia mencari dan mengintai Musailamah, ia bersiap-siap menggerakkan tombak membuat ancang-ancang hingga terasa tepat, ia melontarkan tombaknya hingga Musailamah Nabi palsu itu terbunuh. Ia berkata, “Maka sekiranya saya dengan tombak itu telah membunuh sebaik-baiknya manusia yakni Hamzah, saya berharap kiranya Allah akan mengampuniku karena tombaknya itu pula saya telah membunuh sejahat-jahatnya manusia yaitu Musailamah al-Kadzab...!”


(Kisah ini terdapat dalam bukunya Khalid Moh. Khalid yang berjudul karakteristik 60 Sahabat Nabi, penulis hanya melakukan mendaur ulang bahasanya)

Kisah Heroiknya Singa Allah..

Masuk Islamnya Hamzah bin Abdul Muthalib dan Umar bin Khatab menjadi penguat barisan dakwah Rosulullah Saw. Bahkan Hamzah ini sebagai singanya Rosul. Ia ikut serta bersama Rosul dan kaum muslimin hijrah ke Yastrib kemudian hari berganti menjadi Madinah.

Ketika Allah Swt. memperbolehkan Rosul-Nya untuk berperang sebagai pembelaan diri pada tahun pertama Hijriyah, beliau mengangkat Hamzah bin Abdul Muthalib sebagai pemegang panji perang Usya’irah.  Peperangan ini tidak terjadi pertempuran, karena kafilah dagang Quraisy berhasil lolos.

Pada tahun kedua Hijriyah, terjadilah perang Badar Kubro. Di mana pasukan Islam berjumlah kurang lebih 313, sementara pasukan Musyrikin Quraisy berjumlah 950 yang dipimpin oleh Abu Jahal. Sebelum terjadinya pertempuran, terjadinya satu lawan satu. Majulah tiga penunggang kuda yang handal yang berasal dari satu keluarga, yakni Utbah bin Rabi’ah, Syaibah bin Rabi’ah, dan al-Walid bin Utbah. Mereka meminta adu tanding kepada Rosulullah. Maka muncul lah tiga sahabat dari kalangan Anshar.

“Siapakah kalian ini?” tanya mereka bertiga
“kami orang-orang Anshar,” jawab ketiga sahabat Nabi.
“Aku memerlukan orang-orang terpandang, tidak butuh kalian. Kami hanya menginginkan kerabat pamanku.”

Rosulullah memerintahkan Ubaidah bin Harits, Hamzah bin Abdul Muthalib, dan Ali bin Abi Thalib. Ubaidah berhadapan dengan Utbah, Hamzah berhadapan dengan Syaibah, Ali berhadapan dengan al-Walid. Ali dan Hamzah tidak kesulitan mengalahkan musuhnya, sementara Ubaidah masih saling melancarkan serangan. Sehingga Ali dan Hamzah membantunya untuk membunuh Utbah. Setelah ini terjadilah pertempuran yang dahsyat, pada akhirnya dengan pertolongan Allah Swt. pasukan Islam menang dalam pertempuran Badar Kubro ini.

Selama setahun, kaum musyrikin merencanakan serangan balasan terhadap Rosulullah dan para sahabatnya. Target utama yang harus dibunuh setelah Rosulullah adalah Hamzah bin Abdul Muthalib, ya Hamzah sebagai urutan kedua target utama dikarenakan sangat dibenci oleh Hindun bin Utbah. Karena Hamzah telah membunuh ayah dan anaknya. Hindun memberikan janji kebebasan dan hadiah lain pada Washy jika berhasil membunuh Hamzah. Washy merupakan seorang budak dari Habsyah yang pandai melontar tombak.

Serangan balas dendam itu akan tiba, dalam sejarah peristiwa ini dinamakan perang Uhud yang terjadi pada tahun ketiga Hijriyah. Pasukan musyrikin Quraisy berjumlah 3000 orang yang dipimpin oleh Abu Sufyan, sementara pasukan Islam sebanyak 1000 orang. Di tengah perjalanan, Abdullah bin Ubay[1] beserta 300 pasukannya membelot dari pasukan Rosulullah. Sehingga pasukan yang dipimpin oleh Rosul menyusut menjadi 700 orang.

Pertempuran yang tidak seimbang secara jumlah pun terjadi, sang Singa Allah Hamzah bin Abdul Muthalib mengamuk dan berhasil menyusup ke tengah barisan pasukan musyrikin tanpa takut sama sekali. Dia seperti singa menerkam musuh-musuhnya kesana kemari, ada seorang budak bernama Washy yang dari tadi mengincar Hamzah dari tadi. Pada waktu yang tepat, Washy melontarkan tombaknya dengan tepat mengenai perut bawahnya hingga tembus ke selangkangannya. Hamzah hendak membunuh Washy, dan akhirnya roboh. Hindun bin Utbah menghampiri jasad Hamzah bin Abdul Muthalib lalu mengambil jantung Hamzah untuk dikunyah. Karena tidak bisa menelannya, Hindun memuntahkan kembali. Lalu memotong telinga dan hidung Hamzah untuk dijadikannya sebagai gelang kaki dan kalung.

Karena tidak patuhnya pasukan pemanah terhadap Rosulullah, menyebabkan kekalahan pasukan Islam. Rosulullah Saw. sangat kehilangan  atas kepergian pamannya, Hamzah bin Abdul Muthalib.

Referensi buku;
1.       Sirah Nabawiyah karya Abu Bakar Jabar al-Jaza’iri
2.       Sirah Nabawiyah karya Shafiyurrahman al-Mubarakfuri
3.       Khulashoh Nurul Yaqin karya Umar Abdul Jabbar
4.       Kisah 60 karakteristik Sahabat Nabi karya Khalid Moh. Khalid

Selesai di kaki gunung Gede Pangrango.





[1] Tokoh kaum munafik

Thursday, February 16, 2017

Benarkah Ali Pernah Melaknat Abu Bakar, Umar, dan Utsman?


Saya sering mendengar ucapan laknat untuk Abu Bakar, Umar bin Khatab, dan Utsman bin Affan dari mereka yang pro ahlul bait. Saya akan mengambil referensinya dari sebuah buku Sirah Nabawiyah karya seorang ulama besar, DR. Muhammad Sa'd Ramadhan al-Buthy. Saya akan meringkasnya secara singkat.
Setelah Rosulullah Saw. wafat, kaum muslimin yang berkumpul di Saqifah bani Sa'idah telah menyepakati bahwa Abu Bakar sebagai Khalifah pengganti Rosulullah. Ali bin Abi Thalib tidak pernah menentang kesepakatan tersebut. Adapun mengenai keterlambatan pembaiatan terhadap Abu Bakar dikarenakan perbedaan pendapat dengan Fatimah mengenai masalah warisan dari Rosulullah Saw.
Ketika dalam Perang Riddah, Abu Bakar bersiap memimpin pasukan ke Dzil Qishsah, namun Ali bin Abi Thalib mencegahnya seraya berkata, " Wahai Khalifah Rosulullah, kuingatkan kepadamu apa yang pernah dikatakan oleh Rosulullah Saw. pada perang Uhud, 'Sarungkanlah pedangmu dan senangkanlah kami dengan dirimu. ' Demi Allah, jika kaum muslimin mengalami musibah karena kematianmu, niscaya mereka tidak akan memiliki eksitensi sepeninggalanmu."
Bahkan ketika Abu Bakar memprakarsai ekspansi militer ke negeri-negeri Romawi Timur (Byzantine), beliau bertanya kepada Ali. Ali bin Abi Thalib mendukung gagasan tersebut. Di mata Abu Bakar, posisi Ali bin Abi Thalib baginya sangat penting dalam kepentingan dakwah Islam.
Sekiranya benar bahwa Ali bin Thalib mempunyai kebencian kepada Abu Bakar, tentunya tidak mungkin Ali melakukan pembaiatan, mencegah kepergian Abu Bakar dalam memimpin perang, dan mendukung langkah-langkah Abu Bakar sebagai Khalifah. Apapun yang dilakukan oleh Ali bin Thalib dalam penjelasan di atas merupakan bentuk kecintaan kepada Abu Bakar. Jika kecintaan Ali bin Abi Thalib terhadap Abu Bakar begitu besar, kenapa harus mencaci maki dan melaknat Abu Bakar?
Ketika Umar bin Khotob terpilih menjadi khalifah, beliau menempatkan Ali menjadi mustasyar awwal ( penasihat pertama). Saking pentingnya posisi Ali bin Abi Thalid di matanya, beliau sampai bilang, “Seandainya tidak ada Ali, niscaya Umar celaka”.  Bahkan Ali bin Abi Thalib memberikan nasehat agar  Umar bin Khotob tidak berangkat untuk memimpin pasukannya memerangi orang-orang Persia.
Ketika tim Ahli Syuro memutuskan Utsman bin Affan sebagai Khalifah yang ketiga, menurut Ibnu Katsir bahwa Ali lah yang pertama kali membaiatnya sebagai Khalifah.  Bahkan menurut Said Ramadhan al-Buthi menyatakan bahwa Ali bin Abi Thalib sebagai pendukung terbaik khilafah yang dipimpin oleh Utsman bin Affan.
Ketika ada rencana pembunuhan terhadap Khalifah Utsman, Ali menyuruh kedua anaknya (Hasan dan Husein) untuk menjaga rumahnya Khalifah Utsman bin Affan.
Jika benar ada perintah dari Rosulullah mengenai bahwasanya kekuasaan pasca Rosulullah diserahkan kepada Ali, tidak mungkin sahabat mulia seperti Abu Bakar, Umar bin Khotob, dan Utsman bin Affan melanggar titah Rosul. Begitu pula Ali, apakah mungkin Ali berpaling dari titah Rosulullah mengenai kekhilafahan diserahkan kepadanya?
Para ulama bersepakat bahwasanya tidak ada nash dalil yang menyatakan bahwa kekhilafahan pasca Rosulullah Saw. Diserahkan kepada Ali bin Abi Thalib.  Kesimpulan dari tulisan ini adalah jika kita mencintai Ali bin Abi Thalib, teladanilah beliau begitu dalamnya cinta beliau kepada Abu Bakar, Umar bin Khotob, dan Utsman bin Affan. Jangan pernah melaknatnya..
 (tulisan di atas pernah dipublikasikan di blog saya pribadi yang lain  [www.imannumberone.wordpress.com]dalam dua judul yang terpisah)

Tuesday, February 14, 2017

Tawaran Dunia Untuk Menghentikan Dakwah Nabi (15)


Para ulama Tarikh berbeda-beda dalam penyusunan rangkaian peristiwa kehidupan Rosulullah. Dalam kesempatan ini, saya mengambil dari susunan peristiwa kenabian dari M. Said Ramadhan al-Buthy dan Umar Abdul Jabar. Secara substansi tidak ada perbedaan sama sekali.

Setelah tiga kali kaum Quraisy mendatangi Abu Thalib (penjamin Rosul) mengalami kegagalan[1], lalu dilanjutkan gangguan yang dilancarkan kepada Rosul dan para sahabatnya semakin menambah keimanan mereka. Kaum musyrikin Quraisy sudah berputus asa. Salah seorang cendikiawan Quraisy bernama utbah bin Rabiah mendatangi elit Quraisy meminta ijin kepada mereka untuk menawarkan beberapa hal kepada Rosulullah agar bersedia menghentikan dakwahnya. Mereka setuju apa yang akan dilakukan oleh Utbah Bin Rabiah. Lalu ia datang kepada Nabi Muhammad, dengan menawarkan sebagai berikut;

11. Harta kekayaan
22. Mengangkat sebagai raja
33.  Menawarkan pengobatan kepada Nabi karena mereka beranggapan Nabi kerasukan jin

Rosulullah bertanya kepada Utbah bin Rabiah, “Sudah selesaikah, wahai Abul Walid?” Utbah menjawab, “Sudah.” Beliau berkata,”Sekarang dengarkanlah dariku.” Beliau membacakan surat Fushilat [41], ketika sampai ayat, ‘Jika mereka berpaling, maka katakanlah, Aku telah memperingatkanmu dengan petir, seperti petir yang menimpa kaum ‘Aad dan Tsamud.’ (Fushilat [41] : 13), Utbah menutup mulut Nabi agar menghentikannya, karena takut dengan ancaman ayat tersebut. Utbah kembali pada tokoh-tokoh Quraisy, dan ia menyarankan agar mereka membiarkan dakwah Nabi. Para tokoh Quraisy menyangka bahwasanya Utbah telah kena sihir dari Nabi.[2]

Setelah kegagalan Utbah bin Rabiah, datanglah al-Walid bin Mughirah dan al-‘Ash bin Wail menemui Rosulullah Saw. untuk menawarkan beberapa hal, diantaranya;

11. Harta kekayaan
22.  Gadis tercantik

Tawaran tersebut dengan syarat agar Nabi bersedia menghentikan kecaman kepada tuhannya kaum musyrikin Quraisy, beliau menolak tawaran mereka berdua. Lalu mereka berdua menawarkan, “Bagaimana kalau anda menyembah tuhan-tuhan kami hari ini dan kami menyembah Tuhanmu sehari (bergantian)?” Nabi pun tetap menolak, lalu turunlah QS. Al-Kafirun ayat 1-6. [3]
Kaum musyrikin Quraisy berputus asa, dan beberapa kali mereka mengulang yang sebelumnya telah Utbah lakukan. Menurut Abu Bakar Jabir al-Jaza’iri, terjadi lima kali penawaran kepada Rosulullah, tidak satu pun beliau tertarik dengan tawaran dunia yang ditawarkan oleh mereka.[4] Beliau berdakwah semata-mata karena Allah Swt., bukan karena untuk apapun.

ketika penawaran terakhir musyrikin Quraisy meminta kepada Nabi untuk membangkitkan nenek moyangnya, terutama Qushayyi bin Kilab, meminta kebun, istana, emas, perak. Jika Nabi dapat membuktikannya, mereka akan percaya bahwa beliau benar-benar utusan Allah. Nabi Saw. menjawab, "Aku tidak akan melakukannya. Aku tidak meminta hal itu kepada Allah."

Selesai di kaki gunung Gede Pangrango




[1] Lihat Khulashoh Nurul Yaqin karya Umar Abdul Jabar, 21-23
[2] M. Said Ramadhan al-Buthy, 89-91. Abu Bakar Jabir, 117-118.
[3] M. Said Ramadhan al-Buthy, 91-92.
[4] Lihat dalam sirahnya, hlm. 117 sampai 124.

Sunday, February 12, 2017

Bisakah Orang Miskin Bersedekah?

Mungkin di antara kita selalu berpikir bahwa orang yang bisa bersedekah itu orang-orang yang kaya. Tidak sedikit orang beranggapan bahwa orang kaya yang suka bersedekah lebih mulia dibandingan dengan orang miskin. Ibadahnya shalat orang kaya dengan orang miskin sama, puasanya orang kaya dengan orang miskin sama juga. Bedanya orang kaya bisa bersedekah dengan kelebihan hartanya, sementara orang miskin? Jangankan bersedekah dengan kelebihan harta, dengan kebutuhan sendirinya masih kesulitan.

Suatu ketika banyak  orang miskin dari kalangan Muhajirin, dan sedikit dari kalangan Anshor tidak bisa memperbanyak amal kebaikan, karena tidak memiliki harta untuk disedekahkan. Sementara mereka sering mendengar ayat-ayat al-Qur’an dan hadist Nabi yang mendorong untuk diinfakkan/disedekahkan hartanya, memuji orang-orang yang berinfakkan hartanya, dan menjanjikannya surga yang luasnya seluas langit dan bumi. Para sahabat Nabi yang kaya berlomba-lomba untuk berinfak/bersedekah hartanya, ada yang beribu-ribu dinar, ada pula yang menyedekahkan seluruh hartanya. Rosulullah Saw. selalu mendoakan dan memohon ampunan bagi mereka yang telah mengeluarkan hartanya karena Allah.

Sementara para sahabat Rosul yang miskin, tidak bisa berlomba-lomba dalam kebaikan sebagaimana yang dilakukan oleh sahabatnya yang kaya. Mereka berkumpul, lalu menghadap Rosul smbil bertanya, “Ya Rosulullah, orang-orang kaya telah mendapatkan pahala yang banyak, sedangkan kami tidak. Karena mereka juga shalat sebagaimana kami shalat, mereka juga puasa sebagaimana kami puasa. Tidak ada kelebihan sama sekali dalam hal ini. Akan tetapi, mereka lebih dari kami, karena mereka bisa berinfak dengan kelebihan hartanya. Sedangkan kami tidak memiliki apa pun yang kami infakkan agar bisa menyusul mereka. Padahal kami benar-benar ingin bisa mencapai kedudukan mereka. Apa yang perlu kami perbuat?”

Rosulullah betul-betul memahami keinginan mereka yang kuat untuk mencapai derajat yang tinggi di sisi Tuhannya. Lalu beliau bersabda, “Bukannya Allah telah menjadikan sesuatu yang bisa kalian sedekahkan? Sesungguhnya setiap tasbih (Subhanallah) adalah sedekah, setiap tahmid (Alhmadulillah) adalah sedekah, setiap tahlil (laa illaha illallah)  adalah sedekah, menyeru kepada kebaikan adalah sedekah, mencegah kemungkaran adalah sedekah, dan bersetubuh dengan istri juga sedekah.” Mereka kaget, lalu bertanya kembali, “Wahai Rosulullah, apakah jika di antara kami menyalurkan hasrat biologisnya (kepada istrinya) juga mendapatkan pahala?” Beliau menjawab, “Bukankah jika disalurkan pada yang haram, dia berdosa?, maka demikian pula jika disalurkan pada yang halal, dia mendapatkan pahala.”[1]

Subahanallah, pintu sedekah terbuka selebar-lebarnya untuk orang-orang miskin. Bahkan dalam hadist Arbain yang ke 26 mendamaikan dua orang yang bertikai secara adil pun disebut juga sedekah, bahkan menghilangkan  duri yang mengganggu para pengguna berkendaraan di jalan pun itu namanya sedekah..


Selesai di kaki Gunung Gede Pangrango.
sumber rujukan : Syarah Hadist Arbain karya Musthafa Gieb al-Bugha dan Muhyidin Mistu.




[1] Hadist arbain yang ke 25 lihat syarahnya karya Musthafa Gieb al-Bugha dan Muhyidin Mistu.

Wednesday, February 8, 2017

Benarkah Yazid bin Muawiyah Pembunuh Husain?

Ketika saya membaca beberapa buku tentang sejarah Islam selalu ada tuduhan bahwasanya Yazid bin Muawiyah bertanggung jawab atas terbunuhnya Husain bin Ali, cucunya Rosulullah Saw. Mungkin juga mayoritas orang akan beranggapan seperti itu. Setelah saya membaca postingan Fb dari seorang ustadz ditambah bukunya Ali Muhammad As-Shalabi, saya berkeyakinan bahwasanya orang yang bertanggung jawab itu bukan Yazid bin Muawiyah, pengganti Khalifah Muawiyah bin Abu Sufyan, Kekhilafahan Bani Umayah.

Lalu siapakah yang paling bertanggung jawab atas terbunuhnya Husein bin Ali? Pada kesempatan ini saya akan menguraikan siapakah yang bertanggung jawab atas terbunuhnya cucu Rosul. Bagaimana sikap para ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah terhadap Yazid bin Muawiyah. Saya akan mengambil kesimpulannya dari buku yang berjudul SEJARAH DAULAH UMAWIYAH&ABBASIYAH karya DR. Ali Muhammad As-Shalabi.

Ketika Yazid bin Muawiyah memegang kekuasaan setelah ayahnya wafat, dia menghendaki kesempurnaan baiat untuknya. Ada beberapa sahabat yang menyikapi permasalahan baiat kepada Yazid. Pertama, Husain bin Ali meminta ditunda sampai orang-orang berbaiat untuk Yazid, lalu Husein pergi ke Mekkah. kedua, Ibnu Zubair tidak memberikan jawabannya hingga pergi ke Mekkah sebelum Husain. Ketiga, Ibnu Umar memberikan baiatnya untuk Yazid, karena ia tidak ingin keluar dari jamaah kaum muslimin.

Penduduk Kufah (Irak) mengirim surat kepada Husain bin Ali untuk datang ke Kufah, mereka akan memberikan baiat dan mendukung Husain sebagai Khalifah. Ia mengutus sepupunya bernama Muslim bin Uqail untuk mencari berita di Kufah. Setelah ada sekitar 12.000 orang memberikan baiat kepadanya. Yazid mencopot an-Nu’man sebagai gubernur Kufah, dan mengirimkan Ubaidillah bin Ziyad sebagai gantinya. Husain dengan beberapa pengikutnya berangkat ke Kufah, walaupun beberapa sahabat Nabi dan keluarganya menyarankannya agar membatalkan kepergiannya ke Kufah, tapi Husain bersikeras.

Muslim bin Uqail mengetahui berita pencopotan gubernur dan perburuan terhadap dirinya, lalu ia mengumpulkan ribuan pengikutnya untuk mengepung istana Ubaidillah. Ubaidillah mengumpulkan para pembesar berbagai macam keluarga di istananya. Ia memerintahkan untuk mengalihkan para anggota keluarga yang bersama Muslim. Secara berangsur-angsur ribuan pengikut Muslim berkurang dan tidak tersisa sama sekali, sehingga Muslim dapat ditangkap dan dibunuh.

Mengetahui berita terbunuhnya Muslim, Husain hendak pergi kembali ke Mekkah. Tetapi saudara dan anak-anak Muslim memintanya untuk membalas perbuatan Ubaidillah. Husain bersama puluhan pengikutnya berangkat ke Karbala, dan Ubaidillah mengirimkan pasukan di bawah Umar bin Sa’ad ke sana. Kedua pasukan tersebut bertemu di Karbala, Husain menawarkan kepada Umar salah satu dari tiga hal;

1   1.  Mengizinkan dirinya kembali ke Madinah
2   2.  Membiarkan dirinya pergi ke Syam, untuk menyerahkan diri kepada Yazid bin Muawiyah
3   3. Mengirim dirinya ke salah satu daerah perbatasan, sehingga ia menjadi salah satu di antara penduduknya, yang memiliki hak dan kewajiban yang sama dengan mereka.

Umar bin Sa’ad menerimanya, dan menulis surat kepada Ubaidillah. Ubaidillah menolak dan meminta Husain menyerahkan diri kepadanya. Husein menolak keputusan Ubaidillah bin Ziyad, dan terjadi pertempuran yang tidak seimbang, yang menyebabkan terbunuhnya Husain. Kepala Husain dibawa kepada Ubaidillah bin Ziyad.

Ketika menerima berita kematian Husain bin Ali, Yazid bin Muawiyah menangis, dan berkata, “Aku benar-benar ridha dengan ketaatan kalian tanpa harus membunuh Husain. Semoga Allah melaknat Ubaidillah bin Ziyad. Demi Allah, jika aku bertemu dengan Husain, maka aku akan mengampuninya. Semoga Allah merahmati Husain.” Peristiwa terbunuhnya Husain terjadi pada tanggal 10 Muharram tahun 61 H.

Setelah wafatnya Husain, Yazid bin Muawiyah benar-benar memuliakan keluarganya Rosulullah (Ahlu Bait) dan mendekatkan diri kepada putranya, Ali bin Husain. Yazid bin Muawiyah mendapatkan kritikan karena tidak memberikan hukuman kepada Ubaidillah bin Ziyad. Ini tidak berarti Yazid bin Muawiyah turut serta dalam membunuh Husain bin Ali. Sebab membunuh Husain merupakan sebuah dosa, dan tidak menegakkan hukum Qishas terhadap Ubaidillah merupakan dosa lain. Dengan kata lain, dosa membunuh tidak sama dengan dosa tidak menegakkan qishas (nyawa dibalas nyawa).

Lalu siapa yang bertanggung jawab atas terbunuhnya Husain bin Ali? Mereka yang menulis surat-surat  kepada Husain untuk berangkat ke Kufah, kemudian mereka tidak memberikan pertolongan kepada Husain ketika dia datang kepada mereka, sedangkan mereka berada dalam pasukan Umar bin Sa’ad. Sebagaimana seorang lelaki dari Irak bertanya tentang darah seekor lalat kepada Abdullah bin Umar. Setelah Ibnu Umar mengetahui lelaki tersebut dari Irak, ia berkata, “Lihatlah orang ini! Dia bertanya kepadaku tentang darah lalat, padahal mereka telah membunuh putra Nabi (Husain), di mana aku mendengar Rosulullah Saw. bersabda, ‘Keduanya (Hasan dan Husain) adalah wewangianku dari dunia’.
Para ulama Ahlu Sunnah wal Jama’ah berpendapat bahwa Yazid adalah salah seorang pemimpin kaum muslimin. Dia memiliki kebaikan-kebaikan dan keburukan-keburukan. Dia bukan seorang sahabat dan bukan pula orang kafir.

Dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Bukhari, Rosulullah Saw. bersabda, “Pasukan dari umatku yang pertama memerangi kota Kaisar (Heraklius, yaitu Konstantinopel)  akan diampuni dosanya.” Yazid bin Muawiyah turut serta dalam pasukan yang memerangi Konstantinopel pada tahun 49 H.


Selesai di kaki Gunung Gede Pangrango yang diselimuti kabut.

Tuesday, February 7, 2017

Perjalanan Dakwah Jamaluddin Al-Afghani

Ketika peradaban Islam mulai sakit-sakitan pada abad 18, selalu ada orang yang ingin menyembuhkan penyakitnya. Pada umumnya mereka disebut para pembaharu. Menurut Tamim Anshary, ada 3 tokoh besar reformis Islam pada abad 18 dan 19, yaitu pertama, Abdul Wahab dari semenanjung Arab, lebih dikenal gerakan Wahabi. Kedua, Sayyid Ahmad dari Aligarh, India, gerakan yang menjadikan Islam sebagai sistem etika yang kompatibel dengan ilmu pengetahuan dan kegiatan sekuler. Ketiga, Jamaludin al-Afghani. Pelopor gerakan pan Islamisme, dan mempelopori Ilmu harus sejalan dengan Islam Iman, modernisasi tidak harus westernisasi.

Pada tulisan ini, saya akan membahas perjalanan dakwah Jamaluddin al-Afghani yang luar biasa. Ada perbedaan pendapat, apakah Jamaludin al-Afghani itu berasal dari Iran atau Afganistan? Yang jelas pada usia 18 tahun, Jamaludin al-Afghani pergi ke India dan bertemu dengan beberapa muslim sana yang menyusun siasat sentimen anti-Inggris. Ia mengembangkannya menjadi perlawanan kolonialisme Eropa. Ia pergi ke ...

·         Afganistan, Ia mendapat kepercayaan dari raja sana untuk mengajarkan putra sulungnya. Jamaludin al-Afghani telah merumuskan reformasi dan modernisasi Islam dengan cara untuk memulihkan kekuasaan dan kebanggaan muslim. Ia mengajarkan pangeran Azam Khan ide-ide reformisnya untuk mewujudkan visinya. Pangeran Azam sebagai pengganti kerajaan ayahnya  tidak berlangsung lama. Ia pergi ke ...

·         Asia Kecil (Turki Moderen), di Universitas Konstantinopel ia menyampaikan pidato bahwa umat Islam harus belajar ilmu pengetahuan moderen, tetapi pada saat yang sama perlu mendidik anak-anak muslim secara tegas tentang nilai-nilai, tradisi, dan sejarah Islam. Modernisasi tidak harus westernisasi, katanya. Ia mendapatkan kepercayaan dari kerajaan Utsmani, karena mengusik status kemapanan para ulama sana, ia mulai diusir, dan pada tahun 1871 ia pergi ke ...

·         Mesir, ia mulai mengajar di kelas-kelas universitas al-Azhar yang bergengsi. Ketika kekuasaan Mehmet Ali mulai membusuk, ia mengkritisinya. Seharusnya pemerintahan harus bergaya hidup secara sederhana. Ia menyerukan demokrasi bergaya Islam dengan dasar syuro dan ijma. Lagi-lagi ini mengusik kerajaan Mesir, lalu pada tahun 1879 diusir dari Mesir. Lalu ia pergi ....

·         India, ketika itu ide-ide Sayyid Ahmad Khan sedang subur. Jamaludin al-Afghani melihat Sayyid Ahmad Khan sebagai anjing penjilat piaraan Inggris. Ketika terjadi pemberontakan di Mesir pecah, Inggris mengusir Jamaludin dari India dengan tuduhan telah menghasut letusan tersebut dari pengikutnya. Lalu ia pergi ke ..

·         Paris, ia mulai menulis artikel tentang Islam sebagai agama yang rasional dan sebagai pelopor  revolusi ilmiah untuk berbagai publikasi dalam bahasa Inggris, Persia, Arab, Urdu dan Perancis. Bersama muridnya bernama Muhammad Abduh dari Mesir membuat jurnal Al-Urwatul Wutsqo. Mereka berdua hanya menerbitkan sampai 18 edisi karena kesulitan keuangan yang menyebabkan ditutupnya jurnal tersebut. Dalam 18 edisi tersebut, Jamaludin al-Afghani menancapkan inti ide-ide Pan-Islamisme. Ia mengunjungi Amerika, lalu ke ..

·         London, di sini Jamaludin al-Afghani pernah berdebat dengan Randolph Churchill, ayah Winston Churchill, dan dengan para pemimpin Inggris lainnya tentang kebijakan Inggris di Mesir.  Pernah melakukan perjalanan ke Jerman dan Rusia, lalu ia pergi ke ....
·         Uzbekistan, ia membujuk otoritas Tsar untuk membiarkannya menerbitkan al-Qur’an kepada umat Islam di bawah Tsar, dan menerjemahkan literatur Islam lainnya, lalu menyebarluaskannya ke penduduk setempat. Usahanya membangkitkan Islam di seluruh wilayah tersebut. Pada 1884 ia pindah ke ...

·         Iran, ia bekerja mereformasi peradilan, dan pernah dipercayai sebagi perdana menteri oleh raja Nasiruddin. Ia mengkritisi politik kerajaan tersebut karena menjual konsesi ekonomi seperti tembakau tanpa lelang kepada kekuatan kolonialis, terutama Inggris. Jamaludin pun diusir dari Iran, lalu kembali ke ...

·         Istanbul, ia diberi kepercayaan oleh kaisar Utsmani sultan Hamid untuk mengajar, menulis, dan memberikan pidato. Banyak sekali kaum intelektual dan aktivis datang mengunjunginya dari setiap penjuru dunia muslim.

Jamaludin al-Afghani wafat di Istanbul. Setelah kematiannya, pengaruh idenya sangat kuat di dunia muslim. Di antara keturunan intelektualnya yang lain adalah Hasan al-Banna pendiri gerakan Islam Ikhwanul Muslimin yang berpengaruh sampai saat ini.

*tulisan di atas disimpulkan dari buku DARI PUNCAK BAGDAD karya Tamim Ansary.

Selesai di gunung Gede Pangrango