Kamis, 02 Januari 2020

Kunci Sukses Perdagangan Dinasti Abbasiyah

Oleh Yusi Amatturahman


Berawal dari tumbangnya Dinasti Umayyah pada 750 M, berdirilah kekhalifahan baru Dinasti Abbasiyah. Dinasti Umayyah disingkirkan lewat revolusi yang dipimpin Bani Abbas yang masih kerabat Bani Umayyah dan keturunan dari paman Nabi, Abbas.

            Bani Abbas mendirikan kekhalifahan baru yang bertahan selama 500 tahun. Ia pun memindahkan Ibu kota kekhalifahan ke Baghdad, Irak. Baghdad pun dengan cepat tumbuh menjadi pusat perdagangan, budaya, dan pusat aktivitas intelektual. Baghdad di masa Abbasiyah merupakan salah satu kota berpenduduk paling banyak dan paling makmur di dunia.

            Dalam masa permulaan pemerintahan Bani Abbasiyah, pertumbuhan ekonomi (economic growth) dikatakan cukup stabil dan menunjukkan angka vertikal. Devisa negara penuh berlimpah-limpah, uang masuk lebih banyak dari pada pengeluaran.

            Pada masa permulaan Abbasiyah juga, semua khalifah menaruh perhatian besar terhadap perkembangan ekonomi dan keuangan negara. Sektor-sektor perekonomian yang dikembangkan salah satunya adalah meliputi perdagangan.

            Kota Baghdad merupakan “Kota Perdagangan” yang terbesar di dunia saat itu. Sedangkan kota Damaskus merupakan kota dagang nomer dua, sebagai pusat kota perdagangan translit bagi kafilah-kafilah dagang dari Asia Kecil, dan daerah-daerah Furat yang menuju negeri-negeri Arab dan Mesir atau sebaliknya. Pada saat itu terjadilah hubungan dagang antara kota-kota dagang Islam dengan kota-kota dagang di seluruh penjuru dunia. Terjadinya kontak perdagangan tingkat internasional ini semenjak Khalifah Al-Mansur di zaman Dinasti Abbasiyah.

            Untuk menghindari terjadinya kolusi dan penyelewengan dalam sektor perdagangan, Harun Al-Mansur membentuk satu badan khusus yang bertugas mengawasi pasaran dagang, mengatur ukuran timbangan, dan juga menentukan harga pasaran.

            Selain itu juga, perkembangan perdagangan pada zaman Dinasti Abbasiyah yaitu orang-orang mampu mengimpor barang dagangan, seperti rempah-rempah, kapur barus, dan sutra dari kawasan Asia yang lebih jauh, juga mengimpor gading, kayu eboni dan budak kulit hitam dari Afrika.

Yusi Amatturahman (STEI SEBI)

Artikel Terkait