Saturday, April 4, 2020

Demokrat Sediakan Nasi Goreng GRATIS untuk Driver Ojek dan Taksi

Pandemi Virus Corona di Indonesia berdampak secara luas terhadap ekonomi nasional terutama pekerja harian seperti driver ojek dan taksi. 


Untuk meringankan mereka, partai Demokrat menyediakan nasi goreng gratis di RODA TIGA CAFE, Cilandak Barat, Jakarta Selatan. Info tersebut disampaikan oleh Rachland Nashidik dalam akunya,@RachlanNashidik.


Dari Partai Demokrat dan Roda Tiga Cafe Setiap hari mulai jam 13:00 sampai jam 20:00 NASI GORENG GRATIS untuk Anda, PENGEMUDI OJEK dan PENGEMUDI TAKSI. RODA TIGA CAFE Jln. Lebak Bulus 1 No 1 C-D, Cilandak Barat Jakarta Selatan.

Friday, April 3, 2020

Resmi ...88 Negara Minta Bantuan ke Erdogan Dalam Penanganan Covid19*

Hari ini, 88 negara resmi meminta bantuan Turki dalam penanganan covid19, termasuk Indonesia.
Setelah satu kapal logistik bantuan turki ke Spanyol dan satu pesawat cargo logistik bantuan Turki ke Italia diterima. Banyak negara meminta bantuan Turki.
Sangat wajar dunia percaya kepada turki, karena penanganan coronavirus di Turki termasuk dalah satu yang terbaik di dunia.

Kasus corona di Turki per hari ini adalah 15.678 kasus. Tapi angka kematian(fatality rate) hanya berada di angka 1,58% (277 orang). (Fatality Rate Indonesia di angka 9,8%). Dan fatality rate rata rata dunia saat ini 7-8%.
Kasus corona terbanyak di Turki terjadi di kota istanbul 60% secara nasional. Kemudian diikuti oleh provinsi Izmir, Ankara, Konya dan Kocaeli.
Vaksin coronavirus pun sedang terus dikebut di Turki, harapannya semakin cepat siap pakai dan siap distribusi.
Sampai hari ini, negara negara yang sedang mengupayakan vaksin covid19 ini adalah AS, Rusia, Cina, Turki, Jerman dan Prancis.
Turki satu satunya negara Islam yang sedang dalam proses pembuatan vaksin covid19. Dan satu satunya negara yang berada di level terendah dalam angka kematian akibat covid19 di dunia.
Kemarin menteri luar negeri Italia menyanpaikan terima kasih kepada Turki dan mengatakan bahwa bantuan Turki tidak akan pernah dilupakan oleh Italia.
Sampai sampai seorang anak usia 7 tahun di Italia mengirim pesan khusus lewat sebuah video yang ditujukan kepada presiden erdogan sebagai ucapan terima kasih mereka dan rasa haru mereka.
Perkembangan covid19 sendiri di dunia masih naik dan rawan. Terutama setelah AS menjadi sentral corona saat ini.
Rusia sudah mengirim bantuan ke AS, dan presiden AS pun sudah berkonsultasi dengan presiden Turki soal penanganan covid19. Ini karena angka kamatian di AS sangat tinggi.
Turki berencana akan mengalokasikan dana lebih besar untuk bantuan dana solidaritas internasional kedepannya. Begitu statemen Erdogan.
Akan ada banyak perubahan di dunia ini pasca covid19 ini nantinya, diantaranya perubahan tatanan ekonomi dunia, politik, dan hubungan internasional.
Akan ada kejutan juga di benua eropa pasca covid19, akan ada negara negara yang akan meninggalkan UE dan mencari mitra kerja baru yang bisa lebih dipercaya.
Dan Turki salah satu negara yang akan semakin banyak berperan di pentas global pasca covid19 ini nantinya. Soal ini nanti kapan kapan kita bahas.
Sekian.
TZU

*Catatan : Judul hanya tambahan dari admin tanpa mengurangi konten dari penulisnya

Thursday, April 2, 2020

Dunia Bersatu Lewat Coronavirus dan Sastra

Oleh Gian Bakti Gumilar

Inilah saatnya

duduk bersama dan bicara.

Saling menghargai nyawa manusia.

- WS Rendra, Inilah Saatnya (2001)



Memang tidak ada yang menyangka tiga bulan pertama di tahun 2020 akan semencekam ini. Saat awal tahun negeri sudah dihantam banjir yang parah, belum lagi berita kematian tokoh-tokoh bangsa dan dunia selalu menjadi headline berita. Tapi semua kesedihan itu sepertinya akan cepat berlalu jika Covid-19 akibat coronavirus jenis baru yang ditemukan akhir tahun lalu di Wuhan tidak mewabah dan menjadi pandemi yang mengerikan di seluruh dunia. Sudah beribu orang terpapar dan meninggal akibatnya, termasuk di Indonesia. Covid-19 seakan mengajarkan makna viral yang sejati kepada manusia: bersifat menyebar luas dan cepat seperti virus.


Pencarian dan penelitian vaksin berpacu dengan waktu dimana dalam hitungan hari korban selalu bertambah. Demi mencegah meluasnya penularan, negara-negara yang terpapar mulai membatasi bahkan mengunci akses pulang-pergi ke luar negeri, warganya diharuskan mengkarantina dirinya secara mandiri. Adapun jika terpaksa ke luar rumah, harus ada jarak aman antar pribadi. Himbauan mencuci tangan dan sterilisasi terpampang di mana-mana. Kabar baiknya yang tertular lalu meninggal selalu jauh lebih sedikit dibandingkan yang tertular lalu sembuh, walaupun begitu bukan lantas menjadi meremehkan. Tetaplah waspada! Untuk menguatkan imun tubuh rajinlah olahraga dan tentu minum jamu, katanya.


Tiongkok sebagai negara yang paling menderita karena wabah ini mulai lega, bahkan dikabarkan tidak ditemukan lagi kasus positif baru di Wuhan. Adapun kasus-kasus baru belakangan ini seringnya adalah bawaan warganya yang pulang dari luar negeri lalu menjadi carrier coronavirus. Dunia justru sekarang prihatin terhadap Eropa, bukan apa-apa karena wabah ini menyebabkan perhelatan sepakbola yang sudah lama dinikmati seluruh dunia harus ditunda.


Khususnya di Italia, dunia harap-harap cemas melihat lonjakan angka penderita yang tiba-tiba. Kini Italia menempati urutan kedua setelah Tiongkok dalam jumlah kasus positif Covid-19 terbanyak, bahkan angka kematian tertinggi. Maka uluran tangan dunia internasional pun mulai berdatangan, salah satunya dari Tiongkok yang sudah mendingan. Bagaimana dalam kondisi terpelik, kita sebagai manusia bisa merasa terhubung sebagai warga dunia yang senasib sepenanggungan, sepertinya hal itulah yang bisa kita simpulkan dari kutipan di kotak bantuan Tiongkok ke Italia yang sudah viral di banyak media sosial. Seperti dilansir oleh newsweek.com pada kotak bantuan berisi 10.000 masker FFP3 yang disponsori utamanya oleh perusahaan elektronik Tiongkok, Xiaomi itu tertulis penggalan puisi yang dinisbatkan pada salah satu filsuf Stoa, Seneca.


“We are waves of the same sea,

leaves of the same tree,

flowers of the same garden.”


Kendati setelah saya telusuri lebih jauh, penggalan puisi itu ternyata berasal dari Messaggio Della Fratellanza dan sebagian sumber merujuk pada pendiri Baha’i yaitu Baha’ullah. Indah sekali jika semua bangsa telah menyadari maksud kutipan puisi itu. Nada yang sama juga terlihat saat perusahaan Tiongkok lainnya, Sany menyumbangkan 50.000 masker medis kepada negara Eropa lainnya, Jerman:


“Mountains and valleys

do not come together,

but people will.”


Sebenarnya kebiasaan mengutip puisi khas suatu bangsa yang sedang bersedih ini dimulai oleh Jepang, yaitu saat the Japan Youth Development Association mengirim donasi masker dan termometer digital ke Tiongkok. Mereka menuliskan bait indah dari zaman Dinasti T’ang yang kira-kira terjemahan kasarnya berbunyi:


“Mountain and river in different lands

Wind and moon under the same sky.”


Selain itu ada pula donasi lain dari Jepang ke Tiongkok itu bertuliskan, “We are created to share nature and love,” di kesempatan lain bahkan lebih menyentuh, “How shall it be said that you have no clothes? I will share my lower garments with you?” Secara efektif aksi diplomasi donasi ini juga menjadi pencair suasana Jepang – China yang sering tidak menentu. Hal ini seperti menunjukkan sisi positif akibat bencana wabah coronavirus, lalu sisanya sastralah yang mengambil bagian dan mampu menyentuh esensi terdalam kemanusiaan kita. Awal tindakan Jepang inilah yang mendorong Tiongkok sehingga mampu berbagi lebih banyak, padahal kita tahu beberapa bulan ke belakang pemimpin negara ini mulai merasa jumawa dengan kekuatan ekonomi negaranya dan sesumbar tidak ada yang mampu mengungguli Tiongkok.


Tiongkok mungkin belajar, negara bukan hanya sekumpulan humanoid, tapi juga manusia yang memiliki hati dan sisi unik lainnya. Ini berlanjut kepada bantuan Tiongkok lainnya seperti donasi ke Korea Selatan yang mengutip Gim Jeong-hui, seorang cendikiawan dan kaligrafer di akhir periode Joseon:


“Pine trees and cyprees trees

in the cold time of the year

do not forget each other”


Tak tertinggal hal serupa juga dilakukan Tiongkok lewat donasi ke Iran dengan mengutip penyair Persia abad pertengahan yang terkenal dengan nama Sa’di, atau yang bernama lengkap Abu Muhammad Mushlih ad-Din ibn Abdullah Shirazi yang secara sepintas lalu mengingatkan kita juga kepada sabda Baginda Nabi Muhammad Saw.:


“Bani Adam adalah seperti bagian tubuh,

diciptakan dari satu sumber,

kala ada bencana menimpa satu bagian tubuh,

bagian tubuh yang lain tidaklah mungkin dapat berdiam diri.”


Semoga pemandangan indah ini terus berlanjut, dan semoga tidak dibutuhkan lagi suatu bencana yang mengancam agar dunia dapat berhenti berperang. Sehingga perdamaian dunia dapat terwujud dan penjajahan di atas dunia dapat dihapuskan seperti cita-cita bangsa kita. Di tengah semua harapan itu salah satu kawan berseloroh menyela di tengah obrolan daring, kutipan puisi seperti apa yang akan tercantum pada kotak donasi ke Indonesia. Apakah akan dikutip puisi pamflet Rendra seperti di muka tulisan ini, atau penyair lain misal dari angkatan ’45? Maksud berkelakar saya menjawab, “Ini ada bantuan dari kami tolong jangan dijual lagi, apalagi dikorupsi!” begitu kira-kira pikir saya yang disambut gelak tawa emoticon orang-orang dalam grup obrolan.



Wednesday, April 1, 2020

Mengapa Kasus COVID-19 di Turki Semakin Meningkat? Cek Faktanya*

Saat ini kasus COVID-19 di Turki total korban 13.531, sementara yang meninggal totalnya 214 korban menurut data dari laman Anadolu Agency. Yuk simak opini dari Tengku Zulkifli Usman di bawah ini:

Tadi saya ditanya oleh beberapa teman dosen di Jakarta.

Kenapa angka coronavirus terus naik di Turki? Bahkan angkanya sudah mencapai diatas 10.000 dan angka kematian 216 orang?

Jawabannya karena pemerintah Turki terus melakukan tes covid19 kepada rakyatnya, saat ini rakyat Turki yang sudah tes covid19 mencapai 25% lebih dari total jumlah penduduk turki 81 juta jiwa (laporan kementerian kesehatan Turki).

Semakin banyak yang di tes maka akan berpeluang akan semakin naik angka yang terinfeksi. Semakin mudah juga mengatasinya karena ketahuan terinfeksi sejak dini.

Beda dengan banyak negara, yang sampai saat ini belum terbuka dan sigap dalam melakukan tes kepada rakyat secara massif.

Jerman, Spanyol, Amerika, India, Belanda, Inggris bahkan Indonesia. Angka tes covid19 yang dilakukan masih sangat minim.

Indonesia sendiri masih dibawah 5% rakyat yang sudah tes covid19. Jadi wajar belum banyak yang ketahuan. Resiko kematian juga akan sangat tinggi kalau tes aja belum tau tau nanti ketahuan positif dan telat penanganan.

Spanyol contohnya, angka kematian disana terus meningkat. Sampai hari ini ada 100.000 kasus covid19 di sana dan 9000 orang meninggal. Jangan tanya lagi Italia, Iran, Inggris dan AS.

Di AS sendiri sudah 4000 orang meninggal dunia (10% dari total angka positif corona di dunia)

Inilah mengapa walaupun angka terinfeksi covid19 di turki termasuk tinggi. Tapi angka kematian sangat rendah. 13 ribu kasus dan yang meninggal hanya 216.

NATO tadi pagi mengapresiasi bantuan Turki untuk Spanyol dan Italia yang sudah tiba tadi sore.

Kabarnya para ilmuwan Turki juga sedang bekerja ekstra keras dalam proses menemukan obat coronavirus maksimal 6 bulan.

Presiden Indonesia juga sudah menghubungi Presiden Erdogan untuk berdiskusi soal covid19, dan sangat terbuka peluang Turki akan membantu indonesia menghdapi covid19 dimasa yang akan datang.

Kalau nanti Turki benar benar ikut dalam membantu indonesia, kita wajib memberikan special welcome dan rasa terima kasih untuk Turki atas kebaikannya kepada rakyat Indonesia.

Sumber : FB


Hersubeno Arief : Mengkudeta Anies Baswedan?

Oleh Hersubeno Arief

Di media sosial, dalam beberapa hari terakhir berkembang spekulasi politik tingkat tinggi.

Pemerintah pusat. Presiden Jokowi dan para pembantunya, dituding sedang menyusun plot “kudeta” terhadap Gubernur DKI Anies Baswedan.

Posisi Jakarta sebagai episentrum penyebaran wabah Covid-19, menjadi momentum yang sangat tepat mempercepat kejatuhan Anies.

Indikatornya semua kebijakan Anies alih-alih didukung, tapi malah disabot, diaborsi. Buzzer pemerintah secara sistimatis menghajar Anies dari berbagai penjuru. Tak kenal ampun.

Perbincangan di berbagai WAG, beberapa akun anonim maupun real, menyebar info tersebut, tanpa jelas kebenarannya. Hanya menyebutnya dengan embel-embel A-1. Sekedar untuk meyakinkan bahwa info itu valid.

Satu hal yang pasti, intelektual NU yang mulai tak muda lagi, Ulil Abshar Abdalla secara guyon menyebut mereka seperti pasangan suami istri, tidak akur.

"Jadi mestinya penanganan di daerah ini mesti serius. Pemerintah pusat dan Pemda DKI harus "rukun, mawaddah wa-rahmah”," kata Ulil.

Kosa kata itu sering digunakan untuk menggambarkan rukunnya pasangan suami istri yang dianjurkan oleh agama.

Anies, dalam penilaian politisi Partai Demokrat itu sejak awal sudah serius menangani. Tapi oleh pemerintah pusat malah dituding “mencari panggung.”

Sejak merebaknya virus Corona, aroma persaingan antara Istana Merdeka dan Kantor Gubernuran DKI kian terasa.

Soal ini sebenarnya tidak terlalu mengagetkan. Sudah berlangsung sejak Anies terpilih menjadi Gubernur DKI (2017). Namun intensitasnya menjadi semakin tinggi, bersamaan dengan masuknya penyakit impor dari China itu.

Banyak yang menyebutnya seperti matahari kembar. Yang satu terbit di Jalan Merdeka Utara, dan satunya lagi mulai bersinar terang di Jalan Merdeka Selatan, Jakarta.

Para buzzer pemerintah secara terbuka menyerang Anies. Cari panggung dan bahkan mencuri panggung. Dia dianggap melampaui kewenangannya. Bertindak seolah seperti seorang presiden.

Berbagai langkah Anies mengatasi penyebaran virus dikritisi, dinegasi, bahkan sampai ada yang mau demonstrasi. Bersamaan dengan itu pemerintah pusat mengaborsi.

( Berkali-kali dibatalkan)

Masih ingat ketika Anies melakukan pembatasan jam operasional transportasi umum MRT dan Bus Trans Jakarta?

Langkah itu merupakan tindak lanjut instruksi Presiden. Minggu (15/3) dari Istana Bogor, Jokowi menyerahkan kebijakan penanganan Corona ke pemerintah daerah.

Selain meliburkan sekolah dan kampus, merumahkan pegawai negeri, Jokowi juga meminta pembatasan kegiatan yang melibatkan massa dalam jumlah besar.

MRT dan Trans-Jakarta merupakan alat transportasi yang selalu dipadati penumpang. Pada pagi hari dan jam pulang kerja, penumpang berjubel.

Mereka berhimpitan seperti ikan pindang. Jika ada yang positif, dijamin langsung menular.

Kecaman muncul dari berbagai penjuru. Sekelompok pendukung pemerintah pusat mengancam menggelar unjukrasa ke Kantor Gubernur DKI. Anies dituding menyebar ketakutan. Menakut-nakuti rakyat.

Jokowi segera memerintahkan Anies mengembalikan jam operasional seperti semula. Apa boleh buat, Anies harus membatalkan keputusannya.

Presiden pada hari Senin (30/3) meminta para kepala daerah mengambil langkah tegas membatasi pergerakan orang ke daerah. Langkah tegas itu diperlukan untuk mencegah penyebaran virus Covid-19 ke daerah.

Kebijakan yang tepat. Apalagi Jokowi punya data dan catatan lengkap, jumlah kendaraan umum yang keluar Jakarta.

Dalam sepekan terakhir 876 armada bus meninggalkan kawasan jabodetabek. Jumlah penumpang 14 ribu orang.

Ngeri sekali! Kawasan Jabodetabek, khususnya Jakarta adalah episentrum pandemi Covid-19. Bisa saja diantara belasan ribu orang itu ada yang sudah terpapar dan positif.

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mencatat sampai saat ini sudah 60 ribu warganya kembali. Beberapa diantaranya sudah dinyatakan positif Corona.

Apa artinya? Virus itu akan menyebar bersamaan dengan kedatangan warga ke daerah.

Mereka bisa menulari keluarga inti, saudara, dan tetangga terdekat. Mereka yang positif ini menulari lingkaran terdekat, dan seterusnya.

Maka terciptalah episentrum baru. Jumlahnya bisa jauh lebih besar dibandingkan Jakarta.

Provinsi seperti Jabar, Jateng, Jatim jumlah penduduknya sangat besar, rentan dan potensial tertular. Banyak warganya yang mencari nafkah di kawasan Jabodetabek.

Kalau sampai hal itu terjadi, malapetaka tercipta. Fasilitas kesehatan, daya dukung tenaga medis, jelas tak sebanding dengan Jakarta. Belum lagi akses kesehatan dan transportasi yang sulit terjangkau.

Jakarta saja kewalahan, konon pula daerah?

Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Corona Letjen Doni Monardo minta warga di tingkat kelurahan dan desa meminjamkan rumahnya. Digunakan untuk isolasi pendatang dari luar daerah maupun luar negeri.

Apa artinya? Pemerintah sudah mengakui mereka tak sanggup menyediakan fasilitas tanpa bantuan masyarakat.

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan langsung bergerak cepat. Dia melakukan rapat koordinasi dengan instansi terkait, termasuk Dirjen Perhubungan Darat.

Keputusannya terhitung Senin (30/3) pukul 18.00 WIB operasional Bus Antar Kota Antar Provinsi (AKAP) distop!

Hanya beberapa jam akan diberlakukan, keputusan itu diaborsi. Tiba-tiba datang keputusan dari Menhub Ad interim Luhut Panjaitan. Keputusan Anies dibatalkan dengan alasan masih harus dikaji lagi dampaknya.

Coba bayangkan. Instruksi Presiden, ditindaklanjuti dan dilaksanakan Gubernur, tapi dibatalkan oleh Luhut.

Kasus terbaru, permohonan lockdown wilayah di Jakarta ditolak. Presiden malah memilih Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Bersamaan itu pemerintah akan menggunakan pendisplinan hukum. Polisi akan membubarkan kerumunan massa.

Sikap pemerintah pusat terhadap Anies, sangat berbeda dengan beberapa kepala daerah lain. Mereka relatif bebas mengambil kebijakan lockdown, tanpa khawatir disemprit, apalagi dibatalkan pemerintah pusat.

Dengan fakta-fakta tersebut, Anies terkesan menjadi target. Dibelenggu. Kewenangannya dibatasi. Sebagai penguasa daerah, dia tidak bisa leluasa bertindak, sementara situasinya sudah darurat tinggi.

Nyawa mulai berjatuhan. Anies menyebutkan, sampai saat ini setidaknya sudah 283 orang warga DKI yang meninggal dunia. Mereka dimakamkan dengan protokol Covid-19. Anies tidak secara langsung menyebut mereka wafat karena Covid-19.

Angka yang disebutnya jauh lebih tinggi dibandingkan data resmi pemerintah. “Baru” 122 orang.

Anies tampak tercekat ketika menyampaikan data itu. Suaranya bergetar.

" 283 itu bukan angka statistik. Itu adalah warga kita yang bulan lalu sehat... Yang bulan lalu bisa berkegiatan,“ ujarnya.

Situasi di Jakarta terkait dengan Covid-19, kata Anies, sudah amat mengkhawatirkan.

Sampai kapan Anies akan bertahan?

Menghadapi tekanan harus menyelamatkan nyawa warganya. Mencegah jatuhnya korban yang lebih besar sampai ke daerah-daerah. Namun kebijakannya tak didukung. Disalahkan. Diaborsi. Dibatalkan.

Meminjam analogi yang pernah digunakan oleh ulama besar Buya Hamka, posisi Anies seperti kue bika. Dibakar dari atas dan bawah.

Apa itu bukan “kudeta” secara halus? end


Sumber : FB


Tuesday, March 31, 2020

Kejanggalan Pemerintah Dalam Menentukan Sikap Untuk Memilih Darurat Sipil

Oleh Wahid Ikhwan Nurdin, S. Pd

Baru-baru ini Pemerintah Pusat menetapkan untuk memberlakukan Darurat Sipil dalam penanganan bencana penyebaran virus covid – 19, dan langkah ini menuai banyak kontra dari beberapa pihak lain termasuk masyarakat. Pasalnya untuk saat ini kalau kita lihat Indonesia belum memerlukan pemberlakuan Darurat Sipil, justru yang kita perlukan adalah Karantina Wilayah, mengapa ? Agar lebih jelas penulis membandingkan antara Darurat Sipil dengan Karantina Wilayah.



Jika kita berpatok kepada peraturan perundang-undangan yang dimana Darurat Sipil dan Karantina Wilayah ada di dalamnya.


Darurat sipil: Perppu Nomor 23 Tahun 1959 tentang Keadaan Bahaya, diteken Presiden Sukarno.


Karantina wilayah: UU Nomor 6 Tahun 2018 tentang Kekarantinaan Kesehatan, diteken Presiden Jokowi.


1.    Definisi

a. Darurat sipil: keadaan bahaya selain keadaan darurat militer dan keadaan perang, terjadi manakala alat-alat perlengkapan negara dikhawatirkan tidak dapat mengatasi kondisi keamanan atau ketertiban hukum di seluruh wilayah atau di sebagian wilayah negara. Kondisi itu terjadi apabila negara terancam pemberontakan, kerusuhan, bencana alam, perang, perkosaan wilayah, atau negara dalam bahaya.

 b. Karantina wilayah: pembatasan penduduk dalam suatu wilayah termasuk wilayah Pintu Masuk beserta isinya yang diduga terinfeksi penyakit dan/atau terkontaminasi sedemikian rupa untuk mencegah kemungkinan penyebaran penyakit atau kontaminasi.


2. Penyebab
a. Darurat sipil: alat-alat perlengkapan negara dikhawatirkan tidak mampu mengatasi keadaan, terancam pemberontakan, kerusuhan, bencana alam, perang, perkosaan wilayah, dan bahaya

b. Karantina wilayah: kedaruratan kesehatan masyarakat yang meresahkan dunia, terjadi penyebaran penyakit antaranggota masyarakat di suatu wilayah


3. Kebutuhan Warga

a. Darurat sipil: kebutuhan warga tidak ditanggung pemerintah

b. Karantina wilayah: kebutuhan hidup dasar orang dan makanan ternak menjadi tanggung jawab Pemerintah Pusat, melibatkan pemerintah daerah, dan pihak terkait



4. Kondisi

a. Darurat sipil:
- Penguasa berhak mengadakan peraturan untuk membatasi pertunjukan, penerbitan, hingga gambar.
- Penguasa berhak menyuruh aparat menggeledah paksadengan menunjukkan surat perintah
- Penguasa berhak memeriksa, menyita, dan melarang barang yang diduga mengganggu keamanan
- Penguasa berhak mengambil atau memakai barang-barang dinas umum.
- Penguasa berhak memeriksa badan dan pakaian orang yang dicurigai
- Penguasa berhak membatasi orang berada di luar rumah.
- Penguasa berhak menyadap telepon atau radio, melarang atau memutuskan pengiriman berita-berita atau percakapan-percakapan
- Penguasa berhak melarang pemakaian kode, gambar, hingga pemakaian bahasa-bahasa selain bahasa Indonesia;
- Penguasa berhak menetapkan peraturan yang melarang pemakaian alat telekomunikasi yang dapat dipakai untuk mencapai rakyat banyak, menyita, atau menghancurkan perlengkapan tersebut


b. Karantina wilayah:
- wilayah yang dikarantina diberi garis karantina dan dijaga terus menerus oleh pejabat karantina kesehatan dan Polri yang berada di luar wilayah karantina
- masyarakat tidak boleh keluar masuk wilayah
- orang yang menderita penyakit kesehatan kedaruratan masyarakat akan diisolasi
- warga yang dalam karantina wilayah dicukupi kebutuhan dasar dan pakan ternaknya



Dari empat point penjelasan yang penulis ambil dari situs BPK dan situs Kementrian Keuangan, kita bisa melihat sangat jelas mana yang harusnya diberlakukan di Indonesia terkait bencana penyebaran virus covid 19, nampaknya penerapan darurat sipil terlalu berlebihan dalam situasi saat ini dan lebih terkesan pemerintah tidak mau terlalu banyak bertanggungn jawab terkait dengan permasalahan dimasyarakat. Harapan kami tentunya pemerintah bisa lebih bijak lagi dalam menentukan sikap, jangan sampai dlam situasi seperti ini malah membuat gaduh masyarakat umum.


Wahid Ikhwan Nurdin, S. Pd.

Ketua Bidang Kebijakan Publik KAMMI Wilayah Jawa Barat