Tuesday, October 31, 2017

Netty, sang Pembujuk

Diplomasi politik elemen PKS Jawa Barat (garis tebal: elemen) dengan "menyodorkan" Netty Prasetiyani ke partai banteng, sepertinya lebih mendekati episode Kisah Tiga Negara kala Xiao Qiao memahami cara membantu suami—dan negerinya—melawan Cao Cao adalah “menelikung” sang suami, Zhou Yu. Butuh bahasa politik dan diplomasi pos-simbolis agar dipahami langkah “sendiri” Netty dimengerti di kemudian hari.

Netty melangkah “sendiri”? Kalau bukan “mandiri” maka sekurangnya ada sosok rancangan sang suami, sebagaimana narasi Dong Zhuo, penakluk dinasti Han Timur, yang dikenal bengis. Di istana Han, Wang Yun meminta Diaochan, penyanyi jelita, menjadi umpan bagi Zhuo. Si penyanyi berkenan, dan alhasil—ringkasnya—jatuhnya sosok bengis Dong Zhuo.

Bukan karena kecewa karena sang istri tidak dilirik partainya sebagai pelanjut kekuasaan. Malah justru, potensi ini disadari Netty dan suaminya untuk membantu PKS, yakni merekatkan kesolidan ketika sang mitra, partai berlogo garuda masih ngotot ingin maju sendiri. Jadi, fungsi kedua, majunya Netty juga sekaligus untuk menohok partai berlogo garuda itu. “Merapatnya” ke partai banteng senyatanya agar kawan dan sekutu setianya jangan coba-coba berpisah. Kedua, mensolidkan jaringan ormas pendukung loyalnya (PUI).
Tiadanya orang PUI rentan hadirkan kecewa. Tapi, majunya Netty juga hadirkan soalan. Soal perempuan hingga latar etnis Netty yang bukan perempuan Sunda otentik. Dua varibael ini potensial memecah PUI bila ada bujukan dari pihak lain (dari luar PKS). Dengan “membelotnya” Netty, keraguan pada figur yang diusung PKS menguat, yakni sebagai sosok melampiaskan kecewa pada "berkhianatnya" Netty.
Bila politik berlangsung frontal serupa Jakarta, pihak lawan yang dibantu sosok-sosok Istana Negara, akan belajar dari kegagalan. Netty seorangkah, atau ada andil sang suamikah, sesungguhnya berperan untuk memecah konsentrasi lawan agar taktik politik dibiaskan dan dibimbangkan. Ada banyak pertaruhan agar Jawa Barat tidak dijakartakan oleh PKS dan partai berlogo garuda—dari Pilpres 2019, sampai proyek ambisius sarta masalah: Meikarta.
Nah, tinggal kita tunggu seberapa cantik akting Netty serupa Xiao Qiao dan Diaochan. Senyampang itu, akan banyak cibir mencibir sonder apologi di antara muslimin, mereka yang selama di Jakarta bahu-membahu melawan petahana di sana. Di Jawa Barat, mereka menilik hitam-putih seolah medan pertempurannya sama. Lupa bahwa Tuan Opung bakal kian “brutal” selepas proyek reklamasi di kawasan Jakarta diusik penguasa baru setempat. Dan Jawa Barat akan jadi target kebrutalan ia. Maka, tatkala api membara, melawannya bukan dengan batu, sikap keras. Melawannya dengan air, sudah dicegah di sana-sini oleh aparat. Maka, siasatilah dengan hal tak tampak: rekayasa angin! Ini cara merontokkan banteng di Jawa Barat dengan elegan.
Jadi, terlampau menyederhanakan kalau bicara paradoks tulus di bawah dan fulus di atas. Ini mengandaikan para aktor yang bermain, Netty dalam hal ini, hanya manusia tanpa otak dan pembacaan zaman. []
Foto: National Geographic

Sumber : FB

Artikel Terkait