Friday, August 23, 2019

Larangan Jual Beli Piutang Tidak Tunai(bai’al-kali bil al-kali)

Oleh Siti Fatimah

Dalam kamus istilah bahasa arab, yang di maksud dengan bai’al-kali bil al-kali adalah an-nasi’ah bi an –nasi’ah. Nasi’ah yang dimaksud adalah at-ta’khir  atau menunda pembayaran/tidak  tunai.

Para fuqoha mendefinisikan bai al-kali bi al-kali adalah bai’nasi’ah bi nasi’ah . Maksudnya menjual piutang (tidak tunai )dengan harga tidak tunai juga . Jadi, harga objek  yang  di jual itu diserahkan  tidak tunai  . Jadi menjual piutang (tidak tunai) dengan harga tidak tunai juga harga dan objek  yang dijua itu di serahkan secara tidak tunai.
Contoh jual beli piutang tidak tunai
Bank syariah A memiliki piutang di seorang nasabah,kemudian bank syariah A menjual piutang nya ke bank syariah B secara tidak tunai , bank syariah B membeli nya dengan uang secara tidak tunai juga jadi seorang nasabah yang  meminjam uang ke bank syariah A sekarang bukan menjadi nasabah bank syariah A tetapi jadi nasabah bank syariah B karena piutang yang di miliki seorang nasabah tadi telah di jual oleh bank syariah A ke bank syariah B tanpa sepengetahuan seoorang nasabah.
Hukum jual beli piutang
Istilah bai’al-kali bi al-kali di ambil dari hadis rasulullah saw :yang berbunyi “ibnu umar r.a berkata :Rasulullah saw .melarang jual beli piutang dengan harga tidak tunai “.
Berdasarkan ijma’ulama dan substansi hadis ini ,maka bai’ al-kali bi al-kali itu di haramkan dalam islam ,dan jika terjadi ,maka akadnya menjadi fasid .
Ijma ulama cukup yang menjadi sandaran hukum keharaman bai’al-kali bi al-kali karena hadist bai’ al-kali bi al-kali itu hadist dhaif.
Para ulama menjelaskan beberapa ‘illat di haramkannya bai’ al-kali bi al-kali yaitu sebagai berikut:
·         Insyighal adz-dzimmatain
·         Gharar ,karena harga dan barang belum pasti /belum pasti diserahkan pada waktunya (ghairu maqdur at-taslim )
·         Riba nasi’ah karena termasuk sharf 
    
Bentuk bentuk jual beli piutang

Para fuqoha sudah menjelaskan pihak pihak dalam transaksi bai’ ad-dain di antaranya kreditor dan debitur dan pihak ketiga yamg menerima pengalihan piutang .

Maka jika kreditor ingin menjual piutangnya , maka pembeli piutang itu bisa debiturnya (madin) atau pihak ketiga (pihak yang  tidak memiliki utang ). Dalam dua kondisi tersebut ,jual beli bisa di lakukan secara tunai atau tidak tunai .

Sedangkan transaksi jual beli piutang dengan harga tunai baik kepada debitur atau kepada selain debitur itu ,para ulama berbeda beda pendapat tentang hukumnya ,sebagian ulama membolehkan nya dan sebagian yang lain melarangnya.

Penulis : Siti Fatimah ,mahasiswa STEI SEBI
Referensi:Riba gharar dan kaidah-kaidah ekonomi syariah

PERCAYA DIRI


  Oleh :Ajeng Dwi Nilova

    Dalam islam sangat dianjurkan untuk percaya diri sendiri,karena sama saja melakukan prasangka baik terhadap diri sendiri.percaya dengan kemampuan kita sendiri,dan tidak minder dengan kelebihan yang dimiliki orang lain.percaya diri juga mampu membuat kita slalu bersyukur atas nikmat yang telah Allah swt.kemampuan yang kita percayai memberikann sikap slalu ingin bersyukur.misalnya seperti,meningkatkan rasa patang menyerah dalam hal apapun,meningkatkan rasa tanggung jawab atas apa yang sudah kita alami dan ingin di lakukan.

        Dalam firman allah swt menjelaskan;

        “Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini,niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah...” (Qs-Al an’am:116)

         Maksud dari ayat di atas menjelaskan;jika kita mengikuti kebanyakan orang maka ka kebanyakan orang itu akan menyesatkan kita dari jalan Allah yang telah di tempuhnya.                      As-sa’di juga mengatakan di dalam tafsirannya: “ Ayat ini menjelaskan bahwa kebenaran itu bukan karena banyak pendukungnya,dan kebathilan itu bukan karena orang yang mengerjakannya sedikit.Kenyataannya (memang) yang mengikuti kebenaran hanya sedikit,sedangkan yang mengikuti kemungkaran banyak sekali.(Tetapi) kewajiban bagi umat islam adalah yang mengetahui yang benar dan yang bathil,lihatlah jalan yang di tempuh.” (Tafsir karimiimir-Rahman 1/270).

      Akan tetapi orang yang sedikit bukan pula jaminan bahwa itu pasti berada di atas kebenaran.orang-orang yang sedikit yang ternyata malah mengikuti orang kebanyakan,misalnya mengikuti komentar-komentar yang tak enak lah di instagram,twitter,facebook dan lain-lain yang meributkan ini itu.lalu kurang percaya diri ketika takut di bilang anak hilang kalau tidak berpergi beramaian padahal sendiri pun happy,itu menurut saya sendiri,karena selagi kita bisa pergi sendiri kenapa tidak kan? ya semua manusia beda-beda pendapat.

      Allah swt  menjelaskan;

     Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya”              (Qs.Al- Baqarah:286) 

     Maksud  dari ayat di atas menjelaskan bahwa Allah swt  memberikan kita ujian atau cobaan yang berat itu karena Allah swt tau kita itu bisa mengatasi nya dengan baik,kita bisa percaya diri semua masalah-masalah yang Allah berika juga adalah bentuk nikmat yang besar.seperti kita sakit,harusnya kita jangan mengeluh,itu bentuk rasa cinta  Allah  swt,agar dari sakit lah Allah swt menghapus dosa-dosa kita, dan dari musibah lainnya pun sama.masyallah ya efek dari perya diri itu menumbuhkan hasil yang sangat baik.

HEY MUSLIMPRENEUR, INI LOH STRATEGI BERDAGANG ALA RASULULLAH!!!

Oleh Najla Najmatul Fadhilah

Bismillahirrahmaanirrahiim. Untuk para muslimpreneur, baik yang ingin memulai ataupun melanjutkan ide bisnisnya tentu belum cukup jika hanya bermodal semangat ingin memiliki banyak uang. Atau pun kalian yang ingin menjadikan aktivitas berbisnisnya untuk beribadah kepada Allah maka akan semakin sempurna jika kita menilik dan mempelajari bagaimana cara berbisnis terbaik yang telah dicontohkan sang suri tauladan Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam.

لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِى رَسُولِ ٱللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُوا۟ ٱللَّهَ وَٱلْيَوْمَ ٱلْءَاخِرَ وَذَكَرَ ٱللَّهَ كَثِيرًا
"Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah." (QS. alAhzab : 21)

Membahas tentang bisnis sekilas menggambarkan tentang jalan pintas memiliki uang banyak, dan menjadi kaya raya dalam waktu yang lebih cepat. Namun, makna tersebut sangatlah sempit jika hanya itu yang menjadi tujuan.

Namun segala perbuatan yang bersifat duniawi sangat bisa dan pasti bisa menjadi berpahala ukhrawi ditentukan sebagaimana niatnya pun caranya yang sesuai dengan quran dan sunnah. Bahkan berbisnis dapat menjadi jalan dakwah strategis jika tertata niat dengan baik dan mengikuti sebagaimana cara berbisnis yang telah Nabi kita contohkan 14 abad silam.

Mengutip dari buku Ensiklopedia Leadership & Manajemen Muhammad "The Super Leader Super Manajer" jilid dua; bisnis dan kewirausahaan karya Dr. Muhammad Syafii Antonio, M. Ec. Adapun strategi memaknai hakikat berbisnis Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dapat dibagi menjadi 3 bagian;

A.     Menjual produk
  1. Menjual produk yang halal dan dibutuhkan oleh masyarakat banyak.
  2. Produk yang dijual diperoleh secara haq.
  3. Jelas kadar sifat dan jenis produk yang diperniagakan.
B.     Menjual nilai-nilai
  1. Sopan saat bersikap, santun kala berucap.
  2. Jujur saat menjelaskan sifat atau karakter suatu produk
  3. Proporsional dalam menentukan laba dari setiap produk.
  4. Memberikan kelonggaran pembayaran kepada pelanggan/mitra bisnis.
C.     Yang terpenting dan utama adalah, berniaga dengan Allah
  1. Menjadikan aktifitas berdagang sebagai bagian dari beribadah kepadaNya.
  2. Melandasi setiap aktivitas berdagang/berbisnis untuk mengharapkan keridhoanNya.
Seiring dalam memaknai bisnis/perdagangan secara islami, Dr. Muhammad Syafii Antonio, M. Ec menuliskan bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam telah membuktikan bahwa sukses bisnis yang digapainya, banyaknya kekayaan yang diraihnya, sama sekali tidak membuat beliau lupa diri dan hidup dalam kemewahan. Sebaiknya, beliau memilih pola hidup yang sederhana dan membelanjakan semua harta kekayaannya di jalan Allah.
Maka ketahuilah, adapun value added bisnis dalam islam ialah,
  1. Lebih berorientasi pada misi; mengharap keridhoan Allah.
  2. Menjadikan sumber daya manusia sebagai primary aset.
  3. Mengutamakan tujuan jangka panjang (duniawi wa ukhrawi) daripada hanya mencari keuntungan jangka pendek (duniawi saja).
Jazakumullah ahsanal jaza. Semoga bermanfaat dan semangat sukses untuk memulai, memperbaiki, dan menyempurnakan strategi bisnis dengan sebaik-baiknya.

By @najlanjm_


Thursday, August 22, 2019

Hidayah Pada Titik Terrendah Manusia

Oleh Ghozi Basyir Amirulloh

Beberapa waktu lalu, salahsatu youtuber menggegerkan publik bahwa dia mengunggah video yang berjudul “Saya Pamit” bisa jadi video itu menjadi video yang terakhir diunggah. Seorang youtuber RiaRicis vloger dengan jumlah subscriber ( langganan ) 16 juta peringkat kedua setelah Atta Halilintar. Dalam videonya sempat mengatakan ada suatu masalah yang tidak bisa diceritakan dipublik. RiaRicis juga mengatakan bahwa ada suatu masa yang dimana ingin sekali istirahat dari kegiatan vlog nya.

Ternyata sepenggal video itu menuai banyak respon dari masyarakat atau penonton. Menuai banyak komentar positif dan negatif. Bahkan banyak juga dari penonton setia ( TheRicis ) memintanya untuk kembali aktif kembali vlog di youtubenya. Hingga setelah video “saya pamit” benar adanya unggahan baru bahwa RiaRicis kembali aktif menjadi youtuber. Padahal tim ricis sedang diliburkan karena beberapa alasannya juga sejalan dengan video “saya pamit” tersebut.

Segala sesuatu akan hadir dan terjadi ditengah-tengah kita yang konteksnya bisa jadi sama dengan apa yang dirasakan RiaRicis karena itu adalah suatu hal yang manusiawi dimana kita merasa bahwa lelah akan dengan semua yang terjadi disekitar kita. Tinggal menjadi pilihan kita untuk kuat atau lemah dari sesuatu yang terjadi. Tetap melaju menjadikan diri kita kuat dan mundur dari peperangan menjadikan kita pengecut bahwa kita tidak bisa melewati permasalahan yang terjadi. Nilai yang bisa kita ambil hikmahnya adalah bahwa manusia itu bisa mencapai titik kesadaran dari apa yang selama ini kita lakukan. Apakah itu baik atau buruk.

Boleh jadi itulah yang dinamakan Hidayah. Petunjuk dari Allah untuk menjadi pribadi yang baik atau jika kita tidak mengikuti itu menjadi sebaliknya. Seminimalnya memperingati bahwa apa yang kita lakukan selama ini apakah untuk Allah SWT atau malah bernilai kemaksiatan. Penyadaran itu hadir pada saat waktu yang bisa dibilang tepat sekali yang tadinya terlihat bahagia tiba-tiba menjadi sadar akan kesalahannya.

Ketika RiaRicis meminta apakah lebih baik lanjut atau tidak menjadi Vloger direspon negatif dan juga lebih memerhatikan yang menurutnya Positif dari komentar TheRicis. Sama dengan kita ketika mengalami hal yang sama pasti kita butuh orang lain yang bisa menguatkan alasan kita mengikuti pintu hidayah tersebut atau tidak. Saya pernah menemukan orang yang ibunya meninggal dimana dia sedang berada dalam kesenangan menurutnya tetapi dengan cara yang kurang baik atau biasa disebut sedang bandel-bandelnya. Orang ini tersadarkan bahwa ibunya telah tiada dan apa yang dilakukan saat itu. Keputusan apa yang harus diambil. Apakah menjadi anak yang shaleh atau kembali seperti biasa. Beberapa hari setelah kematian ibunya orang inu tersadarkan dan merenung lebih memilih untuk menjadi orang yang shaleh dan menjauhi perilaku yang tidak baik. Namun, karena bergaul dengan orang yang menguatkan adalah habitatnya seperti dahulu lagi. Pada akhirnya seolah tidak menjadi masalah dan kembali dengan perilaku yang sama. Ketika orang lain menyadarkan pun membelakan dengan pembenaran dan menyalahkan orang yang mengingatkan. Itulah dimana saat teman itu memiliki nilai yang luar biasa. Pernyataan bergaul lah dengan orang yang baik memang benar adanya karena pada saat demikian siapa yang akan membimbing dirinya kepada Jalan-Nya atau tidak. Tapi bukan berarti pilih-pilih teman secara selektif. Untuk komunikasi dalam bergaul dengan siapa saja memang perlu karna kita tidak tahu hidayah itu akan datang melalui apa dan siapa. Kewajiban orang adalah mengingatkan dan Allah yang memberikan Hidayah. Tinggal manusia bagaimana menghantarkan manusia yang lain kembali ke jalan yang lurus.

Semoga kita semua diberikan Hidayah oleh Allah SWT dan mati dalam keadaan Husnul Khotimah. Konsisten beriman dan beramal shaleh.
Wallahu‘alambishawab


MAS, AKU MINTA CERAI...

"Aku minta cerai..."
Pagi-pagi layar HPku sudah dihiasi kalimat ini. Itu chat dari Karmila, teman sebangku dulu saat SMA. Dia pengantin baru.
Seperti biasa, aku biarkan ia menumpahkan segala keluh kesahnya terlebih dahulu. Setelah tenang, baru aku mengajaknya bicara.

....
"Karmila...
Kamu sudah lama mengenalku. Kamu tahu kan bahwa aku tidak berteman dengan sembarang orang. Lalu kenapa aku mau berteman denganmu?
Karena kamu adalah perempuan yang kuat.
Kamu adalah chargerku saat aku lowbat.
Aku kaget melihatmu menjadi perempuan lemah seperti ini Karmila...
Kamu menikah dengan Arif karena kamu mencintainya. Bukan dijodohkan, apalagi dipaksakan. Artinya, kamu telah siap menerima segala kelebihan beserta kekurangan yang mengikut dalam dirinya.
Karmila...
Pernikahan bukanlah semanis foto pra wedding. Dimana kamu bisa menentukan berapa banyak yg akan di edit, bagian mana yang akan kamu buang dan berapa jumlah adegan yang harus kamu potong.
Pernikahan Ibarat Kapal yang didalamnya ada Nahkoda dan Awak, dimana setiap peran butuh kesungguhan dan keikhlasan dalam menjalankannya.
Pernikahan itu bukan mainan yang ketika kamu bosan, kamu bisa melemparnya ke Tong sampah kapan saja kamu mau.
Karmila...
Tak ada rumah tangga yang tidak di uji Apalagi pengantin baru sepertimu. Sabarlah Karmila. Tegarlah...
Ini ujian Allah buatmu, agar kamu bisa naik kelas ke tingkat yang lebih tinggi".
...
Aku menasehati Karmila panjang lebar.
Ia diam...
Namun pada akhirnya mengikuti saranku untuk mencoba Intropeksi diri sebelum melayangkan gugatan cerainya kepada Arif, lelaki yang ia nikahi 4 bulan yang lalu tersebut.
...
Yap,
Inilah pekerjaan sampinganku, menjadi konseling rumah tangga dadakan. Entah sejak kapan aku memulai 'karir' ini, aku lupa.
Yang kuingat, gara-gara 'ceramahku' ini aku sudah banyak menyelamatkan rumah tangga sahabatku yang hampir kandas di pengadilan agama.
Suatu saat pernah ku tanya Yarni, sepupuku. Mengapa ia lebih memilih meminta pertimbangan ku dibanding orang-orang terdekatnya yang lebih berpengalaman dariku.
"Sebab hidupmu hampir sempurna. Kamu Baik, Cerdas, Mapan, Bijak, punya anak yang lucu dan punya suami yang juga sangat menyayangimu. Aku ingin belajar darimu bagaimana cara membentuk rumah tangga se sakinah itu", Jawabnya enteng.
Dan akupun hanya bisa tersenyum...
Senyum sambil menahan butiran air mata dikelopakku, betapa sesaknya mendengar pujian yang salah alamat tersebut.
**
"Mau kemana Mas?", Tanyaku.
"Mau keluar sebentar, ada meeting penting di Kantor", jawabnya datar sambil berlalu di hadapanku. Diciumnya Annisa, anak kami. Ia keluar tanpa mengucapkan sepatah katapun padaku.
Aku menarik napas panjang...
Jika orang yang baru melihat kami, mereka akan berpikir bahwa kami sedang bertengkar. Padahal tidak.
Inilah wajah rumah tanggaku yang sebenarnya. Kaku dan dingin. Ia seperti tubuh yang mati suri. Tak berasa sama sekali. Bagiku, ini tak layak disebut rumah tangga. Ini adalah panggung sandiwara. Semuanya palsu.
Hampir 10 tahun sudah aku menjadi isterinya. Isteri dari Wirya Mangkubumi...
Dari namanya, orang-orang sudah bisa menebak bahwa aku menikah dengan anak bangsawan keturunan Jawa. Dari namanya pula, orang-orang akan percaya bahwa aku hidup berkecukupan dan bahagia dalam berumah tangga.
Betul...
Memang betul...
Bagi orang sekitar kompleks, Kami dikenal sebagai keluarga kaya raya. Kami tinggal di kawasan jantung Ibu Kota dengan rumahku sebagai icon dan patokan bahwa masyarakat dilingkungan ini hidup berkecukupan.
Aku punya sebuah perusahaan retail dengan puluhan karyawan yang hidup sejahtera di bawah pimpinan ku. Suamiku pun demikian. Ia adalah bos dari sebuah perusahaan provider.
Anak kami hanya satu. Annisa namanya. Ia gadis kecil pintar dan energik. Ia juga penurut dan sopan kepada orang lain.
Inilah segelintir alasan yang membuat orang-orang berpikir bahwa keluargaku hidup dengan Sakinah, mawadah dan warahmah.
...
Namun, dibalik semua itu orang-orang tak pernah tahu, bahwa Lebih dari separuh perjalanan rumah tanggaku, kami habiskan dengan hidup penuh dengan kepalsuan.
Senyum kami palsu. Kemesraan kami palsu. Kebahagiaan kami palsu. Mungkin cinta kami juga palsu, mungkin...
Batinku benar-benar tersiksa...
Saat di rumah, kami seperti orang asing. Masing-masing sibuk dengan dunianya. Aku sibuk mengurus invoice bisnisku, dia pun sibuk mengecek laporan keuangan perusahaannya.
Kalau tak ada tamu, kami tidur terpisah. Kami hanya bertemu saat jam sarapan, makan siang atau jam makan malam di meja makan. Sesekali kami juga saling menyapa saat Annisa memanggil kami untuk bermain.
Benar-benar asing...
Saat Liburan tiba, orang-orang sibuk mempersiapkan acara. Ada yang ke gunung, menaiki kehidupan. Ada yang ke pantai, membuang penat dan sial. Ada yang ke Mall, menghabiskan uang dan derita.
Aku?
Aku merayakan nasib, di pojok kamar sambil menulis dan meracik kata. Sesekali sambil mencipta nada dan menyanyikan lagu harapan. Agar tetap menyala di tahun yang akan datang.
Aku ingin sekali berteriak kepada suamiku :
"Hei lelaki yang di pojok sana, jangan sibuk sendiri. Ketahuilah, ada duniaku disini yang kosong. Yang harus selalu kau isi penuh, jangan biarkan setan menggodaku untuk menyimpan nama orang lain disini... Di hati ini."
Ahh...
Tapi tidak...
Aku gengsi.
...
Kami sepasang suami isteri yang aneh.
Kecuali surat nikah, akta keluarga dan tinggal serumah, tak ada satupun hal yang membuat kami layak dikatakan pasangan suami isteri. Apalagi masuk kategori sakinah mawadah warahmah.
Sebab Aku mencari nafkah sendiri. Aku menabung untuk masa depan sendiri. Aku mengurus kebutuhan pribadiku sendiri. Aku menghadiri undangan pesta sendiri. Aku ke pasar sendiri. Aku menggeser lemari sendiri. Aku mengecat rumah sendiri. Dan akupun tidur sendiri (bersama Annisa tepatnya).
Aku seperti tak punya suami.
Mungkin dia pun berpikir begitu padaku. Entahlah...
Aku menduga, suasana dingin ini adalah klimaks dari perdebatan-perdebatan yang tiap hari rutin kami lakukan.
Ya, kami sering bertengkar.
Mulai dari hal-hal kecil yang tak masuk akal seperti saling tuduh kentut siapa yang paling bau, sampai saling tuduh siapa yang selingkuh di antara kami.
Kami bosan. Kami telah jenuh pada pasangan masing-masing.
Aku jenuh padanya. Dia pun jenuh padaku.
***
Malam ini aku tak bisa menahannya lagi...
Wirya menghilang seharian.
Seperti biasa, ia tak memberitahuku akan kemana.
Malam telah larut...
Jam telah menunjukkan waktu 01.00 WIB.
Kuhubungi staffnya. Ia bilang suamiku telah pulang sejak sore.
Kutahan amarah yang membuncah di dadaku. Andai saat ini dia di depanku, aku ingin teriak kepadanya dan bertanya :
"Masih berhargakah aku dimatamu? Apa kau punya selingkuhan? Kenapa tak jujur saja? Aku akan menerimanya dengan lapang dada. Asal kau bahagia..."
...
Aku menangis...
Kuhamparkan sajadahku...
Di sujud terakhir aku tersungkur. Hampir tak mampu lagi kudongakkan kepalaku.
Ku ucapkan salam dengan terengah-engah.
Dengan terisak Isak aku mengadu kepada Tuhan...
"Ya Allah...
Katamu Engkau Maha mendengar...
Melebihi tajamnya telinga seorang Ibu kepada anaknya... Tapi kenapa Kau tak bisa mendengar jeritan batinku ???
Apa Kau benar-benar ada ???", Aku seperti orang Kafir.
"Dosa apa yang telah kuperbuat sehingga Engkau menghukumiku seperti ini. Aku sholat, aku berzakat, aku berpuasa, aku bersedekah bahkan mungkin lebih banyak dari standar orang-orang yg bersedekah. Aku berusaha baik kepada semua orang. Aku tolong semua orang yg membutuhkan bantuan ku. Tapi kenapa aku tak bisa bahagia?
Ya Allah, Aku ini lemah. Imanku tak kuat lagi. Jangan biarkan setan mempengaruhiku !!!
Tolong bantu aku ya Allah...", Aku putus asa.
.....
Pukul 02.00, Wirya belum juga pulang.
Kuambil Handphone ku. Tak ada satupun SMS atau riwayat telponnya yg masuk.
Aku memutuskan untuk menghubunginya hingga tiga kali, tapi tak diangkat.
Ku ketik Chatku...
"Buya...
(Panggilan sayangku padanya)
Lagi dimana?"
Chatku terbaca. Tapi tidak dibalas.
...
Pukul 02.30, kesabaranku telah habis.
"Mas.........
(Aku mulai mengetik curahanku).
Apa kamu sudah lupa jalan pulang kerumah ?
Apa kamu tidak ingat bahwa ada anak isterimu yang menunggu di rumah dengan perasaan cemas tidak karuan ?
Kamu boleh tidak menghargai ku sebagai isterimu. Tapi tolong hargai aku sebagai seorang wanita. Aku masih punya perasaan Mas. Ini hatiku bukan batu. Aku masih bisa merasakan luka.
Mas........
Kamu tahu hari ini hari apa ?
Ini hari ulang tahun pernikahan kita Mas...
10 tahun yang lalu, kamu datang memintaku baik-baik dihadapan kedua orang tuaku.
Kenapa kamu berubah seperti ini mas...
Apa salahku padamu ?
Apa kamu jenuh ??
Katakan...
Sebenarnya apa yang lebih penting bagimu di banding keluarga kita Mas?
Apa ada orang lain selain aku di hatimu?
Jika Ya, maka aku bersedia mundur demi membahagiakanmu.
Mas.....
Ku ketik kalimat ini dengan perasaan marah,kecewa, dan juga bersedih...
Marah pada diriku. Kecewa pada dirimu. Dan sedih kepada Annisa, karena sebentar lagi ia tak akan memiliki keluarga yg utuh.
Mas, aku sudah tak tahan Lagi...
AKU MINTA CERAI !!!
....
***
Pukul 03.00
Kringg...kring...
Handphoneku berbunyi.
Dari seberang ku dengar suara tegas bertanya padaku :
"Ini betul Ibu Atirah? Suami anda sedang kritis di Rumah Sakit. Silahkan ......
Tut...Tut....
Ku putus telponnya.
"Oh Tuhan, Jam 3 subuh seperti ini orang-orang sudah mulai menipu ?", Umpatku.
****
Dengan kaki gemetar Aku menuju ruang operasi. Di tanganku ada tasbih yang tak berhenti ku baca seirama dengan mulutku...
Di depan ruangan, Mas Agung, Teman Suamiku telah menunggu. Ia menelpon setelah Polisi tak berhasil menghubungiku. Mas Agunglah yang memberitahu bahwa Wirya benar-benar kecelakaan.
...
"Ini Tas Wirya... Ia semalam tidur di kantorku", katanya sambil menyodorkan tas Wirya.
Mas Agung bekerja di Imigrasi.
"Wirya memaksaku menyelesaikan administrasi paspor kalian Atirah. Ku bilang besok saja tapi dia tetap bersikukuh.
Katanya hari ini adalah hari pernikahan kalian. Dia ingin membuat surprise...
Kamu sering meminta mengunjungi Palestina. Ia sedang berusaha mewujudkannya... Kamu ingin melihat Gaza dari dekat kan?"
Tubuhku tiba-tiba lunglai...
Aku tak tahu harus berekspresi seperti apa.
Awalnya aku ingin marah, tapi penjelasan Mas Agung barusan benar-benar memukulku.
Aku menangis sejadi-jadinya....
....
*****
Lelaki itu terbaring lesu dengan selang oksigen dihidungnya.
Kupegang tangannya.
"Dasar lelaki robot !", Umpatku dalam hati sambil tersenyum.
"Ayo bangun Mas, Jangan hanya kepadaku kamu berani. Lawan selang oksigen itu Mas"
Lelaki robot ini, aku penasaran hatinya terbuat dari apa. Ia kaku tapi diam-diam penuh perhatian. Lelaki ini sungguh ajaib. Bahkan ia tak tahu cara memelukku dengan benar. Jika sedang menginginkan waktu bersama denganku, ia hanya datang menyenggol kan kakinya pada kakiku.
Aneh, apa maksudnya coba.
Kalau aku pura-pura tak paham. Dicarinya gerakan-gerakan tak masuk akal lainnya : mainin saklar lampu, mukul-mukul piring hingga terdengar nyaring di telingaku, dan gerakan aneh lainnya.
Awalnya ku kira ia kelainan jiwa.
Tapi ternyata itu adalah efek dari besarnya rasa gengsi untuk mengakui bahwa ia telah takluk kepadaku.
Di kantor, ia adalah Bos yang berwibawa. Kehidupan itu ingin ia terapkan juga dalam kehidupan rumah tangganya.
Ditakuti dan dituruti. Namun Apalah daya, ia beristrikan wanita sepertiku yang juga keras kepala dan tak mau mengalah.
Dari cerita Mas Agung di depan ruang operasi tadi, aku jadi tahu...
Kalau Mas Wirya ternyata sangat mencintaiku. Ia hanya tak mau mempertontonkan perasaannya kepadaku.
Kalau bukan tadi, aku tak akan pernah tahu bahwa bensin mobilku selalu Mas Wirya isi full secara diam-diam. Ia juga selalu nongkrong di kafe dekat kantorku setiap jam makan siang demi memantau dan memastikan bahwa aku hari itu baik-baik saja.
Ada banyak hal lain lagi yang ia selalu lakukan secara diam-diam. Seperti Memberi pesangon karyawanku, mengantar cek up rutin kedua orang tuaku dll.
Dan semua itu aku baru mengetahuinya tadi dari Mas Agung.
Iyah benar...
Selama ini ku kira asistenku yang melakukannya.
...
Keegoisanku dan sifatku yang selalu merasa benar, membuatku lupa bahwa terkadang ia suka melucu, walaupun garing.
Pernah ketika pulang kantor dicegatnya aku dipintu...
"Besok Annisa pakai Pramuka kan?", Tanyanya
"Iyah", jawabku singkat...
"Bajunya sudah aku cuci dan ku jemur di belakang", katanya dengan perasaan tak berdosa. Nyata jelas jika saat itu ia minta pujian...
Dengan menahan sedikit emosi, ku tengok keranjang pakaian dimeja setrika, Kosong...
"Mas..
Yang di keranjang semua sudah saya setrika !!!", Teriakku.
Secepat kilat ia berlari masuk ke ruang kerjanya, takut disemprot olehku.
.....
Tiba-tiba aku sangat merindukan senyum laki-laki ini...
"Mas...
Kamu dengar aku nggak Mas...
Makasih atas segala cinta dan pengorbanan yang selama ini telah kau lakukan untukku dan Annisa. Maafkan aku yang tidak menyadarinya...
Mas...
Saat aku bilang semalam minta cerai, sebenarnya aku takut. Takut kalau kamu juga berpikir yang sama denganku.
Mas...
Buka matamu Mas...
Kamu ingat ga Mas, kamu masih punya utang sama aku. Itu uang tabunganku yang kamu pinjam buat investasi belum dibalikin loh...
Balikin dulu Mas, baru tidur lagi..."
...
Uhuk-uhukkk....
Tiba-tiba Mas Wirya Batuk.
"Tega kamu ya... Aku lagi sekarat kok malah nagih utang", katanya cemberut...
"Kritis kok selang oksigennya ga terpasang", protesku.
"Owh kamu tahu yah...", Celetuknya.
"Ya iyalah, anak TK juga tahu", balasku nyinyir.
Kupeluk tubuh yang masih lesu didepanku itu.
"Alhamdulillah, Kamu masih hidup Mas. Saya belum siap jadi janda", ucapku manja.
"Kalau jandanya kayak kamu, pasti banyak yang ngantri yah... Nyesel aku nanti.
Owh ya, tadi berapa utangku?", Candanya...
Aku tersipu.
"Utangmu lunas Mas, Aku cuma butuh pelukan ini. Jangan lepas lagi. Jangan kemana-mana lagi...", Pelukku
"Iyah sayang..."
Mas Wirya memelukku lebih erat lagi...
....
THE END.
"Andai saja semua laki-laki tahu cara mencintai wanita dengan tepat, maka akan berkurang angka perceraian di Pengadilan Agama"
(Rizkia Milida)

sumber : FB

MANFAAT HIJAB UNTUK KESEHATAN

Oleh Euis Juhrotul Hasanah

Wanita adalah sebaik-baik perhiasan dimuka bumi ini, maka sebagai muslim yang baik kita wajib untuk menjaga dan memeliharanya sebagaimana firman Alloh Swt dalam QS. Al-Ahzab : 59

“Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin,’hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya keseluruh tubuh mereka.’ Yang demikian itu supaya lebih mudah untuk dikenal , karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah Swt Maha Pengampun lagi  Maha Penyayang .”

 Terdapat juga dalam QS. An-Nur : 31

“Katakanlah kepada wanita yang beriman: Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka merupakan perhiasannya kecuali yang biasa nampak dari padanya. Henaklah mereka menutupkan kainkudung kedadanya..... ”

Allah Swt memerintahkan kita sebagai muslimah untuk berhijab bukan tanpa hikmah, banyak sekali manfaat menggunakan hijab mulai dari sebagai identitas kita sebagai muslimah, terjauhi dari gangguan dan marabahaya setan yang mengganggu, selain itu manfaat hijab juga baik bagi kesehatan, mengapa bisa?  Ketika kita sering melakukan aktivitas diluar ruangan kemungkinan besar kita akan berkontraksi langsung dengan sinar  matahari dan debu yang dapat merusak kulit. Beberapa manfaat menggunakan diantaranya:

   1.       Terhindar dari bahaya sinar UVB yang yang terpancar bersama matahari, menurut para ahli ‘sinar matahari memiliki tiga kandungan yaitu UVA, UVB, dan UVC. UVA ada saat pagi hari, uva mengandung vitamin D yang membantu dalam proses pertumbuhan tulang dan peredaran darah karena cahaya matahari pagi masih terasa hangat, sedangkan UVB ada ketika siang hari atau ketika cahaya matahari sangat terik, UVB sangat berbahaya bagi kulit karena dapat mengakibatkan gangguan kulit seperti kulit menjadi hitam, kulit kering dan bahkan dpat mengakibatkan kanker kulit, sedangkan kandungan UVC tidak sampai kebumi karena dapat dicegah oleh lapisan ozon’. Maka dari itu ketika kita menggunakan hijab maka kulit tidak akan langsung terpapar sinar matahari sehingga kulit kita terjaga dari dampak buruk sinar matahari tersebut.

  2.       Melindungi kulit dari debu dan polusi, selain menjaga kulit kita dari sinar matahari, menggunakan hijab juga bisa menjaga kita dari debu dan polusi yang tersebar bebas yang dapat mengakibatkan kulit kering, terjadi bintik-bintik hitam dan gangguan lainnya. Menurut para ahli ‘debu-debu yang berasal dari sisa pembakaran atau dari kenalpot kendaraan ini memiliki vartikel yang sangat kecil sehingga debu dan polusi yang menempel pada kulit tersebut dapat masuk kedalam  pori-pori kulit’.


   3.       Memberikan ketenangan dalam jiwa, selain kulit kita terjaga dari bahaya yang dapat menimbulkan penyakit pada kulit, menggunakan hijab juga dapat memberikan nuansa ketenangan dan kesejukan hati sehingga kita akan merasakan rilex, pikiran kita terasa tenang. 

“Meraih Surga Allah Dengan Berwakaf” (Umur Amal Mengalir Abadi)


Oleh Marsila

Wakaf merupakan salah satu sedekah istimewa dan bentuk perniagaan terbaik dengan Allah SWT yang tidak hanya mempunyai fungsi untuk meningkatkan kesejahteraan umat, namun Allah SWT juga menjanjikan pahala yang sangat besar bagi orang berwakaf, dengan melimpahkan aliran pahala dan kebaikannya yang mengalir abadi. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW dalam sebuah haditsnya yaitu “Apabila manusia meningal dunia, maka terputuslah semua amalnya kecuali tiga perkara, yaitu : sedekah jariyah (yang mengalir terus), ilmu yang bermanfaat, dan anak shalih yang mendoakannya” (HR Muslim).


Para ulama menafsirkan kalimat “shadaqah jariyah” dalam hadits ini sebagai wakaf. Imam Nawawi menyatakan bahwa hadits ini merupakan dalil keabsahan wakaf dan besarnya pahala waqaf. Menurutnya, yang dimaksud dengan shadaqah jariyah adalah wakaf (Syarah Nawawi ‘ala Muslim, 11/85).

Dibanding dengan ibadah sedekah dan hibah, manfaat berwakaf jauh lebih abadi dan tidak terputus hingga generasi mendatang, tanpa mengurangi hak atau merugikan generasi sebelumnya, serta pahalanya yang terus mengalir dan berlipat, walau wakif (orang yang mewakafkan) telah meninggal dunia. Begitulah Allah mengistimewakan wakaf.

Namun mendengar kata “wakaf”, banyak muslim saat ini mempresepsikannya sebagai sebuah ibadah harta yang besar, dan ditunaikan jika sudah kaya dan jika sudah tua. Itulah yang menyebabkan mereka lebih memilih mengeluarkan zakatnya ataupun bersedekah saja dulu dibanding dengan berwakaf. Padahal kini, Majelis Ulama Indonesia telah memberikan fatwa diperkenankannya Wakaf Tunai (wakaf uang). Berwakaf tidak lagi harus menunggu memiliki tanah yang luas dan kekayaan yang cukup, tetapi bisa dilakukan sesuai kemampuan.

Wakaf tidak menghabiskan harta, justru mengekalkan harta dan menjadi jalan untuk meraih ridha dan ampunan-Nya. Pahala wakaf ini terus berlanjut bahkan hingga si wakif sudah wafat. Artinya, sekalipun si wakif telah lama wafat, dia akan tetap memperoleh aliran pahala wakaf tanpa putus-putus.
Bayangkan, jika berwakaf  sekali saja, berpahala berkali-kali, bagaimana jika kita berkali-kali berwakaf. Betapa banyak anugerah yang Allah Swt limpahkan kepada orang-orang yang mengeluarkan harta benda ikhlas karena-Nya.

Jika ada cara yang lebih “murah” untuk “membeli” surga Allah, mengapa tidak memilih cara ini?Ayo Berwakaf Untuk Meraih Pahala Abadi !            


Refrensi :

Wednesday, August 21, 2019

*Airmata Penunduk Abu Daud*

Namanya Muhammad Daud. Sesuai kebiasaan di Aceh, daerah asal disematkan di nama. Jadilah ia dikenal luas sebagai Muhammad Daud Beureueh, dengan sapaan "Abu Daud". Bila Teuku Mohammad Hasan (tokoh Muhammadiyah dan PPKI) terlahir di Sigli, di daerah yang sama ini berdiri sekolah bentukan Daud Beureueh yang tersohor di seluruh Aceh: Madrasah Sa'adah Abadiah.

Kesabaran lelaki yang lahir pada 1898 itu berakhir. Ia harus mengangkat senjata bersama-sama ribuan pengikut setianya, dengan didukung rakyat Aceh yang amat menghormatinya. Bukan sebuah putusan yang dikehendaki kata hatinya apabila melihat kebaikan perangai dan pengorbanan yang dilakukannya ke Republik. Tapi pengingkaran janji berkali-kali diterimanya, melukai perasaan diri dan lebih-lebih sanubari rakyat Aceh. Padahal, sejak Proklamasi 17 Agustus 1945 tersiar sampai di Aceh, warga di sana menyambut penuh sukacita. Tidak tebersit sedikit pun kata berpisah apalagi merasa berbeda. Ikatan untuk menjadi satu dalam tanah air dan terutama agama begitu kokoh. Terlebih perasaan anti-kolonialisme berabad lamanya dibuktikan dengan perjuangan berdarah-darah di negeri Aceh. Perasaan senasib dengan saudara seiman di tempat lainnya ketika menghadapi kaum kafir penjajah terejawantah dengan indah.
Dan Sukarno, si lelaki dengan drama airmata paham betul kondisi batin dan kesetiaan rakyat Aceh, termasuk pemimpinnya.
“Saya minta bantuan Kakak agar rakyat Aceh turut mengambil bagian dalam perjuangan bersenjata yang sekarang sedang berkobar antara Indonesia dan Belanda untuk mempertahankan kemerdekaan yang telah kita proklamirkan pada tanggal 17 Agustus 1945,” pinta Sukarno kepada Daud Beureueh pada 1947 di Aceh.
"Saudara Presiden! Kami rakyat Aceh dengan segala senang hati dapat memenuhi permintaan Presiden asal saja perang yang akan kami kobarkan itu berupa perang sabil atau perang ‘fisabilillah’, perang untuk menegakkan agama Allah sehingga kalau ada di antara kami yang terbunuh dalam perang itu maka berarti mati syahid,” balas Daud Beureuh mantap.
"Kakak! Memang yang saya maksudkan adalah perang yang seperti telah dikobarkan oleh pahlawan- pahlawan Aceh yang terkenal seperti Teungku Tjhik di Tiro dan lain-lain yaitu perang yang tidak kenal mundur, perang yang bersemboyan ‘merdeka atau syahid’.”
“Kalau begitu kedua pendapat kita telah bertemu, Saudara Presiden. Dengan demikian bolehlah saya mohon kepada Saudara Presiden, bahwa apabila perang telah usai nanti, kepada rakyat Aceh diberikan kebebasan untuk menjalankan Syariat Islam di dalam daerahnya.”
“Mengenai hal itu Kakak tak usah khawatir. Sebab 90% rakyat Indonesia beragama Islam.”
"Maafkan saya, Saudara Presiden, kalau saya terpaksa mengatakan, bahwa hal itu tidak menjadi jaminan bagi kami. Kami menginginkan suatu kata ketentuan dari Sdr. Presiden."
“Kalau demikian baiklah, saya setujui permintaan Kakak itu.”
Daud Beureueh bukan seorang diplomat; ia juga tidak pernah bersekolah formal. Tapi ia melek huruf dan tahu bagaimana menyalakan marwah. Di hadapannya duduk seorang yang penuh karisma yang dielu-elukan oleh banyak manusia Jawa. Sosok yang piawai dalam membakar emosi pendengar kata-katanya.
“Alhamdulillah. Atas nama rakyat Aceh saya mengucapkan terima kasih banyak atas kebaikan hati Saudara Presiden. Kami mohon, sudi kiranya Saudara Presiden menulis sedikit di atas kertas ini,” sergah Daud Beureueh sambil menyodorkan secarik kertas kepada Presiden Sukarno.
Mendengar ucapan terakhir Daud Beureueh itu, langsung Presiden Sukarno menangis terisak-isak. Air matanya yang mengalir di pipinya telah membasahi bajunya. M. Nur El Ibrahimy melukiskan respons Sukarno dalam dialog di atas. Percakapan yang tersiar luas ini hasil wawancaranya dengan Daud Beureueh, yang termuat dalam buku _Teungku Muhammad Daud Beureueh; Peranannya dalam pergolakan di Aceh,_ terbitan Penerbit Gunung Agung, Jakarta, 1982 halaman 64-65.
Dalam keadaan terisak-isak, tulis El Ibrahimy, Presiden Sukarno berkata, “Kakak! Kalau begitu tidak ada gunanya aku menjadi Presiden. Apa gunanya menjadi Presiden kalau tidak dipercaya.”
“Bukan kami tidak percaya, Saudara Presiden,” tanggap langsung Daud Beureueh. “Akan tetapi hanya sekedar menjadi tanda yang akan kami perlihatkan kepada rakyat Aceh yang akan kami ajak untuk berperang."
Lantas Presiden Sukarno sambil menyeka air matanya berkata, “_Wallah, Billah_, kepada daerah Aceh nanti akan diberi hak untuk menyusun rumah tangganya sendiri sesuai dengan Syariat Islam. Dan _Wallah,_ saya akan pergunakan pengaruh saya agar rakyat Aceh benar-benar nanti dapat melaksanakan Syariat Islam di dalam daerahnya. Nah, apakah Kakak masih ragu-ragu juga?”
“Saya tidak ragu lagi, Saudara Presiden,” jawab Daud Beureueh. “Sekali lagi atas nama rakyat Aceh saya mengucapkan banyak terima kasih atas kebaikan hati Saudara Presiden.”
Iba hati Daud Beureueh melihat Presiden menangis terisak-isak. Ia pun tidak sampai hati lagi meminta jaminan hitam di atas putih atas janji-janji Presiden Sukarno itu, tulis El Ibrahimy melukiskan kata-kata Daud Beureueh beberapa tahun kemudian.
Daud Beureueh paham arti janji; janji sesama lelaki Muslim pula, yang akan disampaikan kepada jutaan rakyat Aceh yang memercayainya. Di Jakarta, dua tahun sebelumnya Ki Bagus Hadikusuma memetik arti bersitegang dengan Sukarno soal dasar negara. Termasuk mengalami sendiri situasi tegang seputar pergantian “tujuh kata” dalam sila ketuhanan, dan pasal presiden beragama Islam dalam undang-undang dasar. Ahmad Syafii Maarif (1996) dalam _Islam dan Politik, Teori Belah Bambu Masa Demokrasi Terpimpin_, menyatakan bahwa Sukarno memang sangat kewalahan menghadapi Ki Bagus. Salah satunya soal sila Ketuhanan dan penyebutan eksplisit dalam rumusan undang-undang dasar bahwa Presiden harus beragama Islam.
Sayangnya, Ki Bagus tak sempat bersua langsung dengan Daud Beureuh. Atau paling tidak mengirimkan pesan perlunya kehati-hatian menghadapi Sukarno, terutama kala ia berjanji dan menebar airmata.
“Sukarno pintar membuat orang lain senang. Tapi itu semua bukan keluar dari hati kecilnya. Ini semata taktik untuk menghilangkan kedongkolan orang yang tidak sependapat dengannya,” begitu ucap Ki Bagus suatu waktu kepada sang anak, Djarnawi Hadikusuma, sebagaimana tercatat dalam _Derita Seorang Pemimpin._
Misalkan saja kalimat Ki Bagus itu sampai lebih awal ke Daud Beureuh, kita tak tahu drama apa di Aceh sana. Sayangnya, Sukarno berhasil memainkan drama airmata. Tepat persis di depan sosok penuh wibawa, "seorang ulama yang paling terkenal dan paling dihormati di Aceh dalam abad ini" dalam kata-kata James T. Siegel di bukunya _The Rope of God_ (1969).
Inilah pelajaran ketika firasat seorang Muslim ditundukkan oleh airmata dan janji. Dan hari ini ada banyak asa dan angan diterbangkan dengan menyandar pada kebesaran nama si pengurai airmata di atas. Semestinya sebagai makhluk berakal, kita tak patut lengah. Memaafkan masa lalu tapi tak melupakan kelakuan manusia yang muda memgumbar airmata dengan lipatan hasrat mendusta di sebalik itu. []
Foto diambil dari buku El Ibrahimy hal 219. Teks ini edisi ringkas dari salah satu bahasan di buku _Mufakat Firasat_ (2017).

Sumber : FB