Tuesday, October 15, 2019

Klimaks Tebing Merah


"Susun kapal, besar atau kecil, dalam barisan 30-50 kapal. Ikat jadi satu haluan dan buritan. Letakkan papan-papan pelintas antar dek di sebelahnya!"

Saran Pang Tong di atas akhirnya menuntaskan gamang jenderal Wei, Cao Cao. Wei dari Utara, tidak terbiasa bertempur dan melalui perairan Sungai Yangtze. Tak hanya daya fisik prajurit melemah akibat mabuk laut. Pang Tong bukan orang sembarangan, ia ahli strategi militer saingan Zhuge Liang yang berada di kubu lawan: kerajaan Shu.

Shu dan Wu berkolaborasi menghadang Wei yang armadanya 10 kali lipat lebih megah. Selain Zhuge Liang, ada nama andal di seteru Wei; Jenderal Zhou Yu. Zhou Yu inilah yang paham kekuatan armada air Wei tak mungkin dihancurkan bila posisinya normal (Ilustrasi 1). Tapi strategi Pang Tong di pihak lawan malah memberinya ilham.
Kekuatan kapal, personal dan persenjataan Wei di bawah Cao Cao tinggal menggilas Shu-Wu. Saran ahli militer Pang Tong mengatasi keterbatasan yang ada di barisan prajurit plus cobaan alam kala ada gelombang, angin dan arus di Sungai Yangtze. Cao Cao tak mau meremehkan soal ini. Dan kini ia bisa lega masalah teratasi.
"Bahkan kura-kura pun akan dapat berjalan di atas kapal dengan aman!" Seru Pang Tong soal strategi mengikat kapal.
Cao Cao tersenyum. Tapi senyuman atas kuatnya pertahanan ini malah membuka tabir kelemahan mendasar.
Ribuan kapal Wei yang bersiap dalam jarak teratur jelas tak bisa dihancurkan dengan strategi tabrakan. Armada mereka tak seimbang. Kalah banyak. Buntu atas gagasan untuk menghancurkan benteng pertahanan lawan, Zhou Yu membuat siasat "ku rou ji": melukai diri sendiri untuk mendapatkan kepercayaan musuh.
Seorang perwira terbaik Wu, Huang Gai, dihukum Zhou Yu akibat mengkritik pendapatnya. Sang perwira dicambuk 100 kali! Dicegah para perwira senior, Zhou Yu bergeming dan terus mendera. Barulah ketika para perwira itu ngotot, dera dihentikan sampai 50 kali.
Perlakuan sang atasan jelas melukai Huang Gai. Diam-diam ia menuliskan keluhan perlakuan sang atasan. Dan tulisan di kertas itu dibawa ajudannya yang menyelinap menyeberangi Yangtze bertemu Cao Cao. Ajudan Huang Gai melaporkan bahwa atasannya kecewa berat pada Zhou Yu. Huang Gai ingin berpaling posisi akibat sakit hati kritiknya dibalas campuk di hadapan banyak anak buahnya.
Percaya begitu sajakah Cao Cao? Jelas tidak. Tapi di situlah hebatnya Zhou Yu memainkan siasat. Sejatinya ia tega melukai dan mempermalukan perwira terbaiknya karena satu asa: mencari tahu titik benteng kapal Cao Cao. Zhou Yu rela dianggap lemah dan keterlaluan asalkan misi sebenarnya tercapai. Dan memang Huang Gai itu cerdas. Sementara koleganya tak suka dengan tindakan Zhou Yu, diam-diam ia malah membaca arah kemauan sang atasan. Dan ia pun rela dipermalukan bahkan disakiti.
Drama Huang Gai sebenarnya tak berarti apa-apa kalau formasi pertahanan Wei seperti sedia kala. Kapal-kapal berada dalam radius tertentu. Tidak diikat seperti saran Pang Tong. Di sini Cao Cao lebih fokus pada masalahnya demi menuntaskan segera ambisinya menyatukan tiga kerajaan di bawah daulat Wei. Ia tak sadar kekuatan formasi gerendel kapal ala Pang Tong justru menginspirasi Zhou Yu.
Berbeda dengan Huang Gai yang berpura-pura, Pang Tong sedianya memang memberikan saran solutif. Bahwa ada marabahaya di sebalik idenya, itu murni kepintaran lawan. Kekuatan ide Pang Tong, mengikat kapal jadi satu, merupakan momen emas bagi Shu dan Wu. Taktik "lian huan ji", mengikat kapal jadi satu yang awalnya kekuatan terbaik lawan malah berbalik jadi kelemahan. Dan ini dibaca Zhou Yu. Bertepatan pula dengan penyamaran Huang Gai.
Huang Gai yang dijadwalkan bakal desersi ke kubu Cao Cao tanpa diduga membawa skuadron kapal berapi yang siap merusak formasi gerendel terkunci Wei. Dan hasilnya bukan saja mereka dikejutkan oleh kedatangan Huang Gai yang malah menyerang, namun juga skala serangan Shu-Wu ternyata sudah membaca apa kelemahan formasi lian huan ji ala Pangi Tong. Hasilnya: di Tebing Merah pasukan Wei yang berkekuatan berkali-kali lipat malah harus kehilangan banyak korban dan kerugian. Mereka ditundukkan secara telak oleh kegemilangan memutar otak para perancang taktik kolaborasi Shu-Wu. Kekuatan yang begitu solid malah titik terbaik menghancurkan.
Kisah Tiga Kerajaan, dan ulasan pelajaran di baliknya oleh Gao Yun di atas menyeruak di pikiran saya manakala banyak kenalan dan kawan kecewa berat pada langkah dan silap politik Prabowo Subianto. Prabowo, alih-alih menepati ucapannya untuk bersama pendukungnya, belakangan rajin bertandang ke barusan rivalnya.
Manuver Prabowo akhir-akhir ini pun melahirkan kekecewaan berat para pendukungnya dalam Pilpres 2019. Seakan ia tak berharga dan menghargai jerih payah pendukung loyalnya. Ekspresi protes dan kecaman pun bertubi-tubi diarahkan pada Prabowo. Prabowo seperti tak ingat apa-apa atas janji dan komitmennya semasa kampanye pilpres. Lebih jauh lagi, ia dianggap tak menghormati demokrasi lantaran lebih kedepankan distribusi kekuasaan bagi partainya ketimbang terus menyuarakan sikap kritis selaku oposisi.
Atas kecewa itu wajar adanya. Lantas apalah kisah klimaks pertempuran di Sungai Yangtze tadi bakal terjadi dalam skala tertentu di kehidupan politik tanah air, dengan aktor utama salah satunya adalah Prabowo? Apakah Prabowo rela menurunkan level kehebatan dirinya, kekesatriaan pribadinya, semata ingin lakoni Zhou Yu ataupun Huang Gai? Seberapa kokoh pula Prabowo melakoni itu semua, alih-alih hanya tengah mengincar kesempatan meraih kekuasaan? Apakah ia sengaja lawan politiknya yang berkuasa menguatkan formasi kapal di perairan tapi di balik itu akan dihancurkan dengan kapal berapi tanpa ampun? Artinya, benarkah Prabowo "membentuk" lawan-lawannya kuat dalam barisan terikat, namun kemudian ia bakal menyerang dari arah tak terduga?
Akankah siasat ku rou ji dan lian huan ji bakal terjadi berupa pertarungan politik baru di dalam "benteng" pemerintahan kuat? Bila ya, berarti Prabowo sukses lakukan jia chi bu dian: pura-pura bodoh padahal cerdik. Rela ditinggalkan dan dicaci eks pendukung militannya hanya karena menanti saat tepat "membakar" negara api membuat formasi kapal (baca: koalisi) terikat.
Mungkinkah keadaan yang disebut terakhir tadi sesungguhnya yang tengah dipikirkan dan dimainkan Prabowo? []
Samben Library, ditulis saat Rocky Gerung ajak pendukung Prabowo membentuk barisan oposisi, sementara Prabowo didesuskan kalangan media bakal jadi menteri pertahanan.
Ilustrasi: (1) cgw(dot)com; (2) Pinterest

sumber : FB

Monday, October 14, 2019

Pengurus Osis Perdana Lahir di SMA Juara Wirautama

SMA Juara Wirautama merupakan sekolah menengah atas yang baru dibuka di tahun 2019 ini dan kini telah memiliki satu rombel yaitu kelas X IPA, sudah aktif KBM nya dan aktif mengikuti event / kegiatan di luar sekolah.

Sekolah yang berada di wilayah patrol ini beberapa waktu lalu telah menyelenggarakan Pemilu Calon Ketua dan Wakil Ketua Osis dan hasilnya pasangan calon no. 1 meraih suara terbanyak. Pasangan tersebut bernama Hari Mulyadi sebagai ketua dan Intania Iswandari sebagai wakil ketua.

Menurut bapak Zainal Arifin, S. Pd. selaku kepala sekolah : "LDKS ini diselenggarakan sebagai upaya tindak lanjut dari hasil pemilu osis beberapa waktu lalu dan hari ini pada tanggal 13 s.d. 14 oktober 2019 besok akan lahir pengurus osis perdana sma juara wirautama, diharpkan bisa menjadi pelopor dan teladan yang baik bagi teman teman sekelasnya dan peserta didik angkatan yang akan datang". Pungkas beliau saat memberikan amanat pada pembukaan dan pelepasan LDKS di depan para peserta.

Muatan kegiatan LDKS yang diselenggarakan 2 hari di Indramayu ini meliputi : Penyiapan dan pembinaan karakter cerdas berfikir kritis, kreatif dan inovatif dengan diikutkan dalam seminar Nasional dengan Tema "Muda Mendunia"  menghadirkan 2 tokoh muda milenial sherly Annavita dan dr. Gamal Albinsaid. Keduanya telah banyak memberikan manfaat untuk masyarakat nasional dan internasional.

"Harapan calon pengurus osis mengikuti seminar muda mendunia semoga mereka bisa terinspirasi dengan semangat kedua tokoh muda tersebut dan siap menjadi pemimpin masa depan". Tutur ibu Siti Fatimah, S. Ps. I. Selaku Waka Kesiswaan dengan antusias mendampingi peserta ldks mengikuti seminar tersebut.

Selain mengikuti seminar Muda Mendunia di Aula  Islamic Center Indramayu, para peserta ldks juga mendapat materi leadership yang dibimbing langsung oleh bapak H. Rizki Amali Rosyadi, M.I.Kom. Dan istri beliau Hj. Siti Syakila.

Keduanya berpesan kepada seluruh Peserta, agar tetap semangat dalam belajar dan berkarya menorehkan sejarah yang kebermanfaatannya dikenang sepanjang masa dan jangan pernah putus asa dalam berjuang mersih mimpi dan cita cita. Jadilah keberadaanya seperti emas yg bernilai tinggi dan indah memukau padahal sebelumnya terpendam di dalam tanah dan harus melalui proses yang rumit dan panjang supaya menjadi logam mulia.

Selain kegiatan bermuatan wawasan fikriah (akal) ada juga kegiatan bermuatan memantapkan wawasan qolbiyah (hati). Sebagai penguat keimanan, peserta LDKS harus menjalankan ibadah shalat 5 waktu dan saat itu sholat shubuh berjamaah di masjid besar kebanggaan warga Indramayu yaitu masjid islamic center. Setelah shalat shubuh dan zikir disambung tilawah Al Qur'an surat Ar-Rahman bersama sama dipimpin Bpk. Hasan Ami Nun Seha, S.E. selaku waka kurikulum dan Ibu Lia Syawalia, S.Pd. selaku wali kelas. X IPA.

Ternyata muatan kegiatan LDKS OSIS SMA ini bukan hanya cukup pada sisi fikriyah dan qolbiyah saja tetapi dilengkapi juga dengan kegiatan bermuatan jasmaniyah (kesehatan fisik). Mereka dengan  sangat antusias mengikuti kegiatan outbond leadership dan timwork building di pantai kebanggaan kota indramayu Karangsong. melalui bimbingan choach Rijaliddin, S. Sos. Beberapa game edukasi dimainkan dengan sangat seru dan penuh semangat. "Saya sangat bersyukur dan sangat senang sekali bisa mengikuti LDKS sekolah ini yang isi kegiatannya lain dari sekolah biasanya. Sangat menambah pengalaman dan memotivasi banget bagi saya. Semoga saya bisa belajar menerapkan hikmah dari game-game edukatif yg sudah kita mainkan tadi dalam pelaksanaan tugas sebagai pengurus osis di sekolah ini". Testimoni Chintiya Maharani, salah satu peserta LDKS SMA Juara Wirautama Patrol.

KEDUDUKAN HUKUM ISLAM DI INDNONESIA

Oleh Hanesta Maulana
Al- Qur’an adalah pedoman umat muslim di dunia, di dalam suatu negara khususnya Indonesia yang merupakan negara hukum sangat dianjurkan berpegang teguh dengan Al- Qur’an dalam menjalankan hukum di Indonesia. Menurut A.R. Taj yang dikutip oleh Ahmad Sukardja bahwa setiap umat atau bangsa boleh mempunyai aturan- aturan dan khusus sesuai dengan adat. Al – Qur’an telah menerapkan nilai dasar pemerintahan misalnya dalam QS Al- Nisa 58- 59.

Ayat tersebut mengandung tiga prinsip dasar dalam bernegara, yaitu tentang prinsip amanah, tentang prinsip penerapan hukum secara adil dan tentang prinsip ketaatan. Menurut Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha dalam Tafsir Al-Manar amanat dari ayat tersebut adalah sesuatu yang di amanahkan kepada seseorang untuk dijalankan dengan sebaik- baiknya.
Salah satu dari sifat amanat yang dimiliki oleh manusia adalah sifat adil yang mana tidak memandang perbedaan di dalam penegakan hukum. Ada 3 kategori hukum dalam pergaulan masyarakat, yaitu syari’at : keetentuan Allah yang berkaitan dengan perbuatan subjek hukum dan bersifat tetap tidak ada perubahan dan perbedaan pendapat, fiqh : pemahaman tentang hukum-hukum syara’ yang bersifat perbuatan yang dipahami dari dalil-dalilnya yang rinci dan dari hasil ijtihad para ulama dari Qur’an dan Hadis yang mana ada perbedaan pendapat, syiyasah syari’ah : kewenangan pemerintah untuk melakukan kebijakan yang dikehendaki oleh kemaslahatan, melalui aturan yang tidak bertentangan dangan agama, meskipun tidak adil tapi ada dalil tertentu.[1]
Mohammad Hatta dalam proklamasinya mengatakan hukum di Republik Indonesia itu berdasarkan Al- Qur’an dan Hadis yang dapat digunakan dalam peraturan perundang- undangan oleh umat Islam dalam sistem syari’at yang sesuai dengan kondisi Indonesia.
Contohnya : UU Perkawinan tahun 1974 yang direvisi usia menikah dibatasi perempuan 16 tahun dan laki- laki 19 tahun, salah satu pandangan dari Quraish ShihabBanyak ulama mengatakan karena Nabi Muhammad SAW kawin dengan Aisyah yang berumur sekitar 9- 12tahun. Tetapi dalam fatwa ulama-ulama yang memahami hal ini, maka dikatakan bahwa orang yang menjadikan hal ini sebagai dalih adalah orang yang bodoh dan sombong. Bodoh karena tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada masa itu dan sombong karena menyamakan dirinya dengan Nabi Muhammad SAW. Jadi jangan jadikan itu sebagai dalih,”
MUI menegaskan bahwasanya Islam tidak membatasi usia untuk masalah perkawinan. Dalam agama Islam hanya mengatur baligh seseorang dengan beberapa tanda. Untuk anak perempuan sudah berusia 9 tahun atau pernah mengalami haid dan untuk laki-laki yang sudah berusia 9 tahun dan pernah mengalami mimpi basah dan apabila keduanya beranjak 15 tahun tanpa syarat haid dan mimpi basah.

Akhirnya penetapan batas usia perkawinan disetujui para ulama di DPR dan luar DPR dengan catatan membuka ruang dispensasi dengan alasan tertentu dikarenakan pada saat itu banyak pernikahan dibawah umur 16 tahun. Dengan penetapan batas usia tersebut bagi perempuan yang terumuskan dalam Pasa 7 ayat ( 1 ) UU Perkawinan agar tidak terjadi kesenjangan terlalu jauh dengan usia kedewasaan ( baligh ) [2]



[1] Abduh, Muhammad dan Rasyid Ridah, Tafsir Al- Manar, Jilid V Mesir: Maktabah Al- Qhiroh


Membedah Hak-Hak DPRD

Oleh Anwar Yasin

Berangkat dari Teori John Locke yang menyatakan bahwa kekuasaan tidak boleh terjadi absolutisme pemerintahan yang terpusat, pembagian kekuasaan menjadi model baru pemerintahan yang menganut sistem demokrasi. Pemikiran Montesquieu dengan teorinya yang fenonemal, Trias Politika menjadi referensi bagi beberapa negara, salah satunya Indonesia. Namun sesungguhnya Indonesia tidak benar-benar menerapkan Trias Politika secara murni, melainkan adanya perubahan yang disesuaikan dengan nilai dan norma yang dianut oleh bangsa Indonesia. Eksekutif, legislatif dan yudikatif dianggap sebagai kesatuan representasi pemerintahan yang saling mengisi. Maka, fungsi checks and balances antar lembaga negara menjadi krusial demi tercipta pemerintahan yang baik.

DPR sebagai lembaga legislatif memiliki tiga fungsi utama, yaitu fungsi legislasi (pembuat undang-undang), fungsi anggaran (bekerjasama dengan eksekutif dalam menyusun APBN/APBD) dan fungsi pengawasan. Selain itu, DPR juga memiliki hak-hak yang telah diatur dalam Pasal 79 UU No. 17 Tahun 2014. Hak-hak DPR meliputi hak interpelasi, hak angket dan hak menyatakan pendapat.

Hak interpelasi ialah hak DPR untuk meminta keterangan kepada Pemerintah mengenai kebijakan pemerintah yang penting dan strategis serta berdampak luas pada kehdupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Hak angket ialah hak DPR untuk melakukan penyelidikan terhadap pelaksanaan suatu undang-undang dan/atau kebijakan pemerintah yang berkaitan dengan hal penting, strategis, dan berdampak luas pada kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara yang diduga bertentangan dengan peraturan perundang-undangan.

Makna hak menyatakan pendapat ialah hak DPR untuk menyatakan pendapat atas kebijakan pemerintah atau mengenai kejadian luar biasa yang terjadi di tanah air atau di dunia internasional, tindak lanjut pelaksanaan hak interpelasi dan hak angket serta dugaan bahwa presiden dan/atau wakil presiden melakukan pelanggaran hukum baik berupa pengkhianatan terhadap negara, korupsi, penyuapan, tindak pidana berat lainnya, maupun perbuatan tercela, dan/atau presiden dan/atau wakil presiden tidak lagi memenuhi syarat sebagai presiden dan/atau wakil presiden.

Begitupun dengan DPRD Provinsi, berdasarkan Pasal 322 UU No. 17 Tahun 2014 juga mencantumkan hak-hak DPRD Provinsi yaitu hak interpelasi, hak angket dan hak menyatakan pendapat.

Meskipun dalam struktur pemerintahan, DPRD dan Gubernur merupakan satu kesatuan sebagai pemerintah provinsi, namun hak tersebut tidak lantas menghilang. Hak tersebut tetap melekat kepada DPRD dan dapat digunakan sewaktu-waktu jika diperlukan.

Hak tersebut merupakan salah satu upaya dari proses checks and balances terhadap eksekutif, dimana kewenangan terbesar berada di tangan kekuasan eksekutif. Apabila lembaga legislatif menggunakan haknya sebagai bagian dan keseimbangan kekuasaan negara, maka lembaga eksekutif tidak boleh menolak atau menghindar dari proses tersebut. Pemerintah eksekutif wajib untuk hadir dan memberikan keterangan yang diperlukan oleh DPR/ DPRD demi tercipta pemerintahan yang adil dan bermartabat.

Thursday, October 10, 2019

Bagaimana Jati Diri UGM yang Dulu? Begini Catatan oleh salah satu alumninya

Di jagad media online pembatalan kuliah umum Ustadz Abdul Shomad oleh Rektorat UGM (Universitas Gadjah Mada) ramai diperbincangkan oleh publik. 

"Hal tersebut (pembatalan kuliah umum Abdul Somad) dilakukan untuk menjaga keselarasan kegiatan akademik dan kegiatan nonakademik dengan jati diri UGM," kata Iva seperti dilansir dari laman detik

Bagaimana dengan Jati Diri UGM yang Dulu? begini ulasan dari salah satu alumninya;

UGM dulu zaman saya kuliah pernah mengundang tokoh tokoh Islam seperti Irfan Awaz, Ja'far Umar Tholib, Ismail Yusanto, Hartono Ahmad Jaiz untuk berdebat dengan Ulil Absar Abdala, Abdul Munir Mulkhan dll. 

Kami dulu diajarkan Kita tidak bisa melarang pemikiran orang sehingga semua pemikiran ditampilkan dan diperdebatkan. Di UGM juga tumbuh komunitas Islam beragam dari di luar NU Dan Muhamadiyah seperti Ikhwanul Muslimin, Salafy, HTI,NII bahkan Syiah dan Ahmadiah. Di sisi yang lain pemikir pemikir liberal banyak di UGM, apalagi para pemikir Marxis yang juga ada di kalangan dosen dan mahasiswa. 

Dari UGM lahirlah banyak tokoh pemikir idiologi yang beragam baik Kiri kanan fundamentalis maupun liberalis. Hari ini Ustadz Abdul Somad yang "radikal"nya tak seberapa bila dibandingkan tokoh Islam yang disebut diatas dilarang isi diskusi di UGM Sedangkan anak SMA yg tidak lulus SBMPTN psychology UGM bisa diundang dan dipuji puji sebagai pencerah dan pendukung keberagaman Karena tulisan "ilmiahnya" di medsos. Itulah realitas di kampus saya yang dulu saya pernah kuliah dan keluar masuk forum diskusi ilmiahnya. Itulah jati diri UGM dulu, zaman saya kuliah. Mungkin sekarang jati dirinya adalah yang tidak sejalan dengan Pemerintah maka dilarang.

Ulasan kawan Budi Kurniawan yang brilian 👍👍

Sumber : FB 

Wednesday, October 9, 2019

Pelajar SMP-SMA JUARA WIRAUTAMA Bersihkan Bunderan Gagak Winangsih.

Dalam rangka memperingati hari jadi Indramayu yang ke 492 pelajar dari SMP-SMA juara Wirautama bersihkan bunderan Gagak Winangsih yang berada di perbatasan Kec. patrol dan Kec. Sukra.

Kegiatan dilaksanakan pada hari, Rabu (9/10) dimulai pukul 14.00 - 16.00 Wib.

Enda Gunawan, selaku pembina OSIS menyampaikan,
Kegitan ini bertujuan dalam rangka memperingati hari jadi Indramayu, kenapa tugu gagak winangsih harus dibersihkan, karena Gagak Winangsih merupakan simbol atau lambang Pemerintahan Dermayu atau Indramayu pada zaman dulu. Lambang tersebut digunakan sebagai lambang dari suatau daerah yakni Dermayu saat itu masih menjadi Kademangan atau Padukuhan Cimanuk kurang lebih pada tahun 1750-an.

Semoga kegiatan ini bisa menjaga kebersihan dimana pun dan kapanpun.

Hadir juga dari pihak kepolisian sektor patrol yang turut membantu kegiatan bersih-bersih tugu gagak winangsih ini.

Pak Kapolsek Bapak Mashudi menyampaikan semoga Siswa-siswi selain mengenal sejarah Indramayu dapat pula menjaga icon sejarah dari Indramayu.

Tuesday, October 8, 2019

Rata2 Jokower Setuju Saran Fahri Hamzah pada Gibran Fokus Jualan Martabak

Gibran Rakabuming Raka merupakan putera sulung Presiden Jokowi berencana nyalon walikota Solo dalam pilkada serentak pada tahun 2020 nanti. Ia maju dari PDIP, ia menegaskan akan terjun ke dunia politik dan siap meninggalkan dunia bisnis kulinernya untuk fokus dalam pilkada nanti.

Fahri Hamzah yang kini sudah pensiun dari DPR RI memberikan saran pada Gibran yang rata-rata Jokower setuju dengannya;








Monday, October 7, 2019

Fans Jokowi Meradang Dengan Tempo , #BoikotMajalahTempo Jadi Trending Topic

Sore ini jagad media sosial diramaikan oleh #BoikotMajalahTempo. Saat ini trending topic peringkat kedua. Trending topic #BoikotMajalahTempo  disebabkan cover majalah Tempo yang mengundang kemarahan warganet.
Cover Majalah Tempo Berjudul :"PERPU, TIDAK, PERPU, TIDAK..... Jokowi Tak Kunjung Mengambil Keputusan Perihal Pembatalan Revisi Undang-Undang KPK, Tersebab Informasi Palsu Komisi Menyadap Istana?"

Berikut kecaman warganet meramaikan tagar #BoikotMajalahTempo







Saturday, October 5, 2019

Selamat Datang di Negeri Para Buzzer

Oxford Internet Institute baru saja mempublikasikan sebuah penelitian yang sangat menarik. Karya dua orang peneliti Samantha Bradshaw dan Philip N Howard dari Universitas Oxford, Inggris
Judulnya : The Global Disinformation Order: 2019 Global Information of Organized Social Media Manipulation.
Publikasi setebal 26 halaman itu berisi hasil penelitian manipulasi media sosial secara terorganisir di seluruh dunia.
Sebagian besar digunakan untuk kepentingan domestik, menekan dan mendiskreditkan kelompok oposisi. Namun sejumlah negara termasuk Cina, Rusia, Iran, India, Pakistan, Arab Saudi, dan Venezuela menggunakannya untuk mempengaruhi opini di negara lain.
Pada tahun 2019 ada 70 negara, termasuk Indonesia yang melakukannya.
Jumlah tersebut meningkat tinggi dibandingkan tahun 2018 terjadi di 48 negara. Pada tahun 2017 hanya terjadi di 28 negara.
Aktornya terdiri dari lembaga-lembaga resmi pemerintah, partai politik, elit partai, dan kontraktor swasta.
Twitter dan facebook merupakan platform yang paling banyak digunakan untuk propaganda dan manipulasi komputasi, begitu dua orang peneliti Oxford ini menyebutnya.
Dibeberapa negara seperti Brazil, India dan Nigeria platform WhatsApp mulai banyak digunakan. Diperkirakan beberapa tahun ke depan WA akan menjadi platform medsos yang penting. WA banyak digunakan untuk kepentingan komunikasi politik.
China semula hanya memanfaatkan platform domestik seperti Weibo, WeChat, dan QQ. Bersamaan dengan munculnya gerakan protes di Hongkong (2019), secara agresif mulai menggunakan Facebook, Twitter, dan YouTube.
Pemerintah China menggunakan platform global itu untuk menggambarkan pelaku protes Hongkong sebagai kelompok radikal dan tidak mendapat dukungan rakyat (Lee Myers dan Mozur 2019).
Pelaku propaganda dan manipulasi komputasi ini adalah pasukan dunia maya (cyber troop) yang kita kenal sebagai buzzer. Mereka adalah orang atau organisasi/ kelompok bayaran.
Jumlah bayaran alias anggaran untuk cyber troops bervariasi. Namun secara bisnis sangat menjanjikan. Biayanya bisa mencapai jutaan dolar seperti pada kasus perusahaan Cambridge Analytica yang membobol puluhan juta akun facebook saat Pilpres AS 2016.
(Bradshaw dan Howard 2017a) mendifinisikan cyber troops sebagai aktor pemerintah atau partai politik yang bertugas memanipulasi opini publik secara online.
Mereka ada yang menggunakan akun nyata (human) robot (bots), akun bajakan, dan cyborg. Perpaduan akun otomatisasi dengan kurasi manusia.
Tugas mereka selain melakukan propaganda, memperkuat pidato kebencian, manipulasi, pengambilan data secara ilegal, memecah belah lawan politik, dan penargetan mikro untuk menggertak dan melecehkan para pembangkang politik dan jurnalis online.
Pasukan dunia maya secara aktif membuat konten seperti meme, video, situs berita palsu atau media yang dimanipulasi untuk menyesatkan pengguna. Terkadang, konten yang dibuat oleh pasukan cyber ditargetkan pada komunitas atau segmen pengguna tertentu.
Dengan menggunakan sumber data online dan offline tentang pengguna, dan membayar untuk iklan di platform media sosial populer, beberapa pasukan cyber menargetkan komunitas tertentu dengan disinformasi atau media yang dimanipulasi.
Bradshaw dan Howard membandingkan perilaku, pengeluaran, alat, dan sumber daya pasukan yang digunakan, membagi kapasitas pasukan cyber di 70 negara dalam 4 kelompok.
(1) Minimal cyber troop teams. Kapasitas pasukan maya yang rendah melibatkan tim kecil yang mungkin aktif selama pemilihan atau referendum tetapi menghentikan kegiatan sampai yang berikutnya.
(2) Low cyber troop capacity. Tim berkapasitas rendah cenderung bereksperimen dengan hanya beberapa strategi, seperti menggunakan bot untuk memperkuat disinformasi. Tim-tim ini beroperasi di dalam negeri, tanpa operasi di luar negeri. Indonesia termasuk dalam kelompok ini,
(3) Medium cyber troop capacity. Melibatkan tim yang memiliki bentuk dan strategi yang jauh lebih konsisten, melibatkan anggota staf penuh waktu yang dipekerjakan sepanjang tahun untuk mengendalikan ruang informasi.
Tim berkapasitas menengah ini sering berkoordinasi dengan berbagai jenis aktor, dan bereksperimen dengan berbagai alat dan strategi untuk manipulasi media sosial. Beberapa tim berkapasitas sedang melakukan operasi pengaruh di luar negeri.
(4) High cyber troop capacity. Melibatkan sejumlah besar staf, dan pengeluaran anggaran besar untuk operasi psikologis atau perang informasi. Mungkin juga ada dana yang signifikan dihabiskan untuk penelitian dan pengembangan, serta bukti banyak teknik yang digunakan.
Tim-tim ini tidak hanya beroperasi selama pemilihan tetapi melibatkan staf penuh waktu yang didedikasikan untuk membentuk ruang informasi.
Tim pasukan cyber berkapasitas tinggi fokus pada operasi asing dan domestik. Tim berkapasitas tinggi meliputi: Cina, Mesir, Iran, Israel, Myanmar, Rusia, Arab Saudi, Suriah, Uni Emirat Arab, Venezuela, Vietnam, dan Amerika Serikat.
(Dimulai pada Pilkada DKI 2012)
Di Indonesia penggunaan pasukan dunia maya ini jejaknya mulai terendus pada Pilkada DKI 2012 saat Jokowi dan Ahok menjadi kandidat.
Inilah awal munculnya buzzer secara terorganisir di Indonesia.
Mereka membentuk Jokowi Ahok Social Media Volunteer (Jasmev) dipimpin oleh Kartika Djoemadi. Figur ini kemudian diangkat menjadi komisaris di PT Danareksa.
Pasukan cyber ini juga terlibat aktif mendukung Jokowi pada Pilpres 2014, dan Pilkada DKI 2017.
Laman berita Inggris The Guardian edisi 23 Juli 2018 pernah menurunkan berita seputar pekerjaan para buzzer Ahok berjudul : I felt disgusted': inside Indonesia's fake Twitter account factories.
Laporan investigasi wartawati Kate Lamb itu menurunkan pengakuan seorang buzzer yang hanya disebut dengan nama Alex.
Dia mengaku mengoperasikan akun-akun palsu. Kebanyakan menggunakan avatar wanita cantik yang dicomot dari internet.
Alex diberi tahu bahwa tugasnya adalah berperang dengan menggunakan berbagai cara, termasuk hoax, dan adu domba.
"Ketika Anda berperang, Anda menggunakan apa pun yang tersedia untuk menyerang lawan," kata Alex. ”Tetapi kadang-kadang saya merasa jijik dengan diri saya sendiri."
Setiap anggota Buzzer ujar Alex, diwajibkan memiliki 5 akun facebook, 5 akun twitter, dan 1 akun Instagram.
Jumlah buzzer ini semakin membesar pada Pilpres 2019. Tugas mereka seperti belakangan banyak disoroti adalah menyebar disinformasi, adu domba, memecah belah publik, menghajar dan mengintimidasi lawan Jokowi.
Pada Pilpres 2019 mereka sukses menyebarkan isu bahwa Prabowo-Sandi didukung oleh kelompok Islam radikal. Bila terpilih Prabowo akan mendirikan khilafah dan menegakkan syariat Islam.
Isu itu kembali mereka hembuskan untuk menggembosi aksi mahasiswa 2019. Namun gagal.
Tempo dalam edisi 28 September menyoroti dengan keras keberadaan para buzzer pemerintah yang disebut sebagai para pendengung.
Dengan judul : SAATNYA MENERTIBKAN BUZZER, Tempo mengingatkan Jokowi harus mengendalikan pendengungnya, yang makin lama makin ngawur. Berpotensi merusak demokrasi.
“Tingkah buzzer pendukung Presiden Joko Widodo makin lama makin membahayakan demokrasi di negeri ini. Berbagai kabar bohong mereka sebarkan dan gaungkan di media sosial untuk mempengaruhi opini dan sikap publik. Para pendengung menjadi bagian dari kepentingan politik jangka pendek: mengamankan kebijakan pemerintah,” tulis Tempo.
Kasus terbaru yang banyak disoroti oleh media adalah ulah buzzer pemerintah yang menuding mobil ambulans milik Pemprov DKI dan PMI menjadi penyuplai batu dan bensin bagi para pengunjukrasa.
Pemerintah termasuk polisi terkesan sangat melindungi mereka. Beberapa orang diantaranya berkali-kali dilaporkan ke polisi. Baik atas dasar pencemaran nama baik, fitnah, maupun kabar bohong. Namun semuanya tidak diproses.
Kasus terbaru adalah Denny Siregar buzzer top pemerintah yang diadukan karena unggahannya soal mobil ambulans penyuplai batu. Namun laporan pengaduan itu ditolak polisi.
Kepala Staf Presiden Moeldoko mengaku sudah pernah bertemu sejumlah figur buzzer yang berpengaruh, dan setuju untuk ditertibkan. Namun dia berkelit sulit mengendalikannya. Mereka tidak dalam satu komando. Tidak dalam satu kendali.
Alasan yang tidak masuk akal. Jelas ada hubungan yang saling membutuhkan antara para buzzer dan penguasa. Hubungan yang saling menguntungkan.
Para buzzer mendapat keuntungan finansial, dan perlindungan. Pemerintah mendapat keuntungan politik. Para buzzer siap menggonggong, menyalak, mengejar, dan menghajar siapapun yang dianggap merugikan penguasa.
Benar seperti dikutip dalam kesimpulan penelitian Bradshow dan Howard. Penggunaan teknologi informasi yang salah, menjadi tantangan dan keprihatinan tersendiri bagi masa depan demokrasi.
Indonesia saat ini memasuki masa-masa yang sangat berbahaya. Dalam era post truth, masyarakat terbelah dalam dua kelompok besar. Tidak ada satupun yang dipercaya, termasuk pemerintah.
Indonesia saat ini menjadi sorga para buzzer, khususnya pendukung penguasa.
Sampai kapan pemerintah akan terus memelihara dan melindungi para buzzer. Membiarkan mereka merusak demokrasi? end

Sumber : FB

Friday, October 4, 2019

Kebesaran Hati Buya HAMKA Terhadap Orang-orang Mendzoliminya

Prof. DR. H. Abdul Malik Karim Amrullah gelar Datuk Indomo, populer dengan nama penanya Hamka adalah seorang ulama dan sastrawan Indonesia. Ia berkiprah sebagai wartawan, penulis, dan pengajar.

Beliau adalah penulis yang terkenal dengan tafsir Al-Azhar, Tenggelamnya Kapal Van der Wijck, dan Di Bawah Lindungan Ka'bah. Admin menemukan artikel dari FB tentang kebesaran hati Buya Hamka terhadap Soekarno yang telah memenjarakannya, Pramoedya Ananta Toer, dan Muhammad Yamin. Berikut kisahnya :

"Presiden Soekarno pernah 'menyerang' ulama besar di masanya, Buya Hamka. Bersama Mohammad Yamin, Soekarno melalui headline beberapa media cetak asuhan Pramoedya Ananta Toer melakukan pembunuhan karakter atas diri Hamka, namun tak sedikit pun fokus Hamka bergeser dalam menegakkan amar ma'ruf nahi mungkar. Sebab terlalu kuatnya karakter Hamka, di tahun 1964, Soekarno tak sungkan-sungkan menjebloskan ulama besar asal Minangkabau ini ke dalam penjara tanpa melewati persidangan.

2 tahun 4 bulan lamanya Hamka dipenjara, apakah lantas ia bersedih, mendendam dan mengutuk-ngutuk betapa jahatnya Soekarno padanya?
Tidak! Hamka justru bersyukur bisa masuk penjara. Di dalam terali besi itu ia punya waktu yang banyak untuk menyelesaikan 30 juz Tafsir Alqur'an yang dikenal dengan Tafsir Al-Azhar.
Lantas, bagaimana dengan ketiga tokoh tadi? Pramoedya, Mohammad Yamin dan Soekarno?
Ternyata Allah masih sayang pada mereka, Pramoedya, Mohammad Yamin dan Soekarno. Kekejian mereka pada Buya Hamka tidak harus diselesaikan di akhirat. Allah mengizinkan masalah ini diselesaikan di dunia.
Di usia senja, Pramoedya mengakui kesalahannya di masa lalu. Ia mengirim putrinya, Astuti dengan calon suaminya, Daniel yang mualaf untuk belajar Islam pada Hamka sebelum mereka menjadi suami istri. Apakah Hamka menolak? Tidak! Justru dengan hati yang sangat lapang Hamka mengajarkan ilmu agama pada anak dan calon menantu Pramoedya tanpa sedikit pun mengungkit-ungkit kekejaman Pramoedya. Astuti, anak perempuan Pramoedya pun menangis haru melihat kebesaran hati ulama besar ini. Hamka juga yang menjadi saksi atas pernikahan anak Pramoedya.
Saat Mohammad Yamin sakit keras, ia meminta orang terdekatnya untuk memanggil Hamka. Dengan segala kerendahan hati dan penyesalannya pada ulama besar ini, Mohammad Yamin meminta maaf atas segala kesalahannya. Dalam kesempatan nafas terakhirnya, tokoh besar Indonesia, Mohammad Yamin pun meninggal dunia dengan ucapan kalimat-kalimat tauhid yang dituntun oleh Hamka.
Begitu juga dengan Soekarno, Hamka justru berterima kasih dengan hadiah penjara yang diberikan padanya karena berhasil menulis buku yang menjadi dasar umat Islam dalam menafsirkan Alqur'an. Tak ada marah, tak ada dendam, ia malah merindukan tokoh besar Indonesia, proklamator bangsa karena telah membuat ujian hidup sang Buya menjadi semakin berliku namun sangat indah. Hamka ingin berterima kasih untuk itu semua. Tanggal 16 Juni 1970, seorang ajudan Soekarno datang ke rumah Hamka membawa secarik kertas bertuliskan pendek;
“Bila aku mati kelak, aku minta kesediaan Hamka untuk menjadi imam shalat jenazahku.”
Hamka langsung bertanya pada sang ajudan, "Di mana? Di mana beliau sekarang?" Dengan pelan dijawab, "Bapak sudah wafat di RSPAD, jenazahnya sedang dibawa ke Wisma Yoso."
Mata sang Buya menjadi sayu dan berkaca-kaca. Rasa rindunya ingin bertemu dengan tokoh besar negeri ini malah berhadapan dengan tubuh yang kaku tanpa bisa berbicara. Hanya keikhlasan dan pemberian maaf yang bisa diberikan Hamka pada Soekarno. Untaian doa yang lembut dan tulus dipanjatkannya saat menjadi Imam Shalat Jenazah Presiden Pertama Indonesia.
*Terima kasih Buya, atas pembelajaran kehidupan dari cerita hidupmu...*
---------------
*(Seri Belajar dari Sejarah)*

Sumber : FB

Thursday, October 3, 2019

Ketua MUI Indramayu lepas Jamaah Umroh Qonita WIsata

Bertempat di Kantor Qonita Wisata Indramayu di Jl. Patrol Desa Patrol Baru KH. Syatori ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Indramayu, melepas keberangkatan 62  orang Tamu-tamu Allah sebagai peserta Jama’ah Umroh Qonita Wisata Indramayu. Kamis (3/10/2019) pagi.

62 orang calon jamaah umroh yang mengikuti pemberangkatan 3 Oktober 2019 yang diadakan oleh Qonita WIsata Indramayu yang beralamat di Jalan Raya Patrol Desa Patrol Baru kec. Patrol – Indramayu. Acara pelepasan jamaah Umroh 3 Oktober ini dihadiri juga oleh Kapolsek Patrol, Ketua MUI Patrol dan tokoh masyarakat Patrol.

Dalam kesempatan itu Ketua MUI Indramayu dalam sambutannya ketika melepas jamaah umroh berpesan”Kiranya mulai saat ini pasang Niat semata-mata apa yang kita akan lakukan semua hanya karena Allah SWT” dan selalu menjaga kesehatan agar beribadah dengan maksimal dan mendapatkan predikat Umroh yang mabrur/Mabruroh”.

Selain itu Ia juga berharap agar para Jamaah hendaknya memperhatikan larangan-larangan yang ada dipelaksanaan Umroh tersebut, karena Umroh ini merupakan pelaksanaan Ibadah Haji kecil, artinya ada saat-saat atau perbuatan yang tidak boleh kita kerjakan, apalagi pada saat berihram”
“Untuk itu bagi Bapak/Ibu yang saat ini diberikan kesempatan oleh Allah SWT untuk berangkat ke Tanah Suci, maka manfaat waktu yang ada selama berada di Tanah Suci, manfaatkan untuk selalu sholat berjamaah, Zikir dan Do’a dan focus untuk beribadah,”  terangnya.

Sebelum mengakhiri Ketua MUI Indramayu juga  juga menyampaikan “mengucapkan selamat jalan para tamu-tamu Allah, semoga selama menjalankan Ibadah Umroh Jamaah selalu dalam lindungan dan selalu diberikan kesehatan Oleh Allah SWT, serta mendapat gelar “Umrohtan Makbulan” umroh yang diterima oleh Alllah SWT”  dan dapat kembali ke Tanah air kembali dalam keadaan selamat serta sehat wal’afiat” tutupnya.

62 orang jamaah umroh tersebut, akan berangkat dari Indramayu menuju Kota Mekkah pada tanggal 3 Oktober  dan kembali ke Tanah Air pada tanggal 11 Oktober 2019.

Qonita Wisata Indramayu dibawah Pimpinan H. Rizqi Amali Rosyadi, S.Psi., M.Ikom, merupakan salah satu Biro Perjalanan Tour Wisata Ibadah Haji dan Umroh yang telah terdaftar baik di Kementerian Agama Pusat, Kantor Wilayah (Kanwil) Depag Jawa Barat maupun di Kementerian Agama Kabupaten Indramayu. Dan telah memberangkatkan ribuan jamaah Umroh dari Kabupaten Indramayu sejak membuka Cabang di Indramayu tiga tahun yang lalu.

Selain itu juga, Pada kesempatan yang sama ada rangkaian minum kopi gratis khas kopi Indramayu dengan merk Wirajuara Kopi, tersedia 500 cup dibagikan kepada jamaah, pengantar dan masyarakat yang hadir pagi tadi.

Bu Megawati Kok Gitu Amat?

Video Ketua Umum PDIP Megawati mengabaikan Ketua Umum Partai Nasdem Surya Paloh viral di media sosial.
Momen tersebut terjadi pada pelantikan anggota DPR RI Periode 2019-2024, Selasa (1/10) di Gedung DPR, Senayan, Jakarta.
Dalam video tersebut Megawati yang mengenakan kebaya merah, berjalan melewati sejumlah undangan di barisan kursi VIP.
Dia tampak semringah dan menebar senyum manis. Hatinya sedang berbunga-bunga. Selain partainya memperoleh kursi terbanyak, putrinya Puan Maharani juga dipastikan terpilih sebagai Ketua DPR RI.
Video yang diambil dari tayangan langsung Kompas TV memperlihatkan Mega menyalami seseorang di barisan depan. Barisan kedua duduk secara berjajar Komandan Kogasma Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono, Plt Ketua DPD Partai Golkar DKI Rizal Mallarangeng, dan Surya Paloh.
Ketiganya langsung berdiri bersiap menyambut. Mega menyalami Rizal, tapi lewat begitu saja di depan Surya Paloh. Dia kemudian menyalami capres terpilih Ma’ruf Amin, dan kemudian menyalami Plt Ketua Umum PPP Soeharso Manoarfa.
Sebenarnya bukan hanya Surya Paloh yang dikacangin oleh Megawati. Agus Harimurti yang duduk di sebelah kiri Rizal lebih dulu berdiri sambil menangkupkan kedua tangan dan membungkuk.
Melihat Rizal disalami Mega, Agus kemudian mencoba menjulurkan tangan untuk bersalaman. Tapi Mega cuek saja. Agus jadi salah tingkah. Namun dia segera menguasai keadaan. Dia kemudian kembali menangkupkan kedua tangannya dan duduk.
Hanya saja dalam frame kamera, wajah Agus tak terlihat. Jadi tidak terlalu mencolok.
Berbeda dengan Surya Paloh. Wajahnya sangat jelas tertangkap kamera. Untungnya sikapnya biasa saja. Dia tidak tampak mencoba menyalami Mega. Ketika Mega lewat didepannya, abai atas kehadirannya, Surya langsung duduk kembali.
Video tersebut langsung viral. Sejumlah media memberitakannya dengan berbagai bumbu menarik. Di media sosial lebih heboh lagi. Umumnya menyayangkan mengapa masalah personal semacam itu harus ditampilkan di depan publik.
Sikap Megawati ini adalah konfirmasi langsung atas rumor dan spekulasi pecah kongsinya partai pendukung Jokowi.
Publik secara visual dapat menyaksikan sendiri, perpecahan partai koalisi pemerintah itu benar adanya. Bukan rumor, apalagi hoax.
Selain itu publik juga jadi ngeh, bahwa hubungan Megawati dengan mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) belum, atau tepatnya tidak akan pulih. Entah sampai kapan. Padahal Hari raya Idul Fitri lalu Agus dan adiknya Eddie Baskoro sempat sowan dan selfi bersama Puan dan Mega.
Surya Paloh kini bernasib sama dengan SBY. Dijothakin, dinengke, ora diaruh-aruhi, kata orang Jawa. Dimusuhi, didiamkan, tidak ditegur dan disapa Megawati.
Entah sampai kapan? Kalau belajar dari kasus SBY, setidaknya sudah berlangsung selama 15 tahun. Dimulai ketika Pilpres 2004.
SBY dianggap berkhianat. Sebagai Menkopolkam pada kabinet Megawati, SBY saat itu mengaku tidak akan maju dalam pilpres bersaing melawan Megawati.
Ternyata SBY berpasangan dengan Jusuf Kalla menantang Megawati dan menang. Sejak itu hubungan keduanya menjadi patah arang. SBY mengaku berkali-kali minta bertemu Megawati, tapi tak ada tanggapan.
Mega benar-benar memutus tali silaturahmi. Selama dua periode SBY menjadi Presiden, Megawati menolak hadir dalam acara-acara penting di istana, termasuk pada peringatan HUT Kemerdekaan RI.
(Pecah Kongsi Koalisi)
Bahasa tubuh (gesture) Megawati itu tidak bisa dianggap sepele. Tidak bisa direduksi hanya menjadi persoalan personal. Apalagi kemudian disederhanakan dengan nada bercanda “Ah perempuan kan biasa ngambekan. Nanti juga akan baik sendiri.”
Megawati adalah penguasa partai pemenang pemilu. Dalam koalisi pemerintahan Jokowi-Ma’ruf, PDIP adalah pemilik saham terbesar. Ditambah status Jokowi sebagai petugas partai PDIP, maka Megawati bisa disebut sebagai penguasa sesungguhnya di negeri ini.
Mood personal, maupun mood politiknya sangat menentukan.
Sikap Megawati kian membuka mata publik, diam-diam ada bara dalam sekam, bahkan bom waktu yang setiap saat bisa meledak di dalam koalisi pemerintah.
Padahal dengan menumpuknya berbagai persoalan yang kini tengah dan akan dihadapi Jokowi, diperlukan soliditas pada timnya.
Andai kata kabinet kompak pun, publik bertanya-tanya: Apakah Jokowi-Ma’ruf bisa menanganinya?
Secara eksternal Jokowi-Ma’ruf menghadapi situasi perekonomian dan keuangan negara yang mengkhawatirkan. Beberapa ekonom memprediksi Indonesia akan kembali mengalami krisis ekonomi pada pertengahan tahun 2020.
Indonesia tengah dibayang-bayangi ancaman disintegrasi akibat pergolakan di Papua.
Tingkat kepercayaan publik terhadap pemerintah anjlok. Harga kebutuhan bahan pokok terus melonjak. Tarif listrik dan BBM terus naik. Kisruh penanganan defisit BPJS. Kedodoran dalam penanganan kebakaran hutan di sejumlah provinsi, dan gelombang aksi unjukrasa mahasiswa dan pelajar di berbagai kota di Indonesia.
Jokowi memerlukan tim yang kuat dan super kompak untuk mengatasi berbagai persoalan yang menghadang.
Kalau diantara para pendukungnya saja sudah tidak kompak, saling curiga, saling ngotot berebut posisi penting dan basah di kabinet. Apa kata dunia!?
Mega-mega biasanya mulai menyingkir, ketika surya mulai bersinar terik. Dalam politik Indonesia, kaidah alam itu ternyata tidak berlaku. end
Sumber : judul, isi diambil semuanya dari akun FB penulis

Wednesday, October 2, 2019

Lora Fadil, Politisi dari Partai Nasionalis (Nasdem) yang Berpoligami

Jagad media sosial dihebohkan photo Lora Fadil anggota DPR RI dari Partai Nasdem bersama 3 istrinya. Ia membawa 3 istrinya dalam acara pelantikan anggota DPR RI kemarin.  Lora Fadil dengan nama aslinya Ach. Fadil Muzakki Syah merupakan anggota DPR dari Dapil III Jatim (Situbondo, Bondowoso, dan Banyuwangi).

Lora Fadil beristri 3 sudah sah secara hukum agama dan Negara. menurutnya semuanya melalui KUA (kantor urusan agama).

Lora Fadil membawa sekaligus 3 istrinya mempunyai tujuan tersendiri. Ia ingin menunjukkan bahwa hubungan poligami tak selamanya berkonotasi negatif. Baginya, poligami dapat menjauhi perselingkuhan dan nikah siri.

Sebagian besar masyarakat Indonesia masih tabu perihal poligami. Apalagi Partai Nasdem dikenal sebagai partai nasionalis. Ternyata ada di partai nasionalis kadernya berpraktekkan poligami.

diolah dari berbagai sumber

IM