Tuesday, January 31, 2017

Gangguan Terhadap Sahabat Rosul (13)

Kaum musyrikin Quraisy melakukan berbagai siksaan terhadap para sahabat Nabi. Mereka yang disiksa adalah kaum muslimin yang tidak mempunyai kedudukan, fakir miskin, dan budak (hamba sahaya). Siksaan mereka lebih keras dibandingkan Rosul. Dikarenakan mereka tidak mempunyai pelindung sebagaimana Abu Thalib sebagai tokoh Quraisy melindungi Rosulullah Saw. Pada kesempatan ini penulis akan menyeritakan siksaan yang dialami oleh Bilal bin Rabah berstatus budak dan keluarga Ammar bin Yasir yang lemah.

Bilal bin Rabah merupakan budak milik Umayah bin Khalaf al-Jumahi. Umayah merupakan salah satu elit Quraisy yang paling keras menentang dakwah Nabi. Suatu saat ketika keislaman Bilal diketahui oleh majikannya, ia membawa Bilal ke padang pasir di tengah panasnya terik matahari. Umayah bin Khalaf menyiksanya dengan meletakkan Bilal di atas padang pasir, lalu meletakkan batu besar di atas dadanya. Begitu beratnya siksaan Bilal oleh Umayah, ia dipaksa untuk mengingkari Rosulullah Saw. dan mengakui Lata dan Uzza sebagai tuhan. Bilal tabah, dan berkata, “Ahad, ahad, ahad“. Dan terus mengucapkan Ahad (Allah yang Maha Esa) kendati siksaan itu sangat berat.  Akhirnya, Abu Bakar lewat dan menukar Bilal dengan budak miliknya lalu memerdekakan Bilal.

Siksaan yang dialami keluarga Ammar bin Yasir lebih parah lagi. Musyrikin Quraisy menyeret mereka  ke tanah padang pasir yang panasnya sangat menyengat, dan menyiksanya di sana. Rosulullah Saw. melintas di hadapan mereka, lalu berkata, “Bersabarlah wahai keluarga Yasir, karena janji kalian adalah surga." Yasir (ayah Ammar) meninggal dunia, sementara ibunya Ammar bernama Sumayyah ditikam oleh Abu Jahal dengan tombak tepat di kemaluannya hingga syahid. Sementara Ammar bin Yasir tidak kuat dengan berbagai siksaan yang sangat berat, Ia terpaksa menuruti perintah Abu Jahal dan rekan-rekannya untuk mencela Rosulullah dan memuji Lata dan Uza. Akhirnya, mereka melepaskannya.

Sambil menangis, Ammar mengadu kepada Rosulullah Saw dan menceritakan apa yang dialaminya. Bahwasanya dalam hatinya masih terdapat keimanan. Kemudian Allah Swt. menurunkan firman-Nya:

“Barang siapa kafir kepada Allah setelah dia beriman (dia mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (dia tidak berdosa)....” (an-Nahl [16] : 106)

Siksaan yang dialami oleh para sahabat Nabi banyak, penulis merasa cukup dengan dua kisah di atas sebagai gambaran. Berbagai siksaan yang dialami oleh para sahabat Nabi, semakin menambah keimanan mereka. Mereka tidak mundur dari agama Islam sedikitpun. Insya Allah penulis akan menjelaskan hikmah berbagai ujian yang dialami oleh  para sahabat Nabi.


Selesai di gunung Gede Pangrango yang sangat dingin menusuk tulang,hehehe



Monday, January 30, 2017

Nasib Para Penentang Dakwah

Sebelumnya penulis telah menyinggung tentang gangguan dakwah kepada Rosulullah Saw. Penulis akan membahas nasib yang dialami oleh para penentang dakwah yang paling keras. Mereka mengetahui kebenaran Islam, namun hati mereka telah tertutup.

Syekh Abu Bakar jabir al-Jaza’iri mengisahkan dalam sirah Nabawiyahnya sebagai berikut ini;

  1. Abu Lahab tertimpa penyakit bisul di seluruh tubuhnya. Ini terjadi pada hari kekalahan kaum musyrikin dalam perang Badar. Begitu mendengar kekalahannya, ia tertimpa penyakit bisul ini hingga tewas secara menjijikkan. Sampai-sampai pihak keluarganya tidak mampu memandikannya. Mereka hanya menyiramnya dari kejauhan, karena bau busuk yang menyengat dari jasadnya yang mengelupas dan berjatuhan dengan bentuk yang belum pernah dilihat sebelumnya.
  2.    Abu Jahal mati dalam perang Badar, dibunuh oleh anak-anak Afra’, dan kepalanya dipenggal oleh Abdullah bin Mas’ud ra, karena sebelumnya Abu Jahal menghina Ibnu Mas’ud dengan mengatakannya anak wanita pengembala kambing.
  3.  Al-Walid bin Mughirah mati karena menginjak anak panah hingga terluka. Lukanya membengkak dan ia mati karenanya.
  4.  Uqbah bin Mui’th; ketika kaum musyrikin kalah dalam perang Badar, ia ditawan lalu disalib. Dialah orang pertama yang disalib dalam Islam.

Masih banyak kisah nasib para penentang dakwah dalam buku sirah tersebut. Semoga hal ini bagi pelajaran bagi orang-orang yang selalu menghalangi dan memerangi para Da’i. Semoga kita bukan termasuk orang-orang yang bersikap lemah lembut pada orang-orang kafir, dan keras terhadap orang-orang yang beriman.


Selesai di gunung Gede Pangrango yang dingin.

Gangguan Terhadap Dakwah Rosulullah Saw. Part II (12)

Sebelumnya disinggung tentang gangguan Abu Lahab dan istrinya kepada Rosulullah. Kali ini penulis akan kisahkan gangguan yang dilakukan Abu Jahal, Uqbah bin Mui’th, dan al-Walid bin Mughirah, terhadap dakwah Rosulullah. 

Nama lengkap Abu Jahal ialah Amr bin Hisyam al-Makhzumi, namanya kunyahnya Abu Hakam. Kaum muslimin menyebutnya Abu Jahal karena sangat buruk perilakunya.  Ia terbilang paling keras permusuhannya kepada Rosulullah Saw.  ia selalu melarang Rosulullah untuk shalat di maqam dekat Ka’bah sampai-sampai beliau memegang kerah baju Abu Jahal dan mengguncang-guncangnya, seraya bersabda dan membacakan ayat, ”kemudian kecelakaanlah bagimu dan kecelakaanlah bagimu.” Kesombongan Abu Jahal semakin menjadi-jadi.  Pernah suatu saat, Abu Jahal berniat akan menginjak tengkuk beliau ketika sedang shalat. Allah Swt. menolong beliau sehingga Abu Jahal mundur ke belakang karena melihat seperti ada parit dari api dan mereka itu merupakan sayapnya.

Sedangkan gangguan yang dilakukan oleh al-Walid bin Mughirah menuduh Rosulullah sebagai penyihir. ‘ Seorang penyihir yang bisa memisahkan antara seseorang dengan bapaknya, seseorang dengan saudaranya, seseorang dengan istrinya, seseorang dengan kerabat dekatnya, sehingga kalian berpecah belah karenanya,’ itulah gagasan al-Walid bin Mughirah yang dikemukakannya dalam pertemuan. Mereka mengabarkan berita tuduhan palsu Rosulullah di setiap pinggir jalan kepada para penziarah. Nama beliau terkenal di seluruh penjuru Arab.

Ketika Abu Jahal duduk bersama rekan-rekannya, Uqbah bin Mui’th  meletakkan kotoran binatang di pundak beliau selagi shalat.  Mereka tertawa terbahak-bahak melihat beliau. Beliau tidak bangkit dari sujudnya sehingga puterinya bernama Fathimah datang menghampiri beliau untuk membersihkannya. Setelah itu Rosulullah mengangkatnya, dan berdoa, “Ya Allah, hukumlah orang-orang Quraisy ini.” Beliau mengucapkannya sebanyak tiga kali, hal ini membuat mereka tersentak, karena tahu berdoa di tempat tesebut (Ka’bah) pasti mustajab.

Sebenarnya banyak sekali gangguan terhadap Rosulullah Saw. Beliau tetap melakukan dakwah dan melaksanakan Ibadah shalat secara terang-terangan. Elit-elit Quraisy pun beralih untuk menyiksa para sahabat Nabi yang memiliki kedudukan lemah. Kebanyakan di antara mereka kaum budak dan fakir miskin.

Selesai di gunung  Gede Pangrango yang dingin.

Sunday, January 29, 2017

M. Natsir, Ulama Yang Negarawan



Berdakwah melalui jalur politik, dan berpolitik melalui jalur dakwah. M.Natsir.


Saya masih ingat betul kata-kata tersebut dari sebuah buku kecil hasil wawancara dengan beliau. Buku itu saya dapatkan ketika ikut seminar 100 TAHUN M.NATSIR BERDAMAI DENGAN SEJARAH di kampus UNISBA (Universitas Islam Bandung). Entah di mana buku kecil itu sekarang. Buku itu hasil wawancara ketika M.Natsir sudah tidak berpolitik lagi akibat pelarangan oleh rezim Orba.

Saya memahami betul kata-kata beliau. Tak ada pemisahan antara politik dan dakwah, keduanya saling berkaitan dan menguatkan satu sama lain. Politik tanpa dakwah ibarat berdiri dengan satu kaki yang mudah saja roboh seketika, begitu pula sebaliknya. Baiklah saya akan menguraikan peran-peran beliau ketika aktif berdakwah sambil berpolitik dan berpolitik sambil berdakwah.


M. Natsir dilahirkan pada tanggal 17 Juli 1908 dan di besarkan di Solok Sumatra Barat. Lalu pindah ke Bandung untuk melanjutkan pendidikannya di AMS selevel SMU. Di Bandung lah mulai bersentuhan dengan politik. Selain bergabung dengan Persatuan Islam, beliau pun aktif di gerakan Jong Islamieten Bond cabang Bandung dan Partai Islam Indonesia. Menurut Ahmad Mansur Suryanegara, M. Natsir merupakan pembangkit kesadaran nasional dengan pengertian gerakan nasional sebagai gerakan menanamkan kesadaran cinta tanah air, bangsa, dan agama.

M.Natsir pernah bekerja dengan posisi sebagai Kepala Biro Pendidikan Bandung. Pada masa pendudukan Jepang, beliau memilih bergabung dengan Majelis Islam A’la Indonesia yang kemudian hari berubah Majelis Syuro Muslimin Indonesia atau disingkat MASYUMI. M. Natsir pernah terlibat perang pena dengan Soekarno terkait Politik Islam.

Setelah proklamasi Kemerdekaan Indonesia, M. Natsir  menjadi anggota Komite Nasional Indonesia Pusat.  Ia pun pernah diangkat menjadi Menteri Penerangan sebelum diangkat menjadi Perdana Menteri. Pada tanggal 3 April 1950, beliau sebagai ketua fraksi Masyumi mengajukan Mosi Integral Natsir dalam sidang pleno DPRS-RIS. Pada waktu itu Indonesia terbagi dalam beberapa negara bagian.  Mosi Integral Natsir merupakan sebuah hasil keputusan parlemen untuk menyatukan negara-negara bagian ke dalam sistem Kesatuan Negara Republik Indonesia. Karena jasa ini lah, beliau pernah diangkat menjadi Perdana Menteri oleh Presiden Soekarno, namun hal ini tidak berlangsung lama karena terjadinya perbedaan antara beliau dengan Presiden Soekarno pada waktu itu.

Setelah pemilu tahun 1955 menempatkan partai Masyumi menjadi partai terbesar kedua setelah PNI yang dipimpin oleh Soekarno. M. Nastir sangat gigih memperjuangkan Islam sebagai asas Negara dalam sidang Konstituante. Pada akhirnya sidang tersebut dibubarkan dengan adanya Dekrit Presiden 5 Juli 1959. Pada saat itu juga Presiden Soekarno dan PKI berhubungan baik.

M. Natsir terlibat dalam PRRI sebagai bentuk protes kepada pemerintahan pusat yang dipimpin Soekarno mengenai ketidakadilan masalah otonomi daerah dan kedekatan Soekarno dengan PKI. Karena keterlibatan ini, M. Natsir dipenjarakan oleh Soekarno di Malang dari tahun 1962 hingga 1964, dan dibebaskan pada masa Orde Baru pada tanggal 26 Juli 1966.

Walaupun hak politiknya dicekal oleh Presiden Soeharto pada masa Orba, M. Natsir ikut terlibat dalam organisasi-organisasi Islam. Beliau aktif di Rabithah Alam Islami dan Majelis  Ala al-Alami Lil Masjid yang berpusat di Mekkah, Pusat Studi Islam Oxford (Oxford Center For Islamic Studies) di Inggris, dan Liga Muslim se-Dunia (World Muslim Congress) di Karachi, Pakistan. Beliau pun mendirikan yayasan Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) yang sampai sekarang masih eksis. Saya menganggap M. Natsir menguasai bahasa asing dengan baik yang membuatnya bisa terlibat pada lembaga-lembaga skala internasional.

M. Natsir telah menulis sebanyak 45 buku. Beliau punya jasa pada zaman Orba, ia mencairkan hubungan Malaysia dengan Indonesia, mengontak Kuwait untuk menanam modalnya di Indonesia, dan meyakinkan Pemerintahan Jepang tentang kesungguhan Orde Baru membangun ekonomi. Walaupun pada saat zaman Orba (Orde baru) hak politik beliau betul-betul dicekal.

Itulah sekiranya kita dapat memahami kata-kata beliau tentang Berdakwah melalui jalur politik dan berpolitik melalui jalur dakwah. Baginya politik dan dakwah tidak dapat dipisahkan. Keduanya saling menguatkan satu sama lain.

Selesai di Gunung Gede Pangrango yang dingin

Sumber rujukan:
1.       Buku M.Natsir, 100 Tahun Berdamai dengan Sejarah
2.       Buku Api Sejarah karya Ahmad Mansur Suryanegara
3.       Wikipedia.org.

Persahabatan Ali dengan Umar Disaat Genting

Ketika Khalifah Abu Bakar as-Shidiq sakitnya semakin parah, beliau mengumpulkan para sahabat senior mengenai pergantian Khalifah penggantinya. Beliau merasa hidupnya takkan lama lagi, mesti harus ada pengganti dirinya. Dengan mantap beliau menginginkan Umar bin Khotob al-Faruq sebagai pengganti dirinya. Beliau meminta pendapat kepada para sahabat senior, mereka menolak usulan Khalifah Abu Bakar. Karena Umar bin Khotob sangat berbeda dengan Abu Bakar. Umar bin Khotob terkenal sebagai orang yang sangat keras, dan mudah meledak marah, walaupun memiliki hati yang baik dibalik itu semua. Mereka bertanya-tanya apakah mungkin kekhalifahan dipercayakan kepadanya? Tampangnya saja sangat menakutkan bagi anak-anak. Namun dalam keadaan kritis, Ali bin Abi Thalib melangkah maju untuk mendukung Umar bin khotob sebagai Khalifah pengganti Abu Bakar. Para sahabat pada waktu itu menerima kekhalifahan berada dalam tangan Umar bin Khotob.
Umar bin Khotob bukanlah orang kaya, dan cenderung menolak mengambil gaji dari baitul mal. Ali bin Abi Thalib mendesaknya untuk mengambil gaji yang sesuai dari perbendaharaan masyarakat, dengan alasan wilayah Islam semakin meluas, umat tidak lagi cukup dengan seorang khalifah paruh waktu yang memerah susu sapi untuk mendapat tambahan uang tunai. Amirul Mukminin Umar bin Khotob setuju, beliau membentuk sebuah komisi yang bertugas menghitung berapa banyak yang dia butuhkan untuk hidup seperti orang Arab rata-rata, tidak lebih dan tidak kurang, dan kemudian menetapkan jumlah tersebut sebagai gaji untuknya. (Dikutip semuanya  dari buku Puncak Bagdad, Sejarah Dunia versi Islam karya Tamim Ansary)
Tulisan di atas menyatakan bahwasanya Ali bin Abi Thalib mengakui keabsahan Umar bin Khotob sebagai khalifah yang kedua. Selama kekhalifahannya, Umar bin Khotob menjadikan Ali bin Abi Thalib sebagai penasihat utama. Ali bin Abi Thalib tidak pernah mengajarkan untuk mencaci maki apalagi untuk melaknatnya. Mereka berdua adalah sahabat terdekat Rosulullah Saw. Ali bin Abi Thalib sebagai sepupu dan menantu Rosul. Sementara Umar bin Khotob sebagai mertua Rosul.
Tulisan ini merupakan tulisan saya yg disimpan www.imannumberone.wordpress.com
Selesai di kaki Gunung Gede Pangrango yang dingin

Iman Munandar



Saturday, January 28, 2017

Gangguan Terhadap Dakwah Rosulullah Saw. Part I (11)

Sebelumnya pengangkatan sebagai Rosul, Rosulullah Saw. yang disenangi dan sebagai tempat mengadu setiap permasalahan. Namun hal tersebut berbalik arah 180 derajat ketika Rosulullah Saw. berdakwah secara terang-terangan. Elit-elit Quraisy menentang dakwah beliau, karena bagi mereka selain masalah terancamnya keyakinan nenek moyang mereka juga mengancam kemapanannya. Karena Mekkah pada waktu sebagai pusat ibadahnya bangsa Arab sekaligus penghasilan utama elit-elit Quraisy. Di antara elit-elit Quraisy yang paling keras menentang dakwah Nabi ialah Abu Jahal, Abu Lahab beserta istrinya, Uqbah bin Mui’th, al-Walid bin Mughirah.

Nama Abu Lahab ialah Abdul Uzza bin Abdul Muthalib merupakan salah satu paman Nabi dan orang yang pertama kali menentang dakwahnya sebelum orang lain bertindak. Ia juga tetangga Rosulullah Saw., dan seburuk-buruknya tetangga.

Abu Lahab selalu menguntit Rosulullah,  berdusta tentang beliau, sering menyakiti beliau, dan sering melemparkan kotoran di pintu rumah Rosulullah. Sampai-sampai Nabi berkata, “Tetangga macam apa ini wahai bani Abdul Muthalib?” suatu saat ketika berpapasan dengan Hamzah, Abu Lahab sedang membuang kotoran di pintu rumah Nabi, dan Hamzah mengambil kotoran tersebut lalu melemparkan ke kepala Abu Lahab. Abu Lahab pun pernah melemparkan batu kepada beliau hingga sempat kedua tumit beliau berdarah.

Istri Abu Lahab, nama aslinya Ummu Jamil binti Harb binti Umayyah, lebih keras lagi dari suaminya. Dia pernah memasang duri di jalan yang biasa dilalui Rosulullah Saw. dia suka memfitnah Rosul dan mengobarkan api perlawanan kepada Rosulullah Saw.  inilah Al-Qur’an memberikan sifat pembawa kayu bakar kepadanya.

Ketika turun wahyu Qur’an Surat al-Masad (al-Lahab) tentang kebinasaan Abu Lahab dan istrinya di Neraka, Ummi Jamil mencari Rosulullah Saw. dengan menenteng batu seukuran telapak tangan. Saat itu beliau sedang duduk bersama Abu Bakar. Ia berhenti tepat di hadapan beliau, namun Allah Swt. Menutup matanya, hanya Abu Bakar saja yang dilihat. Ia pun tak henti-hentinya mencela beliau.

Walaupun gangguan dari kalangan keluarganya sangat keras, Rosulullah Saw. tetap berdakwah kepada penduduk Mekkah. Berbahagialah jika saat ini para aktivis dakwah mengalami gangguan dari berbagai arah, dan mereka bersikap sabar apa yang dihadapinya,karena  Allah swt.  Menyiapkan jalan menuju kemenangan.



Selesai di gunung Gede Pangrango

Friday, January 27, 2017

Taubatnya Umar bin Khatab

Setelah ibadah haji disyari’atkan pada tahun ke 5 H, Rosulullah Saw. bersama 1.400 sahabatnya pergi ke Mekkah untuk melakukan umroh pada tahun 6 H. Mereka berhenti di desa Hudaibiyah, Rosulullah Saw. mengutus Utsman bin Affan ke Mekkah untuk meminta izin. Tersebarnya berita bahwasanya Utsman telah dibunuh, terjadilah peristiwa Bai’atur Ridwan. Di sanalah awal mula peristiwa perjanjian damai Hudaibiyah terjadi.

Terjadi kesepakatan perjanjian damai Hudaibiyah, pihak musyrikin Quraisy diwakili oleh Suhail bin Amr dan kaum muslimin diwakili oleh Rosulullah dengan Ali bin Abu Thalib sebagai juru tulisnya. Isi perjanjian damai Hudaibiyah ini bagi para sahabatnya sebagai kerugian besar bagi umat Islam. Tetapi bagi Rosulullah Saw. ini merupakan kemenangan yang nyata.

Ketika perjanjian damai ini tuntas, Umar bin Khatab mengingkarinya.  Ia datang menemui Abu Bakar dan berkata, “Wahai Abu Bakar! Bukankah beliau utusan Allah?” “Betul,” jawab Abu Bakar. “Bukankah kita orang-orang muslim?,” tanya Umar. “Betul,” jawab Abu Bakar.

“Lantas mengapa kita merendahkan agama kita, “ kata Umar. “Patuhilah perintah beliau, karena aku bersaksi  bahwa beliau adalah utusan Allah,” kata Abu Bakar. Umar berkata, “ Aku pun bersaksi bahwasanya beliau utusan Allah.” Setelah itu Umar menemui Rosulullah Saw. dan menyampaikan kata-kata yang sama seperti ia katakan kepada Abu Bakar. Rosulullah Saw. akhirnya bersabda, “Aku ini hamba dan utusan Allah. Aku tidak akan menyalahi perintah-Nya, dan Ia tidak akan menyia-nyiakanku.”[1] Allah Swt. Menurunkan al-Qur’an Surat al-Fath kepada Rosulullah Saw.,  kemudian beliau memanggil Umar dan membacakan surat tersebut kepadanya. Wahyu tersebut sebagai tanda bahwasanya perjanjian damai Hudaibiyah sebagai kemenangan bagi kaum muslimin.

Umar bin Khatab menyesal dan bertobat. Sebagai ungkapan penyesalannya, Umar berkata, “Aku terus bersedekah, berpuasa, shalat, dan memerdekakan budak atas apa yang telah aku lakukan pada saat itu, karena khawatir terhadap kata-kata yang aku ucapkan. Hingga aku berharap hal itu baik-baik saja.”

selesai di kaki Gunung Gede Pangrango




[1] Percakapan tersebut penulis dapatkan dari Sirah Nabawiyah karya Abu Bakar Jabir al-Jaza’iri.


Thursday, January 26, 2017

Keberanian Umar bin Khatab


Pasca Bai’at Aqobah II, permusuhan dan penyiksaan semakin keras terhadap kaum muslimin. Hal tersebut belum pernah terjadi sebelumnya. Para sahabat Nabi meminta izin kepada Rosulullah Saw. untuk hijrah ke Yastrib (kelak akan bernama Madinah), Rosulullah Saw. mengijinkannya.
Para sahabat Nabi bersiap-siap dan mengemas barang seperlunya untuk berangkat. Mereka berangkat ke Madinah secara sembunyi-sembunyi. Hanya ada satu sahabat Nabi yang berani hijrah secara terang-terangan. Dialah al-Faruq, Umar bin Khatab radhiyallahu ‘anhu.

Seperti yang diceritakan oleh Ali bin Abu Thalib radhiyallahu ‘anhu, suatu ketika Umar bin Khatab hendak berhijrah, ia membawa pedang, busur, panah, dan tongkat di tangannya menuju Ka’bah.  Ia melakukan thawaf tujuh keliling dengan tenang. Setelah itu pergi ke maqam untuk mengerjakan shalat. Di hadapan tokoh-tokoh Quraisy, Umar bin Khatab berkata, “Semoga celakalah wajah-wajah ini! Wajah-wajah inilah yang akan dikalahkan Allah! Barangsiapa ingin ibunya kehilangan anaknya, istrinya menjadi janda, atau anaknya menjadi yatim piatu hendaklah ia menghadangku di balik lembah ini.”

Tidak satu pun di antara mereka mengikuti Umar bin Khatab, kecuali beberapa kaum muslimin yang lemah telah diberitahu Umar. Ia bersama kaum muslimin yang lemah berjalan dengan aman.

*kisah ini bersumber dari Sirah Nabawiyah karya Muhammad Sa’id Ramadhan al-Buthi

Kisah Keislaman Umar bin Khatab

Suatu ketika Umar berpapasan dengan seorang Makhzum yang sudah masuk Islam. Umar mencelanya lalu orang tersebut menjawab, “Jika aku masuk Islam, toh ada orang lain yang masuk Islam yang lebih patut untuk dicela dan dicaci daripada aku wahai Umar.” “Siapa dia?,” tanya Umar. “saudarimu dan saudara iparmu,” jawab orang Makhzum tersebut.

Umar langsung pergi ke rumah saudarinya, Fathimah –saat itu ia menjadi istri Sa’id bin Zaid-, dan Umar bertanya, “Berita apa yang aku dengar tentang kalian berdua ini?” keduanya menjawab dengan jujur. Umar langsung memukul kepala saudarinya hingga berdarah. Fathimah datang menghampiri Umar lalu berkata, “Itu sudah terjadi meski kau tidak suka.” Umar malu ketika melihat darah mengalir dari kepala saudarinya itu, dan ia pun duduk. Ia melihat sebuah kitab di antara keduanya lalu berkata, “Perlihatkan kitab itu padaku.” Fathimah berkata kepadanya, “Tidak boleh ada yang menyentuh kitab ini selain hamba-hamba yang disucikan.”

Umar beranjak lalu mandi. Fathimah dan suaminya kemudian menyerahkan sebuah lembaran kepadanya berisi, “Dengan Nama Allah yang Maha Pengasih, Maha Penyayang.” Umar berkata, Nama nama yang baik dan suci. “Thaha. Kami tidak menurunkan al-Qur’an ini kepadamu (Muhammad) agar engkau menjadi susah,” sampai firman-Nya, “(Dialah) Allah, tidak ada tuhan selain Dia, yang mempunyai nama-nama terbaik” (Thaha [20] : 1-8)

Ayat-ayat ini merasa agung  di dalam dada Umar. Ia pun masuk Islam. Ia bertanya kepada keduanya, “Mana Rosulullah?” “Di rumah al-Arqam,” jawab Fathimah. Umar langsung pergi ke rumah al-Arqam, lalu mengetuk pintu. Semua orang yang ada di dalam rumah ketakutan. Hamzah berkata kepada mereka, “Kalian kenapa?” “Ada Umar,” jawab mereka. “Bukakan pintu. Jika ia datang menghadap, akan kami hadapi dia; dan jika ia berpaling, kami akan memeranginya,” kata Hamzah. Mendengar percakapan yang terjadi, Rosulullah Saw. keluar lalu Umar mengucapkan kalimat syahadat. Semua yang ada di dalam rumah sontak memekikkan takbir hingga terdengar orang-orang yang ada di Masjidil Haram.


Umar bertanya, “Bukankah kita berada di atas kebenaran wahai Rosulullah?” “Betul,” jawab beliau. “Lalu kenapa kita bersembunyi?” Semuanya kemudian keluar dalam dua barisan; Umar memimpin satu barisan, dan Hamzah –ia masuk Islam tiga hari sebelum Umar masuk Islam- memimpin barisan lainnya. Saat memasuki masjid dan dilihat kaum Quraisy –di mana Hamzah dan Umar ada di antara kedua barisan tersebut-, kaum Quraisy dirundung duka dan kesedihan mendalam. Saat itulah Nabi Saw. menyebut Umar sebagai al-Faruq.
Baca juga kisah keberanian Umar bin Khatab
Baca juga kisah lain Umar Bin Khatab
(Dikisahkan dalam Sirah Nabawiyah karya Abu Bakar Jabir al-Jaza'iri)

Wednesday, January 25, 2017

Kisah Keislaman Hamzah bin Abdul Muthalib

Suatu ketika Abu Jahal melintas di hadapan Rosulullah Saw. di bukit Shafa. Abu Jahal mencela, menyakiti, dan memperlakukan beliau secara tidak baik, mulai mencela agama Islam dan menyepelekan urusan beliau. Rosulullah Saw. sedikit pun tidak membalas kata-katanya. Saat itu seorang budak wanita milik Abdullah bin Jud’an berada di kediamannya, ia mendengar semua kata-kata yang dilontarkan Abu Jahal kepada Rosulullah Saw. Setelah itu Abu Jahal berlalu menuju tempat perkumpulan kaum Quraisy di dekat Ka’bah, setelah itu duduk bersama mereka.

Tak lama kemudian Hamzah bin Abdul Muthalib tiba dengan mengalungkan busur panah setelah pulang dari perburuan. Ia biasa berburu dan selalu pulang membawa hasil buruan. Setiap pulang dari perburuan, ia tidak langsung pulang ke rumah, tapi Thawaf di Ka’bah terlebih dahulu. Dan saat melakukan rutinitas ini, setiap kali melintasi suatu perkumpulan kaum Quraisy, ia selalu berhenti, mengucapkan salam dan berbincang-bincang bersama mereka. Hamzah tergolong pemuda mulia dan teguh pendirian. Saat Hamzah melintas di hadapan budak wanita milik Abdullah bin Jud’an, saat Rosulullah sudah pulang ke rumah, budak tersebut berkata kepada Hamzah, “Andai kau melihat perlakuan Abu Hakam bin Hisyam (Abu Jahal) terhadap Muhammad baru saja. Abu Hakam berpapasan dengan Muhammad yang sedang duduk di sini. Abu Hakam lalu menyakiti, mencela, dan mengganggunya. Setelah itu Abu Hakam pergi, namun Muhammad sedikit pun tak membalas kata-katanya.”

Mendengar itu amarah Hamzah tersulut. Ia berjalan dengan cepat tanpa menoleh kepada siapa pun hingga menemui Abu Jahal yang sedang duduk bersama sekumpulan orang di sekitar masjid. Begitu masuk masjid dan melihat Abu Jahal duduk di tengah-tengah orang banyak, Hamzah langsung menghampiri, ketika tepat berada di dekat kepalanya, Hamzah mengangkat busur panah lalu ia pukulkan ke kepala Abu Jahal hingga terluka cukup parah. Hamzah berkata, “Patutkah kau mencemooh dia padahal aku sudah memeluk agamanya, dan mengatakan seperti yang ia ucapkan ? Silahkan kau ulangi lagi kata-kata itu di hadapanku kalau kau bisa.”

Beberapa lelaki dari bani Makhzum berdiri menghampiri Hamzah untuk menolong Abu Jahal, lalu Abu Jahal berkata, “Biarkan saja Abu Umarah, demi Allah, tadi aku memang mencaci- maki keponakannya sejadinya.” Hamzah pun masuk Islam. Saat itu, kaum Quraisy mengetahui bahwa Rosulullah Saw. sedikit banyak menguat karena Hamzah, pamannya, masuk Islam, karena ia dikenal sebagai pemuda paling kuat di antara kaum Quraisy.

*catatan; 
1. tulisan di atas dikutip semuanya dari buku Sirah Nabawiyah karya Syekh Abu Bakar Jabir al-Jaza’iri.
2. peristiwa ini menurut Umar Abdul Jabbar terjadi pada tahun 5 kenabian.
Selesai di kaki gunung Gede Pangrango yang dingin

Tuesday, January 24, 2017

Dakwah Secara Terbuka (10)

Tiga tahun lamanya Rosulullah Saw. berdakwah secara rahasia, pengikut Islam semakin bertambah. Bahkan berita Islam telah tersiar di Mekkah dan menjadi pembicaraan orang.  Turunlah perintah Allah Swt. Kepada beliau untuk berdakwah secara terang-terangan. Firman Allah swt;

“Maka siarkanlah apa yang diperintahkan kepadamu dan janganlah kamu pedulikan orang musyrik.” (QS. Al-Hijr [15] : 94)

Monday, January 23, 2017

Faktor Utama Kebangkitan Kesadaran Nasional Indonesia

Sejarah Indonesia mencatat bahwa pelopor gerakan kebangkitan adalah Boedi Oetomo yang didirikan pada 20 Mei 1908. Padahal, dalam realita sejarahnya, justru keputusan Kongres Boedi Oetomo di Surakarta, menolak pelaksanaan tjita2 persatoean Indonesia, 1928 M.

Walaupun kongres ini dilaksanakan pada 1928, saat Boedi Oetomo sudah berusia 20 tahun (1908-1928 M), sikapnya sangat kontradiksi dan eksklusif dengan realitas gerakan nasional saat itu yang sedang membangun kesadaran nasional dan membangun kesatuan dan persatuan bangsa Indonesia. Boedi Oetomo menolak pelaksanaan tjita2 persatoean Indonesia dan lebih mengutamakan sistem keanggotaannya yang terbatas bangsawan suku Djawa, serta gerakannya sebagai gerakan Djawaisme.

Sunday, January 22, 2017

Adilnya Rosulullah Saw

Adil adalah kebalikan dari zalim. Allah memerintahkan untuk berbuat adil dalam bertutur kata dan dalam memutuskan perkara. Allah Swt. Berfirman:

“....Apabila kamu berbicara, bicaralah sejujurnya, sekalipun dia kerabat(mu)...” (al-An’am [6] : 152)
“....Dan apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia hendaknya kamu menetapkannya dengan adil...” (an-Nisa’ [4] : 58)

Suatu hari ketika seorang wanita terhormat dari Bani Makhzum mencuri, dan kaum muslimin terasa berat untuk menegakkan hukum had potong tangan kepadanya, mereka mengirim orang yang dicintai Rosulullah Saw dan putra yang dicintainya, Usamah bin Zaid, untuk menjadi mediasi. Usamah menyampaikan persoalan ini kepada Rosulullah Saw. Dengan Marah, beliau berkata, “Patutkah kau memberi pertolongan dalam salah satu hukum had Allah, wahai Usamah? Demi Allah, andai Fatimah binti Muhammad mencuri, tentu aku potong tangannya.”
(Syekh Abu Bakar Jabir al-Jaza'iri dalam karyanya Sirah Nabawiyah)

Saturday, January 21, 2017

Dakwah Secara Rahasia (9)

Hampir 6 bulan lamanya wahyu tak kunjung turun, Rosulullah Saw. mengkhawatirkan dirinya. Beliau seperti orang bingung, berjalan tak tentu arah di pegunungan dan di jalan-jalan di antara perbukitan Mekkah. Hari hari telah terlewati ,tanpa diduga saat beliau sedang berjalan, beliau mendengar suara dari langit. Beliau menatap ke langit, rupanya Malaikat Jibril sedang duduk di atas hamparan sutra di antara langit dan bumi. Beliau ketakutan dan kembali pulang sambil berkata, “Selimutilah aku, selimutilah aku!” Allah kemudian menurunkan firman-Nya:

“Wahai orang-orang yang berselimut!bangunlah, lalu berilah peringatan. Dan agungkanlah Tuhanmu, dan bersihkanlah pakaianmu, dan tinggalkanlah segala perbuatan yang keji, dan janganlah engkau (Muhammad) memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak, dan karena Tuhanmu, bersabarlah.” (al-Muddatstir [74]:1-7)


Rosulullah Saw. menyambut perintah Allah Swt. Untuk melakukan dakwah kepada manusia untuk menyembah Allah semata dan meninggalkan penyembahan berhala. Rosulullah Saw. berdakwah secara rahasia, beliau hanya menyampaikan dakwahnya kepada orang-orang yang dikenalnya dan memiliki hubungan kerabat dengannya.

Orang-orang yang pertama kali masuk Islam ialah Khadijah, Ali bin Abi Thalib, Zaid bin Haritsah, Abu Bakar, Utsman bin Affan, Zubair bin Awwam, Abdurrahman bin Auf, Sa’ad bin Abi Waqqash, dan lainnya. Mereka adalah generasi Assabiqunal Awwalun (generasi pertama yang masuk Islam).

Abu Bakar bin Abu Quhafah memiliki peran berdakwah kepada orang-orang Quraisy terbaik di Mekkah. Seperti Utsman bin Affan, Zubair bin Awwam, Abdurrahman bin Auf, Sa’ad bin Abi Waqqash, dan Thalhah bin Ubaidillah.

Meraka, para sahabat yang pertama kali masuk Islam, bertemu dengan Rosulullah Saw. secara rahasia. Bila ingin melaksanakan shalat, pergi ke lorong-lorong Mekkah untuk menghindari pandangan orang-orang Quraisy.

Ketika pengikutnya lebih dari 30, Rosulullah Saw. mengadakan pembinaan dan pengajaran kepada mereka di rumah al-Arqam bin Abil Arqam. Dalam tahapan dakwah ini menghasilkan sekitar  40 orang laki-laki dan perempuan penganut Islam. Kebanyakan dari mereka adalah orang-orang fakir, kaum budak, dan orang-orang Quraisy yang tidak memiliki kedudukan. Dakwah secara rahasia ini dilakukan selama 3 tahun.

HIKMAH


Dakwah secara rahasia yang dilakukan oleh Rosulullah Saw. merupakan kehendak Allah Swt. Dia menginginkan Rasul-Nya memulai dakwah pada tahapan awal dengan rahasia dan tersembunyi. Agar kisah dakwah ini menjadi pelajaran dan bimbingan para da’i setelahnya untuk merencanakan secara cermat dan mempersiapkan sarana-sarana yang diperlukan untuk mencapai sasaran dan tujuan dakwah. (Said Ramadhan al-Buthy)

selesai di kaki gunung Gede Pangrango yang dingin

Thursday, January 19, 2017

Permulaan Wahyu

Menjelang usia 40 tahun, Rosulullah Saw. belum merasa puas atas keberhasilan yang diraihnya dalam bidang ekonomi dan sosial. Beliau merasakan ada sesuatu yang tidak beres dalam kehidupan masyarakat Mekkah. Hal inilah yang menyebabkan beliau lebih sering melakukan menyendiri di dalam gua Hira.


Menurut Umar Abdul Jabbar, Rosulullah Saw. melakukan ibadah menurut ajaran Nabi Ibrahim dari sepuluh hari sampai sebulan lamanya. Apabila perbekalannya habis, beliau kembali ke rumahnya untuk mengambil bekal dari Khadijah dan kembali lagi ke gua Hira.

Monday, January 16, 2017

Keikutsertaan Rosulullah Dalam Membangun Kembali Ka'bah (7)

Ketika Ka’bah mengalami serangan banjir yang mengakibatkan kerapuhan bangunan dan pondasinya, orang-orang Quraisy sepakat untuk merenovasi kembali bangunan Ka’bah ini. Renovasi ini dimaksudkan untuk menjaga kehormatan dan kesucian bangunannya.
Rosulullah Saw. bersama pamannya Abbas bin Abdul Muthalib ikut serta dalam renovasi Ka’bah ini. Ketika itu beliau berumur 35 tahun, 5 tahun sebelum pengangkatan kenabian. Setelah dinding Ka’bah tinggi dan mencapai empat Hajar Aswad, mereka mulai berselisih terkait siapa yabg mendapat kehormatan untuk meletakkannya di rukun Yamani di sisi tmur. Mereka saling bersaing dan hampir saja terjadi peperangan.

Saturday, January 14, 2017

Urgensi Sirah Nabawiyah Untuk Pelajar

By; Iman Munandar
A.    Urgensi Sirah Nabawiyah
Sirah Nabawiyah menurut bahasa sebagai berikut, Sirah : Sejarah dan Nabawiyah : kenabian. Sementara menurut istilah Sirah Nabawiyah ialah Sejarah yang membahas kisah-kisah dan peristiwa Rosulullah Saw. Dari lahir hingga wafat. Ada beberapa Sirah Nabawiyah karya Ibnu Hisyam, Shafiyurrahman al-Mubarokfury, Umar Abdul Jabar, Said Ramadhan al-Buthy, Abu Bakar al-Jazairy, dan sebagainya.

Friday, January 13, 2017

Putra Putri Rosulullah Saw. (6)

Rosulullah Saw. Memiliki 3 putra dan 4 putri dari pasangannya Khadijah binti Khuwalid. Sementara dari istri Rosul bernama Mariyah al-Qibthiyah al-Mishriyah hanya satu putra yang bernama Ibrahim. Ibrahim meninggal dunia ketika berusia masih kecil.

Berikut putra putri Rosulullah Saw. Dari pasangan Khadijah binti Khuwalid:
Putra-putranya;
  •  Qasim. Rosulullah Saw. Dipanggil dengan kunyah Abu Qasim
  •  Abdullah
  •  Thayyib.

Semua anak laki-laki Rosulullah Saw. Semua meninggal pada usia masih kecil.

Putri-putrinya;
  • . Zainab
  •  Rukayyah
  •  Ummu Kultsum
  •   Fatimah

Putri-putri Rosul telah menyaksikan kenabian Rosulullah Saw. dan beriman kepada Allah dan Rosul-Nya.


Perdagangan dan Pernikahan Rosulullah Saw. (5)

Khadijah binti Khuwalid merupakan seorang wanita Mekkah yang kaya raya, terpandang, dan terhormat. Ia terbiasa menitipkan barang dagangannya kepada orang lain. Kali ini Ia tertarik dengan kabar kepribadian Rosulullah Saw. Yang memiliki kejujuran, kredibilitas, dan kemuliaan akhlaknya.
  
Khadijah menitipkan barang dagangannya kepada Rosulullah untuk didagangkan di Syam. Ini merupakan perdagangan kedua ke Syam yang dilakukan oleh Rosulullah Saw. Beliau ditemani oleh pembantu Khadijah bernama Maisaroh (berjenis kelamin laki-laki). Dalam perjalanan dagang ini Rosulullah Saw. Membawa keuntungan yang banyak, dan Khadijah belum pernah melihat keuntungan yang banyak ini. Karena kekagumannya Maisaroh terhadap Rosulullah Saw., ia menceritakannya kepada Khadijah. Khadijah kagum dan tertarik dengan kepribadian Rosulullah, dan Ia meminta bantuan kepada temannya bernama Nafisah binti Munyah untuk menyampaikan maksud tujuannya kepada Rosulullah Saw. Setiap lelaki dari kaumnya berhasrat ingin menikahinya andai bisa. Tetapi Khadijah lebih memilih Rosulullah Saw.

Rosulullah Saw. Menyampaikan persoalan ini kepada paman-pamannya. Beliau pergi didampingi Hamzah bin Abdul Muthalib dan Abu Thalib. Kedua paman beliau meminang Khadijah untuk Rosulullah Saw. Kemudian beliau menikahinya dan memberikan mahar sebanyak dua puluh ekor unta muda. Saat itu Rosulullah Saw. Berusia 25 tahun sementara Khadijah berusia 40 tahun.

Sebelum menikah dengan Rosulullah, Khadijah telah menikah dengan Abu Halah Razarah At-Tamimi dan Atiq bin Aidz al-Makhzumi.  Hasil pernikahan dengan Atiq lahirlah Hindun. Halah dan Hindun merupakan anak tiri Rosulullah Saw. Kedua suami Khadijah meninggal dunia sebelum menikah dengan Rosulullah Saw.  Selama Khadijah masih hidup, Rosulullah Saw. Tidak menikah lagi dengan wanita lain (monogami). Padahal poligami merupakan hal wajar pada waktu itu.


Sekarang ini banyak sekali para lelaki lebih senang membahas poligami dengan dalih mengikuti sunnah Nabi. Jika mempelajari Tarikh (sejarah) Nabi, seharusnya paham bahwasanya Rosulullah memegang prinsip monogami selama istri pertamanya masih ada. Rosul melakukan poligami setelah Khadijah meninggal dunia. Para istrinya lebih banyak janda ketimbang gadis. Kadang kala Rosul berpoligami untuk menghormati sahabat dekatnya, seperti menikahi Aisyah putri Abu Bakar dan Hafsah putri Umar bin Khotob. Yang lainnya bersifat politis,dan ada juga merupakan perintah Allah Swt. Untuk menikahi Zainab binti Jahsy yang telah diceraikan oleh Zaid bin Haritsah  sebagai bekas anak angkat Rosulullah Saw. Insya Allah bab selanjutnya akan membahas pernikahan dengan Zainab dan memiliki istri lebih dari empat.

selesai di kaki Gunung Gede Pangrango yang dingin
Iman Munandar